, Beijing - Pelonggaran protokol COVID-19 di Negeri Tirai Bambu terus terjadi. Pada Senin 12 Desember 2022, China mengumumkan bahwa aplikasi ponsel yang digunakan untuk melacak perjalanan ke daerah-daerah dengan infeksi COVID-19 akan berhenti berfungsi.
Mengutip laporan DW Indonesia, Rabu (14/12/2022), langkah tersebut berpotensi mengurangi kemungkinan orang dipaksa melakukan karantina karena mengunjungi tempat-tempat yang dianggap sebagai hotspot Virus Corona.
Ini juga merupakan bagian dari upaya Beijing untuk menjauh dari strategi nol-COVID yang kontroversial. Strategi itu telah menyebabkan ketidakpuasan publik yang meluas dan bahkan memicu protes di beberapa kota, dengan beberapa demonstran bahkan menyerukan Presiden Xi Jinping untuk mundur.
Advertisement
Aplikasi yang sekarang akan dihentikan hanyalah salah satu dari sejumlah aplikasi pelacakan yang mengatur kehidupan di China selama pandemi. Aplikasi ini pertama kali diluncurkan pada tahun 2020.
Aplikasi tersebut memiliki sistem empat tingkat yang menetapkan warna berbeda, tergantung pada tingkat paparan COVID yang diprediksi pengguna.
Meskipun pemerintah di Beijing menghentikan penggunaannya sekarang, sebagian besar orang di negara tersebut terus menggunakan aplikasi lokal serupa lainnya, yang dikelola oleh otoritas kota dan provinsi.
Pekan lalu, otoritas China mengumumkan diakhirinya lockdown skala besar, dan melonggarkan persyaratan tes untuk mengakses ruang publik dan untuk perjalanan domestik.
Pemerintah juga mengakhiri karantina wajib di fasilitas pusat, memungkinkan mereka yang memiliki gejala ringan untuk memulihkan diri di rumah.
Strategi yang Sempat Dipuji
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4257373/original/020788000_1670749503-20221211-Hadapi_Lonjakan_Kasus_Covid__China_Perbanyak_Fasilitas_ICU-AP__1_.jpg)
Presiden Xi Jinping dan para pemimpin China lainnya telah lama memuji strategi nol-COVID yang dianggap berhasil menjaga penyebaran infeksi dan kematian jauh lebih rendah daripada di negara-negara lain.
Pergantian dari strategi ini sekarang terjadi di tengah lonjakan kasus di negara tersebut. China pada hari Senin 12 Desember mengumumkan sekitar 8.500 kasus baru, menjadikan angka total infeksi COVID naik menjadi 365.312. Angka ini lebih dari dua kali lipat dibandingkan pada 1 Oktober 2022.
Beberapa ahli kesehatan memperingatkan bahwa ada risiko kesehatan yang cukup besar bagi China yang sepenuhnya terbuka, dengan kemanjuran vaksin China yang dipertanyakan, dan tingkat vaksinasi yang rendah di antara populasi lansia.
Tantangan lain adalah rumah sakit yang kekurangan dana dan tidak memiliki kapasitas untuk merawat pasien dalam jumlah besar.
China memiliki kurang dari satu tempat tidur unit perawatan intensif untuk setiap 10.000 orang, kata Jiao Yahui, Direktur Departemen Urusan Medis di Komisi Kesehatan Nasional minggu lalu. Sumber daya kesehatan juga tidak merata, dengan sebagian besar tempat tidur rumah sakit terkonsentrasi di Beijing, Shanghai, dan kota-kota lain di pesisir timur yang makmur.
Menghadapi lonjakan kasus COVID-19, China sudah menyiapkan lebih banyak fasilitas perawatan intensif dan berusaha memperkuat kemampuan rumah sakit untuk menangani kasus yang parah.
Advertisement
China Hentikan Aturan COVID-19 pada Pengemudi Truk hingga Awak Kapal
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4247884/original/029184900_1669982511-China_Longgarkan_Pembatasan_Covid-19__Aktivitas_Bisnis_Kembali_Dibuka-AP__2_.jpg)
Sebelumnya, China pada Sabtu (10/12) mengatakan akan menghentikan aturan tes COVID-19 terhadap para pengemudi truk dan awak kapal yang mengangkut barang-barang di dalam negeri. Langkah itu menghapuskan hambatan utama dari jaringan rantai pasokannya di tengah percepatan pencabutan kebijakan nol-COVID di negara itu.
China pekan ini melakukan perubahan arah secara dramatis untuk membuka kembali perekonomian, dan melonggarkan beberapa bagian penting dari kebijakan COVID-19.
Pergeseran itu disambut oleh publik sekaligus memicu kekhawatiran bahwa infeksi dapat melonjak dan menyebabkan gangguan lebih lanjut.
Kini Beijing mengurangi tes COVID-19 dan memperbolehkan warga yang bergejala ringan atau tak bergejala untuk menjalani karantina di rumah.
Fokus China telah bergeser untuk memastikan persediaan obat-obatan yang memadai dan menopang sistem layanan kesehatan negara, yang menurut para ahli dapat dengan cepat kewalahan.
Tiga tahun setelah virus korona muncul di China tengah, rakyat ingin negara itu mulai menyelaraskan diri dengan seluruh dunia, yang sebagian besar telah membuka diri untuk hidup berdampingan dengan COVID-19.
Setelah protes yang meluas, pihak berwenang mengubah arah, memicu kekhawatiran di negara dengan tingkat vaksinasi yang relatif rendah tersebut.
Pakar Penyakit Menular China: COVID-19 Belum Berakhir
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4044878/original/055318900_1654579765-Kota_Terlarang_di_Beijing_Kembali_Dikunjungi_Wisatawan-AFP__1_.jpg)
Pakar penyakit menular yang menyerang saluran pernapasan atas ternama di China Prof Zhong Nanshan mengingatkan bahwa pandemi COVID-19 belum berakhir, namun menekankan bahwa patogen varian Omicron sudah sangat berkurang.
"Untuk mengevaluasi situasi yang disebabkan oleh Omicron dengan benar, kami tidak dapat sepenuhnya menggunakan metode yang sama dua tahun lalu," kata Zhong saat berbicara pada konferensi akademik nasional tentang penyakit pernapasan, Kamis (8/12) malam.
"Virus menjadi sangat menular, tetapi patogenisitas telah sangat berkurang," ujar dokter spesialis paru-paru yang menemukan virus SARS pada 2003 itu menambahkan.
Ia menganggap Omicron tidak mengerikan karena 99 persen orang yang terinfeksi bisa sembuh dalam jangka waktu tujuh hingga 10 hari.
Penyebaran gelombang kedua Omicron di China, sambung dia, sangat cepat dan risiko gejala sisanya berkurang signifikan dibandingkan dengan varian Delta.
Menurut dia, masalah pasca-pemulihan sebenarnya dipengaruhi oleh kondisi psikologi sosial yang masih perlu dicermati lebih jauh dari perspektif klinis yang ketat.
"Dan kita harus melihatnya secara objektif," kata Zhong sebagaimana diwartakan chinanews.com, dikutip dari Antara, Sabtu (10/12/2022).
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3379594/original/028871300_1613565781-vaksin_palsu.jpg)
Advertisement
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9332312/original/026531200_1787650496-cek_fakta_Abdul_muti_-_bantuan.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5333221/original/001778100_1756612376-petani_milenial_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5564063/original/036332000_1776924981-cek_fakta_-_BSU_2026.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9332053/original/033451400_1787629160-petani_milenial_cek_fakta.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4259384/original/076147400_1670912608-Pelajar_China_Kembali_di_Tengah_Kekhawatiran_Aturan_Perjalanan_Terkait_COVID-19-AP__9_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1409523/original/014973200_1479454255-China.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5111034/original/031563900_1738033947-AP_Photo-Ben_Curtis.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9330802/original/065552700_1787449430-byd_da_han_price-1500x844.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3157653/original/056908700_1592573961-Antri_di_Mall.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9329274/original/007855800_1787233764-5415.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9291986/original/043693400_1783581662-1400x1050_autohomecar__chxpwgpkowmaq6h2advls_lhirq721-800x600.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9331114/original/071147800_1787483788-rob4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5537203/original/005935800_1774413966-AP25294696511877.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4381538/original/055553900_1680507971-Thumbnail_Liputan6.com-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9330265/original/026329600_1787365308-Untitled.jpg)