Riset Iklim AS: Pemanasan Global Tingkatkan Risiko Masalah Kehamilan

Climate Central memperingatkan meningkatnya risiko komplikasi kehamilan akibat paparan suhu tinggi yang terus bertambah akibat perubahan iklim.

Diterbitkan 16 Mei 2025, 21:34 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Washington DC - Gelombang panas ekstrem yang dipicu oleh pemanasan global kini membawa dampak serius terhadap kesehatan ibu hamil di seluruh dunia.

Sebuah laporan terbaru yang dirilis pada Rabu oleh organisasi riset iklim asal AS, Climate Central, memperingatkan meningkatnya risiko komplikasi kehamilan akibat paparan suhu tinggi yang terus bertambah akibat perubahan iklim.

Sebelumnya, sejumlah penelitian telah mengaitkan panas ekstrem selama kehamilan dengan beragam masalah kesehatan, seperti peningkatan risiko kelahiran prematur, bayi lahir mati, cacat lahir, hingga diabetes gestasional, dikutip dari laman ABS CBN, Jumat (16/5/2025).

Laporan baru ini mencoba menghitung seberapa besar peningkatan paparan panas terhadap perempuan hamil sejak tahun 2020, serta sejauh mana perubahan iklim menjadi penyebab utama kondisi tersebut.

Hasilnya cukup mengejutkan: di 222 dari 247 negara dan wilayah yang dianalisis, perubahan iklim disebut telah setidaknya menggandakan jumlah hari-hari dengan risiko panas tinggi bagi ibu hamil dalam lima tahun terakhir.

Yang paling terdampak adalah negara-negara berkembang, terutama yang memiliki akses terbatas terhadap layanan kesehatan. Wilayah seperti Karibia, Amerika Tengah dan Selatan, Asia Tenggara, kepulauan Pasifik, serta Afrika Sub-Sahara mengalami lonjakan signifikan dalam jumlah hari panas berisiko tinggi.

Meski laporan ini hanya menyoroti peningkatan jumlah hari panas, bukan jumlah ibu hamil yang benar-benar terdampak secara langsung, para ahli menilai temuannya tetap sangat penting. Ana Bonell, peneliti dari London School of Hygiene and Tropical Medicine yang fokus pada kesehatan ibu dan panas ekstrem, menyebut laporan ini sebagai “bukti nyata akan meningkatnya risiko paparan terhadap suhu ekstrem.” Ia juga menekankan bahwa kelompok lain yang rentan, seperti lansia, turut menghadapi bahaya serupa.

Namun, meski semakin banyak studi menunjukkan dampak buruk panas terhadap kesehatan manusia, masih banyak hal yang belum diketahui, terutama terkait bagaimana panas ekstrem memengaruhi tubuh secara fisiologis, kata Bonell.

 

Risiko Komplikasi Kehamilan hingga 1,25 Kali Lipat

Salah satu studi besar yang diterbitkan di Nature Medicine tahun 2024 menemukan bahwa gelombang panas dapat meningkatkan risiko komplikasi kehamilan hingga 1,25 kali lipat.

Di tengah tantangan perubahan iklim yang semakin kompleks, para ahli menekankan pentingnya kebijakan lokal yang mampu membantu masyarakat beradaptasi dengan panas ekstrem. Langkah-langkah seperti menanam lebih banyak pohon, mengurangi polusi, menyediakan ruang-ruang sejuk, hingga menyebarluaskan informasi soal risiko kesehatan akibat panas dinilai sangat penting.

Ahli epidemiologi asal Prancis, Lucie Adelaide, dalam pernyataannya yang terkait dengan laporan ini, juga mendorong agar kampanye publik mengenai bahaya gelombang panas turut mencantumkan peringatan khusus bagi ibu hamil — kelompok yang selama ini masih jarang disebut secara eksplisit dalam strategi mitigasi panas.

Laporan ini semakin menegaskan bahwa krisis iklim bukan sekadar isu lingkungan, tetapi juga persoalan kesehatan masyarakat yang mendesak, terutama bagi kelompok paling rentan seperti ibu hamil.