Sukses

Komet Raksasa Ditemukan, Ukurannya 1.000 Kali Lebih Besar dari yang Pernah Ada

Liputan6.com, Jakarta - Para astronom telah menemukan komet terbesar yang pernah diketahui. Ukurannya sekitar seribu kali lebih besar daripada yang lain.

Komet Bernardinelli-Bernstein namanya, sebab ditemukan oleh mahasiswa lulusan jurusan fisika dan astronomi Universitas Pennsylvania, Pedro Bernardinelli dan Profesor Gary Bernstein. Komet ini memiliki lebar antara 62 hingga 124 mil (100-200 kilometer). Tim mengumumkan penemuan itu pada Juni 2021, seperti dilansir CNN, Rabu (28/7/2021).

Komet tidak biasa ini akan berjarak paling dekat dengan Matahari pada 2031. Diperlukan teleskop amatir yang amat besar untuk melihatnya.

Komet raksasa yang juga dikenal dengan nama C/2014 UN 271 ini berasal dari pinggiran tata surya dan telah menuju Matahari selama jutaan tahun. Komet ini merupakan komet paling jauh yang ditemukan dalam perjalanan masuknya, yang akan memberi para ilmuwan kesempatan untuk mengamati dan mempelajarinya selama bertahun-tahun yang akan datang.

Komet Bernardinelli-Bernstein ditemukan dalam 6 tahun data yang dikumpulkan oleh Dark Energy Camera, yang terletak di Teleskop 4 meter Víctor M. Blanco di Cerro Tololo Inter-American Observatory di Chili.

Data yang dikumpulkan kamera kemudian dimasukkan ke dalam The Dark Energy Survey, sebuah kolaborasi lebih dari 400 ilmuwan di tujuh negara dan 25 institusi.

Kamera yang juga dikenal sebagai DECam ini juga membantu memetakan 300 juta galaksi di langit malam. Namun, juga menangkap sekilas komet dan objek trans-Neptunian atau benda langit es yang berada di sepanjang pinggiran tata surya, di luar orbit Neptunus.

Bernardinelli dan Bernstein memanfaatkan algoritma National Center for Supercomputing Applications di University of Illinois di Urbana-Champaign untuk mengidentifikasi objek trans-Neptunus itu. Selama mengerjakan pekerjaan mereka, para astronom melacak 32 deteksi ke satu objek.

 

* Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

 

2 dari 3 halaman

Bagaimana Komet Terbentuk

Komet merupakan peninggalan es yang dikeluarkan dari tata surya saat planet-planet raksasa terbentuk dan bermigrasi ke konfigurasi mereka saat ini. Saat mendekati matahari, es pembentuk komet menguap dan menciptakan penampilan khasnya.

Komet berisi inti atau “bola salju kotor” padat di pusatnya. Koma adalah awan gas yang terbentuk di sekitar inti saat komet menguap. Gas dan debu yang menguap didorong ke belakang komet. Alhasil menciptakan dua ekor yang diterangi oleh sinar matahari. Ekor-ekor ini dapat ratusan, bahkan jutaan mil panjangnya.

Gambar objek yang diambil antara tahun 2014 dan 2018 tidak menunjukkan keberadaan ekor komet. Namun, tiga tahun terakhir ini, objek tersebut menumbuhkan ekor, yang secara resmi menjadikannya Komet Bernardinelli-Bernstein.

Pengamatan yang dilakukan menggunakan jaringan teleskop Las Cumbres Observatory di sekeliling Bumi membantu mengkonfirmasi status komet aktif.

"Karena kami adalah tim yang berbasis di seluruh dunia, kebetulan suatu sore hari saya, sementara yang lain tertidur. Gambar pertama komet dikaburkan oleh garis satelit, hati saya seakan jatuh. Tetapi kemudian yang lain cukup jelas dan astaga. Itu dia, pasti titik kabur kecil yang indah, sama sekali tidak mengeriting seperti binatang-binatang tetangganya!” kata Michele Bannister, astronom di University of Canterbury di Selandia Baru, dalam sebuah pernyataan.

Perjalanan komet dimulai lebih dari 3,7 trilliun mil (6 triiun kilometer) dari matahari atau 40.000 unit astronomi. Jarak antara Bumi dan matahari adalah satu satuan astronomi. Sebagai referensi, Pluto berjarak 39 unit astronomi dari matahari.

3 dari 3 halaman

Awan Oort

Komet itu berasal dari objek Awan Oort, sekelompok objek es yang terisolasi yang lebih jauh dari apa pun di tata surya. Para ilmuwan percaya dari sinilah komet berasal, tetapi mereka tidak pernah benar-benar mengamati objek di dalam Awan Oort.

Awan Oort terletak antara 2.000 dan 100.000 unit astronomi dari matahari. Akhirnya, pesawat ruang angkasa NASA seperti Voyager 1 dan 2, serta New Horizons akan mencapai Awan Oort. Tetapi pada saat mereka melakukannya, sumber daya mereka akan mati selama berabad-abad.

Komet Bernardinelli-Bernstein saat ini berjarak sekitar 1,8 miliar mil (3 miliar kilometer) -- kira-kira jarak Uranus dari matahari -- dan pada titik terdekatnya pada tahun 2031, jaraknya hanya sedikit lebih jauh dari jarak Saturnus ke matahari.

"Kami memiliki hak istimewa untuk menemukan mungkin komet terbesar yang pernah dilihat - atau setidaknya lebih besar dari yang telah dipelajari dengan saksama - dan menangkapnya cukup awal bagi orang-orang untuk melihatnya berevolusi saat mendekat dan memanas," kata Bernstein dalam sebuah pernyataan. Komet itu blum mengunjungi planet-planet lebih dari 3 juta tahun.

Kesempatan yang tidak biasa untuk mempelajari komet inbound ini akan memperkenankan para astronom untuk lebih memahami asal usul dan komposisi komet.

Mungkin, komet raksasa ini hanya salah satu dari banyak komet raksasa yang berasal dari Awan Oort

 

Reporter: Ielyfia Prasetio