Sukses

Iran Akan Selenggarakan Pertemuan Antara Afghanistan-Taliban

Liputan6.com, Teheran - Wakil-wakil Afghanistan dan Taliban, Kamis (8/7), melangsungkan pembicaraan tentang kemajuan menuju perdamaian, dan berjanji akan melanjutkan pembicaraan setelah dialog selama dua hari di Teheran.

Pembicaraan itu berlangsung antara delegasi senior Taliban dan wakil dari pemerintahan di Kabul, demikian dikutip dari laman VOA Indonesia, Sabtu (10/7/2021).

Menteri Luar Negeri Iran Javad Zarif menyebut pembicaraan itu sebagai hal yang "substantif." Ia mencuit "ketika pasukan asing meninggalkan Afghanistan, tidak ada hambatan lagi untuk rakyat Afghanistan dari semua aliran politik untuk mementaskan sebuah masa depan yang damai dan makmur untuk generasi berikutnya."

Dalam sebuah pernyataan bersama yang terdiri dari enam poin penting dan disampaikan oleh juru bicara Taliban Mohammad Naeem, kedua pihak sepakat bahwa melanjutkan perang merupakan hal berbahaya untuk negara itu, dan bahwa semua upaya harus dilakukan untuk mencari solusi damai.

Mereka juga mengecam serangan terhadap tempat tinggal penduduk sipil, sekolah, masjid, dan rumah sakit, serta "penghancuran fasilitas publik." Mereka sepakat menuntut pelakunya dihukum.

Kedua pihak juga mengumumkan mereka akan menyelenggarakan pertemuan berikutnya untuk membahas isu-isu lain, seperti "membentuk mekanisme bagi transisi dari perang ke perdamaian abadi, atau sistem Islamis yang disetujui dan bagaimana pencapaiannya."

Waktu dan tempat bagi pertemuan berikutnya tidak diumumkan.

Kementerian Luar Negeri Afghanistan menyambut gembira pertemuan ini dan mengatakan, pihaknya berharap hal ini akan "mengarah pada berakhirnya kekerasan dan awal berlangsungnya perundingan serius guna memastikan perdamaian yang langgeng di seluruh negara."

Delegasi Tabilan dipimpin oleh Sher Mohammad Abbas Stanekzai, deputi pemimpin dari tim perunding Taliban yang berbasis di Doha, Qatar.

 

2 dari 2 halaman

Delegasi Kedua Belah Pihak

Delegasi Afghanistan dipimpin oleh mantan wakil presiden Yunus Qanuni dan beberapa orang dekat Presiden Ashraf Ghani, mantan presiden Hamad Karzai, Marsekal Abdul Rashid Dostum, dan lain-lain.

Michael O’Hanlon dari Brookings Institution di Washington mengatakan, Iran sebagai negara tetangga, ingin menciptakan "stabilitas pada tingkat tertentu" di Afghanistan, khususnya kalau kekacauan mengakibatkan jutaan pengungsi menyebrang ke perbatasannya. Namun, ia ragu pembicaraan ini akan berhasil.

"Saya tidak melihat Taliban berniat untuk berunding, terlepas dari dimana pembicaraan ini diselenggarakan, terlepas dari siapa yang menjadi tuan rumah," katanya.

Ditambahkannya, Taliban kecil kemungkinan akan membuat persetujuan pembagian kekuatan pada sebuah momen dimana mereka akan menang di medan pertempuran.

"Saya rasa Taliban ingin dilihat seakan-akan mereka memberi perdamaian sebuah peluang, tetapi mereka sesungguhnya akan lebih mengandalkan perang," katanya.