CEO Ripple Kritik Langkah Strategy Cari Modal Beli Bitcoin

Strategy telah membeli bitcoin (BTC) dengan memakai saham preferen. Hal itu mendapatkan sorotan dari CEO Ripple Brad Garlinghouse

Diterbitkan 27 Juni 2026, 15:04 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - CEO Ripple, Brad Garlinghouse mengecam Strategy dan pendekatan Chairman Strategy Michael Saylor untuk mendanai pembelian bitcoin (BTC).

“Rekayasa keuangan tidak mendorong nilai jangka panjang. Nilai jangka panjang dari aset digital apapun akan didorong oleh utilitas,” ujar Garlinghouse.

"Tim Michael Saylor tidak fokus pada hal yang benar, dan itu telah merugikan pasar secara keseluruhan,” ia menambahkan.

Mengutip the block, Sabtu, (27/6/2026), komentar Garlinghouse muncul ketika bitcoin kembali diperdagangkan di bawah US$ 60.000 atau Rp 1,07 miliar (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.840) pada Jumat pekan ini.

Di sisi lain, CEO Ripple optimistis terhadap bitcoin. Ripple juga menjadi pendukung utama kripto lainnya yakni XRP.

Rekayasa keuangan yang dirujuk Garlinghouse tampaknya berputar di sekitar metode Strategy dalam mengumpulkan modal untuk mendanai lebih banyak pembelian bitcoin melalui saham preferen. Eksekutif Ripple secara khusus menunjuk pada saham STRC milik Strategy yang diperdagangkan 25% di bawah nilai nominal US$ 100 sebagai contoh strategi yang cacat. Ia menggambarkan penurunan STRC sebagai "dakwaan yang memberatkan" terhadap pendekatan Strategy.

Selama sekitar satu tahun, Strategy telah menerbitkan sekuritas preferen seperti STRC untuk mendanai pembelian bitcoin tambahan. Saham preferen ini membawa kewajiban dividen kumulatif, 11,5% per tahun dalam kasus STRC.

CryptoQuant minggu ini mengatakan Strategy harus menghentikan pembelian BTC dan membangun kembali cadangan kasnya.

Pada Kamis, STRC jatuh ke level terendah sepanjang masa. STRC turun hingga 26% di bawah nilai nominalnya sebesar US$ 100. Saham biasa Strategy, SMSTR-3,54% juga turun ke level terendah sejak Februari 2024 karena bitcoin jatuh ke US$ 58.000. MSTR terus jatuh pada hari Jumat, ditutup sekitar US$ 82, menurut The Block.

 

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

 

Stablecoin Ripple Resmi Dapat Izin Operasi di Jepang

Sebelumnya, perusahaan teknologi blockchain Ripple resmi memperluas kehadiran stablecoin RLUSD ke Jepang setelah memperoleh persetujuan dari regulator keuangan negara tersebut. Langkah ini membuka jalan bagi RLUSD untuk masuk ke salah satu pasar aset kripto dengan regulasi paling ketat di Asia.

Dikutip dari Coindesk, Kamis (25/6/2026), Badan Jasa Keuangan Jepang atau Japan Financial Services Agency (JFSA) memberikan izin kepada RLUSD sebagai instrumen pembayaran elektronik baru berdasarkan Payment Services Act. Kategori tersebut diperuntukkan bagi stablecoin yang diterbitkan di luar Jepang, tetapi telah memenuhi standar regulasi yang berlaku di negara tersebut.

Stablecoin merupakan aset kripto yang dirancang untuk memiliki nilai yang stabil. Dalam hal ini, RLUSD dipatok terhadap dolar Amerika Serikat sehingga nilainya diharapkan tetap mengikuti pergerakan mata uang tersebut.

Di Jepang, RLUSD akan dipasarkan melalui SBI VC Trade, unit bisnis aset digital milik grup keuangan SBI. Stablecoin tersebut akan tersedia bagi nasabah institusi maupun investor ritel melalui platform VCTRADE.

Persetujuan regulator Jepang menjadi pencapaian penting bagi Ripple. Pasalnya, Jepang dikenal memiliki aturan yang sangat ketat terhadap penerbitan dan penggunaan stablecoin, terutama yang berasal dari luar negeri.

 

Ripple Bidik Pasar Institusi, tetapi Masih Tertinggal dari USDT dan USDC

Meski berhasil memasuki pasar Jepang, skala RLUSD masih jauh lebih kecil dibandingkan stablecoin terbesar di dunia. Ripple menyebut kapitalisasi pasar RLUSD telah mencapai sekitar US$ 1,7 miliar sejak diluncurkan pada akhir 2024.

Angka tersebut masih tertinggal dibandingkan Tether (USDT) yang memiliki kapitalisasi pasar sekitar US$ 186 miliar, maupun Circle (USDC) dengan nilai sekitar US$ 74 miliar.

Ekspansi ke Jepang juga menjadi realisasi nota kesepahaman (MoU) yang ditandatangani Ripple dan SBI pada Agustus 2025. Hubungan kedua perusahaan sebenarnya telah terjalin sejak 2016 melalui kerja sama di bidang pembayaran lintas negara dan pengembangan infrastruktur blockchain di Asia.

Dalam pernyataannya, Senior Vice President Stablecoins Ripple, Jack McDonald, mengatakan RLUSD akan memainkan peran penting dalam ekosistem keuangan digital.

"RLUSD akan berfungsi sebagai jembatan untuk pembayaran, tokenisasi, dan pengelolaan agunan (collateral management)," ujar Jack McDonald.

Ripple menegaskan RLUSD merupakan stablecoin yang dikembangkan untuk memenuhi kebutuhan institusi, khususnya dalam penyelesaian transaksi (settlement) dan tokenisasi aset dunia nyata di blockchain. Stablecoin ini juga berbeda dengan XRP, aset kripto yang selama ini paling dikenal sebagai bagian dari ekosistem Ripple.

Masuknya RLUSD ke Jepang menjadi bagian dari strategi Ripple memperluas pasar di Asia, di tengah semakin banyak negara yang mulai menerapkan regulasi resmi terhadap stablecoin.