Sukses

AS dan UE Hadapi Varian Delta dengan Gencar Vaksinasi COVID-19

, Jakarta - New York Amerika Serikat mewajibkan orang-orang yang beraktivitas di sejumlah ruang publik, seperti restoran dan pusat kebugaran, untuk menunjukkan bukti vaksinasi. Sementara itu, setengah populasi Uni Eropa telah sepenuhnya divaksin.

Virus Corona varian Delta yang sangat menular telah mendorong lonjakan infeksi di seluruh dunia, termasuk di negara-negara yang sebelumnya menyatakan berhasil mengatasi pandemi COVID-19.

Kota New York akan mengharuskan orang-orang yang berada di restoran, pusat kebugaran, dan tempat aktifivas dalam ruangan lainnya, untuk menunjukkan bukti vaksinasi. Wali Kota Bill de Blasio mengumumkan pada Selasa (03/08), New York menjadi kota besar pertama di Amerika Serikat (AS) yang memberlakukan peraturan tersebut.

"Jika Anda divaksinasi … Anda memiliki kuncinya, Anda dapat membuka pintunya. Tetapi jika Anda tidak divaksinasi, sayangnya, Anda tidak akan dapat berpartisipasi dalam banyak hal,” kata de Blasio dalam konferensi pers seperti dikutip dari DW Indonesia, Kamis (5/8/2021).

Wali Kota de Blasio mengatakan izin kesehatan yang disebut "Kunci ke NYC" akan diluncurkan pada 16 Agustus mendatang, diikuti periode transisi sebelum diberlakukan sebulan kemudian. "Sudah waktunya bagi orang-orang untuk melihat vaksinasi secara harfiah diperlukan untuk menjalani kehidupan yang baik dan sehat,” kata de Blasio.

Donor vaksin terbesarPemerintah AS pada Senin (02/08) berhasil memenuhi target Presiden Joe Biden, untuk memberikan setidaknya satu dosis vaksin ke 70% populasi orang dewasa, meski mengalami keterlambatan selama sebulan.

Para pejabat menyalahkan lambatnya pelaksanaan vaksinasi tersebut. "Kasus-kasus kini terkonsentrasi di komunitas dengan tingkat vaksinasi yang lebih rendah,” kata Jeff Zients, Koordinator Satgas COVID-19 Gedung Putih.

Namun, menurut data terbaru, negara bagian AS yang sebelumnya terlambat dalam pemenuhan vaksinasi orang dewasa kini dilaporkan sudah mengejar ketertinggalan itu.

Pemerintah AS juga mengatakan telah mendistribusikan lebih dari 100 juta dosis vaksin COVID-19 ke luar negeri – jumlah yang lebih banyak dari gabungan donasi semua negara lain. Gedung Putih mengatakan, pengumuman itu menandai "permulaan" dari upaya AS untuk membantu memerangi pandemi yang telah merenggut lebih dari 4,2 juta jiwa di seluruh dunia.

 

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 2 halaman

Warga Wuhan Tak Khawatir Varian Delta

China yang sukses menurunkan kasus domestik menjadi hampir nol setelah virus corona pertama kali muncul di Wuhan pada Desember 2019, kini juga melihat rekor baru penularan yang disebabkan varian Delta.

Varian yang menyebar cepat itu telah menyebar ke puluhan kota, setelah infeksi pertama di antara petugas kebersihan bandara di Nanjing memicu rantai kasus di seluruh negeri.

Mao, seorang warga Wuhan berusia 27 tahun, mengatakan kepada AFP,  dia "tidak khawatir” tentang wabah baru karena "Wuhan telah mengumpulkan banyak pengalaman” setelah penguncian yang melelahkan di awal pandemi.

Sebelumnya, pihak berwenang telah membatasi pergerakan jutaan penduduk, memutus jaringan transportasi domestik, dan meluncurkan pengujian massal dalam beberapa hari terakhir.

Vaksinasi di Uni Eropa dan AustraliaUni Eropa sejauh ini telah memvaksinasi penuh lebih dari 50% populasinya. Spanyol menjadi negara pertama di UE yang berhasil memvaksinasi penuh 58,3% populasi, diikuti oleh Italia dengan 54,4%, Prancis dengan 52,9%, dan Jerman dengan 52,2%.

Dengan begitu Uni Eropa sukses melampaui capaian vaksinasi penuh Amerika Serikat – yang tetap pada kisaran 49,7%.

Sementara itu di Australia, hanya 15% dari 25 juta populasi yang telah divaksinasi sepenuhnya. Pihak berwenang mengandalkan pemberlakuan lockdown untuk menghentikan varian Delta yang menginfeksi lebih dari 3.600 orang sejak pertengahan Juni lalu.

Jutaan orang masih berada di bawah pembatasan COVID-19. Maskapai penerbangan Australia, Qantas, akan memberhentikan 2.500 pekerja tanpa pesangon mulai pertengahan Agustus, lantaran aturan penguncian mematikan sektor penerbangan.