Sukses

China Sindir Jepang karena Hobi Belanja Senjata

Liputan6.com, Beijing - Republik Rakyat China merasa terganggu dengan aktivitas belanja pertahanan di Jepang. Sindiran pun dilancarkan oleh pihak Tiongkok. 

Dilaporkan VOA Indonesia, Rabu (7/12/2022), Kementerian Luar Negeri China memperingatkan Jepang agar tidak meningkatkan belanja pertahanannya, seraya menyebut langkah tersebut “berbahaya.”

“Anggaran pertahanan Jepang telah meningkat selama 10 tahun berturut-turut,” kata Juru Bicara Mao Ning dalam konferensi pers reguler di Beijing pada Selasa (6/12).

“Jepang juga sering membesar-besarkan ketegangan regional dan mencari terobosan dalam kekuatan militernya sendiri," lanjutnya.

Menurut berbagai laporan pada Senin 5 Desember, PM Jepang Fumio Kishida ingin meningkatkan anggaran pertahanan negara itu, dengan rencana baru yang 1,5 kali lebih banyak daripada rencana anggaran lima tahunannya sekarang ini.

Mengakhiri tanggapannya, Mao menyatakan bahwa Tokyo harus “menghormati kekhawatiran keamanan negara-negara tetangganya di Asia … dan berbuat lebih banyak hal yang kondusif untuk mempertahankan perdamaian dan stabilitas regional.”

Xi Jinping Akan ke Saudi 

Sementara,  Raja Salman mengundang Presiden China Xi Jinping ke Arab Saudi. Undangan ini diberikan di tengah hubungan Arab Saudi dan Amerika Serikat yang renggang karena masalah produksi minyak. 

Berdasarkan laporan Arab News, Selasa (6/12/2022), Raja Salman mengajak Presiden Xi Jinping untuk menghadiri Saudi-Chinese summit yang digelar di Saudi. Acara berlangsung pada 7 hingga 9 Desember 2022. 

Raja Salman dan Pangeran Mohammed bin Salman (MbS) akan memimpin summit tersebut. Tujuan summit itu adalah melihat hubungan antara Gulf Cooperation Council (GCC) dan negara-negara Arab dengan Republik Rakyat China.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Joe Biden Ketemu Xi Jinping di Bali

Sebelumnya dilaporkan, Presiden Amerika Serikat Joe Biden mengungkapkan kesan pertamanya saat bertemu dengan Presiden China Xi Jinping. Dalam pertemuan bilateral tersebut, Biden secara blak-blakan mengungkapkan kesan pertamanya.

“Ia sangat tegas dan sangat berterus terang,” ujar Biden saat menyampaikan pernyataan pers-nya di Grand Hyatt Nusa Dua Bali bersama wartawan Indonesia dan asing, Senin (14/11).

Joe Biden juga mengaku blak-blakan saat berbicara dengan Xi Jinping.

"Kami sangat blak-blakan satu sama lain tentang hal-hal apa saja yang kami tidak setuju atau di mana kami tidak yakin tentang posisi satu sama lain," kata Biden.

"Dan kami setuju akan mengatur dan melakukan mekanisme untuk saling bertemu kembali."

Presiden Amerika Serikat Joe Biden mengaku menghabiskan waktu kurang lebih 3,5 jam saat berbincang dengan Presiden China Xi Jinping saat melakukan pertemuan di Bali, sebelum KTT G20.

Ini adalah kali pertama keduanya bertemu secara tatap muka setelah Biden resmi dilantik sebagai presiden.

"Tidak ada salah paham. Itu kekhawatiran terbesar yang saya miliki. Kesalahpahaman tentang niat atau tindakan di pihak kita," ujar Joe Biden.

"Saya ingin bertanya ke tim saya, berapa lama pertemuan itu berlangsung? Tiga setengah jam. Jadi perbincangan kami tadi mencakup banyak hal."

3 dari 4 halaman

Jabat Tangan dan Tatap Muka Perdana

Presiden Amerika Serikat Joe Biden melakukan pertemuan tatap muka dengan Presiden China Xi Jinping. Jabat tangan pertama keduanya sejak Joe Biden menjadi Presiden AS pun terjalin di Pulau Dewata.

Dikutip dari CNN, Senin (14/11) ini merupakan pertemuan langsung pertama keduanya sejak Biden menjabat sebagai presiden Amerika Serikat.

Pertemuan antara Joe Biden dan Xi Jinping membahas soal konsekuensi jangka panjang dan hubungan bilateral dua negara terpenting di dunia tersebut.

Pembicaraan ini berlangsung di sela-sela KTT G20 di Bali, Indonesia, di mana para pemimpin dunia berkumpul untuk mengatasi masalah-masalah global yang mendesak mulai dari perubahan iklim hingga inflasi dan kenaikan harga pangan, karena dampak dari perang Rusia di Ukraina.

Bagi Biden dan Xi, pembicaraan tersebut merupakan kesempatan langka untuk meningkatkan komunikasi dan membahas hubungan kedua negara di masa depan.

Biden sempat menyinggung bahwa ia ingin mencari apa "benang merah" untuk masing-masing pihak, di tengah meningkatnya ketegangan AS-China dan kebuntuan yang semakin termiliterisasi atas Taiwan.  

4 dari 4 halaman

Ekonomi China Melemah, tapi Ekspor RI Jalan Terus

Beralih ke ekonomi, Deputi Bidang Koordinasi Ekonomi Makro dan Keuangan Kemenko Bidang Perekonomian, Iskandar Simorangkir, melihat perlambatan ekonomi China tidak akan berpengaruh besar terhadap pasokan ekspor RI ke Tiongkok, yang dinilainya sudah terlampau bergantung pada Indonesia untuk komoditas bahan baku.

"Sebenarnya sih enggak begitu. memang sekarang kan ekspor kita tertinggi ke China, impor juga juga paling tinggi di China. Tapi kan kalau kita lihat komoditas, itu kan mereka banyak yang bahan baku berasal dari Indonesia," ujar Iskandar di Jakarta, Selasa (6/12).

Menurut dia, relasi antara pelemahan ekonomi China dan ketergantungannya atas komoditas ekspor RI tidak bisa dilihat secara one on one. Pasalnya, Negeri Tirai Bambu saat ini punya pangsa ekspor tertinggi dengan share 25,7 persen, juga impor sebesar 29,5 persen.

"Tapi kita enggak bisa melihat kalau pertumbuhan ekonomi China melamban otomatis Indonesia ekonominya lamban one on one. Karena mereka membutuhkan bahan baku yang berasal dari Indonesia," imbuhnya.

Iskandar mencontohkan, Indonesia dikenal sebagai negara penghasil komoditas mineral semisal nikel, bauksit hingga cobalt untuk perangkat kendaraan listrik. Di sisi lain, demand atas komponen penunjang electronik vehicle itu pun masih besar.

"Maka walau terjadi penurunan pertumbuhan ekonomi itu enggak langsung besar turunnya. Tadi saya bilang kan 25 persen ekspor ke China. Berarti kalau terjadi perlambatan, kalau kita membaca one on one seolah-olah kan berarti kalau setiap 1 persen, 0,25 persen penurunan," paparnya.

"Tapi enggak gitu, karena mereka butuh bahan baku. Memang akan terjadi penurunan, tetapi penurunannya relatif kecil karena China ketergantungannya bahan baku ke Indonesia sangat besar. Jadi walau pertumbuhan ekonominya melambat, tapi untuk sektor-sektor tertentu kebutuhannya sangat besar dia," ungkapnya.

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS