Sukses

Margaret Thatcher, 'Gadis Toko Kelontong' Yang Jadi PM Inggris

Hari itu, 13 Oktober 1925, di sebuah ruangan kecil di atas toko kelontong kecil di Grantham, Lincolnshire, seorang bayi perempuan lahir. Ia tak hanya menjadi anugerah bagi orang tuanya, pasangan Alfred dan Beatrice Roberts, tapi juga untuk Inggris Raya.

Namanya, Margaret Roberts, namun bertahun-tahun kemudian dunia mengenalnya sebagai Margaret Tatcher -- perempuan pertama yang menjadi Perdana Menteri Inggris, yang mengubah peta politik negerinya untuk selama-lamanya.

Dari rumah sederhana itulah, tanpa kamar mandi dan WC dalam, yang tak dialiri air panas, nilai-nilai di balik pandangan politik Margaret Thatcher bisa ditelusuri.

Ketidaknyamanan secara materi menempa Margaret kecil dengan nilai moralitas.  Ayahnya, Alfred yang hanya sebentar mencecap pendidikan formal dan belajar secara otodidak, mengajarkan nilai penting era Victoria: kerja keras. Juga kemandirian, kebijaksanaan, dan menghemat. "Aku nyaris berutang segalanya pada ayahku," kata Margaret tentang ayahnya, dengan penuh rasa hormat.

Sebaliknya, ibunya, Beatrice adalah perempuan pendiam yang mengabdikan hidupnya untuk mengurus rumah tangga. Thatcher amat jarang bercakap-cakap dengan perempuan yang melahirkannya itu.

Saat Alfred menjadi anggota dewa kota setempat, di usia 10 tahun, Margaret ikut membantunya di masa pemilihan. Menjalankan tugas untuk partai Konservatif.

Margaret kecil mengikuti jejak kakaknya, Muriel, bersekolah di sekolah keputrian Kesteven and Grantham. Meski tak gemilang secara akademik, Margaret selalu ada di ranking atas.

Pada 1943, ia berhasil masuk ke Somerville College, Oxford, untuk belajar ilmu kimia. Di universitas, ia bergabung dengan organisasi Conservative Association, hingga menjadi ketuanya.

Sempat bekerja di pabrik plastik dekat Colchester, pada usia 23 tahun ia terpilih menjadi caleg untuk Dartford di tahun 1950 dan 1951. Keduanya gagal. Namun, sebagai calon termuda dari Partai Konservatif, sosoknya menarik banyak perhatian media.

Saat pertemuan politik itulah ia bertemu seorang pria kaya, tinggi, mengendarai Jaguar, dan tinggal di sebuah flat di Chelsea. Pria itu memimpin perusahaan keluarga yang bergerak di bidang pengecatan dan pemasangan wall paper: Denis Thatcher.

Seperti dimuat London Evening Standard, Senin (8/4/2013) pemilihannya gagal, namun tidak untuk kisah cintanya. Margaret, yang saat itu berusia 26 tahun menikah dengan Denis Thatcher, yang 10 tahun lebih tua, pada 13 Desember 1951. Mengubah namanya menjadi Margaret Thatcher. Dua tahun kemudian, ia melahirkan sepasang anak kembar, Carol dan Mark.

"Penjambret Susu"

Setelah memiliki anak kembar dan sempat merintis karir hukum, Margaret Thatcher berhasil merebut kursi parlemen, mewakili Finchley pada pemilihan umum 1959.

Dalam waktu dua tahun ia telah ditunjuk sebagai menteri muda. Ketika Ted Heath memasuki Downing Street pada tahun 1970, Thatcher dipromosikan menjadi Menteri Pendidikan. Termasuk dalam tugasnya adalah memangkas  pengeluaran departemennya.

Salah satu caranya, dengan menarik  susu sekolah gratis untuk anak-anak berusia antara 7 sampai 11. Kebijakan yang tak populis itu menjadikan Thatcher sasaran empuk oposisi, dan tak ketinggalan pers yang menjulukinya "Margaret Thatcher, penjambret susu".

Takdir Perdana Menteri

Saat itu, wacana peluang perempuan sebagai perdana menteri Inggris mengemuka. Namun, Margaret Thatcher menolak ide tersebut. Dalam sebuah wawancara TV dia mengaku tidak percaya bahwa akan ada PM perempuan, setidaknya sepanjang hidupnya.

Namun, garis takdir berkata lain. Pada tahun 1975, Thatcher mengalahkan Heath dalam pemilihan ketua Partai Konservatif. Ia menjadi perempuan pertama yang memimpin partai politik besar di Britania Raya. Kemudian, pada 1979, Thatcher menjadi Perdana Menteri setelah memenangkan pemilu.

Setelah resmi menetap di Downing Street Nomor 10, Thatcher memperkenalkan serangkaian inisiatif politik dan ekonomi untuk membalikkan apa yang ia anggap sebagai kejatuhan  Britania Raya.

Kebijakan ekonominya menekankan deregulasi (terutama di sektor keuangan), pasar buruh yang fleksibel, swastanisasi BUMN, dan mengurangi kekuasaan dan pengaruh serikat dagang. Popularitas Thatcher selama tahun-tahun pertama masa jabatannya menurun karena resesi dan tingkat pengangguran yang tinggi.  

Perbaikan ekonomi dan Perang Falklands 1982 membuat dukungan terhadap Thatcher melesat, sehingga ia terpilih lagi tahun 1983.

Thatcher terpilih kembali untuk ketiga kalinya pada tahun 1987, namun "pajak pemungutan suara"-nya sangat tidak populer. Ia mengundurkan diri sebagai Perdana Menteri dan ketua partai pada November 1990.

Apapun, anak pemilik toko kelontong itu menjadi yang paling lama menjabat sebagai PM Inggris di abad ke-20. Selama 11 tahun.

Bahkan, Perdana Menteri Inggris, David  Cameron menyebut, sebagai perempuan pertama yang  menjabat sebagai PM Inggris, hingga saat ini, Thatcher telah melampaui  banyak halangan dan rintangan.

Dan ia menunjukkan keberanian luar biasa saat memimpin. "Hal yang nyata tentang Margaret Thatcher adalah, ia tak hanya memimpin, tapi juga menyelamatkan negara ini. Dan saya yakin beliau adalah PM terhebat di masa damai."

Thatcher memegang gelar bangsawan seumur hidup sebagai Baroness Thatcher dari Kesteven di County Lincolnshire. Gelar ini memberinya tempat di Majelis Tinggi.

Meski pensiun dari politik, ia tetap sering tampil di depan publik. Sampai kesehatannya yang terus menurun drastis. Ingatannya bahkan berangsur parah dalam beberapa tahun terakhir. Menurut putrinya, Tatcher "Sang Wanita Besi" harus selalu diingatkan bahwa suaminya, Denis sudah lama meninggal dunia.

Pada Senin 8 April 2013, Margaret Thatcher dinyatakan meninggal dunia di usia 87 tahun. Setelah sekian lama berjuang melawan stroke.(Ein)