Sukses

Hasil Audit Terbaru: Separuh Followers Twitter Presiden AS Joe Biden Palsu

Liputan6.com, Jakarta - Audit baru mengungkapkan hampir setengah dari 22,2 juta pengikut akun Twitter Presiden Amerika Serikat Joe Biden adalah palsu. Audit yang dilakukan untuk raksasa media sosial oleh perusahaan perangkat lunak SparkToro itu menemukan bahwa 49,3% pengikut presiden adalah "pengikut palsu," menurut Newsweek.

Dilansir dari laman NY Post, Kamis (19/5/2022), SparkToro telah mendefinisikan "pengikut palsu" sebagai "akun yang tidak dapat dijangkau dan tidak akan melihat tweet akun tersebut (baik karena itu spam, bot, propaganda atau karena mereka tidak lagi aktif di Twitter)."

CEO Tesla Elon Musk, yang mencoba membeli Twitter, telah menyatakan keprihatinannya atas meningkatnya jumlah akun palsu dan mengusulkan tindakan keras terhadap akun palsu. Musk mengaku percaya 20% dari semua akun Twitter adalah palsu dan bersumpah untuk tidak melakukan pembelian raksasa media sosial senilai $44 miliar sampai masalah tersebut diselesaikan.

"Penawaran saya didasarkan pada keakuratan pengajuan SEC Twitter," kata Musk.

"Kemarin, CEO Twitter secara terbuka menolak untuk menunjukkan bukti <5%. Kesepakatan ini tidak dapat bergerak maju sampai dia melakukannya."

CEO Twitter, Parag Agrawal mengatakan, raksasa digital itu menangguhkan lebih dari setengah juta akun spam setiap hari dan mengunci beberapa juta akun yang diduga spam.

SparkToro menggunakan audit yang sama pada Elon Musk dan menemukan bahwa hampir 70,2% dari 93,3 juta pengikut akun Twitter bos Tesla itu ternyata juga palsu.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Elon Musk Tahan Pembelian Selama Ada Akun Palsu

Elon Musk menegaskan klaimnya mengenai jumlah akun palsu dan spam di Twitter. Menurut orang terkaya di dunia ini, jumlah akun palsu dan spam di Twitter bisa lebih dari 20 persen dari total pengguna Twitter.

Terbaru, seperti dikutip dari The Verge, Selasa (17/5/2022), Elon Musk menyebut, kesepakatan pembelian jejaring sosial tidak bisa berlanjut hingga Twitter membuktikan akurasi jumlah akun palsu di platformnya kurang dari 5 persen, seperti diklaim CEO Parag Agrawal.

Sekadar informasi, saat ini Elon Musk tengah dalam proses membeli Twitter. Elon Musk sebelumnya menawar USD 44 miliar (setara Rp 635 triliun) tunai untuk membeli Twitter dan menjadikannya sebagai perusahaan swasta.

Twitter disebut-sebut memiliki jumlah pengguna aktif harian sebesar 226 juta.

"20 persen akun palsu atau spam, sementara 4 kali lipat dari klaim Twitter, bisa jaiuh lebih tinggi," kata Elon Musk dalam cuitan, menanggapi laporan dari Teslarati.

3 dari 4 halaman

Masalah Akun Palsu

Elon Musk melanjutkan, penawarannya terhadap Twitter didasarkan pada akurasi pengajuan SEC oleh Twitter.

Kemarin, CEO Twitter Parag Agrawal sevara terbuka menolak menunjukkan bukti bahwa akun palsu dan spam di platform Twitter berjumlah kurang dari 5 persen.

"Kesepakatan tidak bisa bergerak maju hingga dia --Parag Agrawal-- melakukannya (terbuka dengan angka jumlah akun palsu," kata Elon Musk memberikan tanggapan.

Sebelumnya Elon Musk juga membuat komentar serupa di sebuah konferensi teknologi di Miami, seperti dilaporkan Bloomberg.

4 dari 4 halaman

Elon Musk Duga Jumlah Akun Palsu di Twitter 20 Persen

CEO Tesla ini memperkirakan akun palsu dan bot kemungkinan jumlahnya sekitar 20 persen dari pengguna aktif harian Twitter.

"Saat ini saya diberi tahu, bahwa tidak ada cara lain untuk mengetahui jumlah bot. Seperti, tidak bisa diketahui, layaknya jiwa manusia," tutur Elon.

Ada spekulasi bahwa Elon Musk memakai isu tentang jumlah akun palsu dan bot di Twitter sebagai taktik untuk menegosiasikan harga akuisisi Twitter menjadi lebih rendah dari penawarannya.

Dalam konferensi tersebut, Elon Musk menegaskan hal itu "tidak mungkin" adanya.

Komentar tersebut hanya berselang beberapa hari dari pernyataan Elon Musk yang mengatakan, kesepakatan pembelian Twitter ditunda karena belum pastinya laporan jumlah akun palsu dan spam di platform tersebut. Namun, Elon Musk tetap menegaskan komitmennya untuk mengakuisisi Twitter.

Upaya Elon Musk untuk mengklarifikasi tentang jumlah sebenarnya akun palsu dan bot dilakukan salah satunya dengan menanyakan langsung ke CEO Twitter Parag Agrawal.