Sukses

Studi: Wabah Virus Corona Sudah Ada di Asia Timur 25 Ribu Tahun Lalu

Jakarta - Sebuah penelitian terbaru mendapati bahwa Virus Corona sudah ada di Asia Timur sejak zaman kuno. Virus-virus tersebut bahkan telah menyebabkan wabah penyakit yang besar dan kita telah berjuang melawannya selama ribuan tahun.

Mengutip ABC Australia, Senin (28/6/2021), di tahun 2002 Virus Corona sempat menjadi wabah, dikenal dengan SARS di China, menjangkiti lebih dari 8 ribu orang dan 800 orang meninggal. 

SARS adalah singkatan dari 'severe acute respiratory syndrome', sindrom pernapasan yang sangat akut.

Empat tahun kemudian terjadi sindrom pernapasan Timur Tengah (MERS) yang juga disebabkan oleh Virus Corona dengan jumlah 2.400 kasus dan 850 orang meninggal.

Dan sekarang dunia sedang menghadapi berbagai varian dari SARS-CoV 2, yakni virus yang menyebabkan COVID-19.

Sekelompok ilmuwan Australia dan Amerika Serikat menemukan epidemi Virus Corona pernah terjadi di Asia Timur 25 ribu tahun lalu dan berlangsung selama 20 ribu tahun.

Menurut penelitian mereka yang diterbitkan di jurnal Current Biology pada Jumat 25 Juni, bukti dari adanya epidemi tersebut bisa dilihat dari genome yang dimiliki oleh warga dari kawasan Asia Timur.

"Ini menimbulkan malapetaka di kalangan penduduk di sana dan meninggalkan tanda genetis," kata Kirill Alexandrov, pakar biologi sintetis di Queensland University of Technology (QUT).

Sejarah tercatat di gen kita

Sama seperti pepohonan, gen yang kita miliki bisa menjelaskan apa yang terjadi di masa lalu.

Mutasi random dalam gen kita akan membuat sebagian orang lebih mudah terkena infeksi penyakit atau mengalami tingkat penyakit yang lebih parah dibandingkan yang lainnya.

Sebagai contoh, penelitian baru-baru ini menemukan mereka yang memiliki gen dari Neanderthals sekitar 50 ribu tahun lalu, berisiko mengalami gejala COVID-19 yang lebih parah.

Namun mutasi lain bisa berdampak sebaliknya, bahkan memberikan perlindungan ketika wabah penyakit terjadi.

"Jadi yang terjadi selama beberapa generasi adalah varian gen yang menguntungkan akan semakin berkembang," kata peneliti lainnya, Yassine Souilmi dari University of Adelaide.

"Dan ini akan meningggalkan jejak yang sangat jelas beberapa generasi berikutnya."

Dr Soulimi mengatakan diperlukan waktu sekitar 500 sampai 1.000 tahun hingga tanda tersebut muncul dalam genome warga. Ia dan peneliti lain pun menduga manusia mungkin pernah berhubungan dengan Virus Corona sebelumnya terlihat dari genome mereka sekarang.

Sehingga kemudian mereka mempelajari genome dari ribuan orang di seluruh dunia yang tersimpan dalam bank data Proyek 1.000 Genomes.

Mereka menemukan adanya tanda yang memiliki hubungan Virus Corona dalam genetik orang yang berasal dari Vietnam, China dan Jepang, tapi tidak ditemukan di kalangan orang lainnya.

"Setelah menemukan adanya tanda-tanda tersebut, kami menggunakan berbagai alat untuk bisa melacak kapan perubahan genetik tersebut terjadi," kata Dr Soulimi.

"Penyesuaian itu mulai terjadi sekitar 25 ribu tahun lalu."Berapa lama Virus Corona beredar?Tidak saja bukti bagaimana manusia dengan Virus Corona bersinggungan, namun juga seberapa lama virus tersebut beredar.

Para peneliti menemukan virus ini berhenti melakukan tekanan evolusi terhadap genome sekitar 5 ribu tahun lalu, yang berarti epidemi ini berlangsung selama 20 ribu tahun.

"Kami tidak bisa menjelaskan apakah ini terjadi secara berkala misalnya setiap musim dingin seperti flu, atau adanya virus yang secara berkala melompat dari binatang ke manusia setiap lima atau 10 tahun, seperti yang terjadi dalam 20 tahun terakhir dengan SARS, MERS, dan SARS-CoV-2," papar Dr Souilmi.

Namun menurutnya, kemungkinan adanya satu atau beberapa virus yang berasal dari molekul yang sama.

Hal ini juga didukung oleh penelitian lain yang menunjukkan keluarga virus yang menyebabkan COVID-19.

Terlepas dari itu, yang jelas dari penelitian ini adalah manusia pernah mengalami wabah Virus Corona selama sekitar 20 ribu tahun dalam satu masa dalam sejarah kehidupan kita.

 

2 dari 2 halaman

Melihat ke Belakang untuk Masa Depan

Menemukan adanya wabah Virus Corona di masa lalu bisa memberikan sinyal apa yang harus dilakukan bila ada pandemi di masa depan.

"Informasi ini sangat berguna mengenai bagaimana virus menyebar dan seberapa lama bertahan," kata Dr Souilmi.

Melacak adaptasi genetis yang terjadi bisa membantu peneliti menemukan gen mana yang memainkan peran penting dalam membantu tubuh memerangi penularan.

"Ini bisa membantu usaha mengembangkan obat dan vaksin. Namun dalam waktu bersamaan juga menjelaskan masih akan lebih banyak lagi epidemi yang akan terjadi," kata Dr Souilmi.

Menurut Profesor Alexandrov, kalau saja informasi ini sudah ada sebelum pandemi COVID-19  maka akan sangat membantu untuk menanganinya.

"Kita mungkin akan dalam keadaan lebih baik, sudah ada obat yang tersedia, dan mungkin sudah ada tes awal mengenai vaksin," katanya.

"Kita tidak harus memulai dari nol."

Faktor sosial sekarang lebih penting dari genVicki Jackson pakar statistik genetika dari Institut Penelitian Medis Walter and Eliza Hall di Melbourne sepakat jika menemukan hubungan antara gen dan virus akan membantu kita menanggulangi penyakit baru.

"Penelitian ini akan membantu menemukan obat yang bisa dialihkan untuk mengobati COVID-19 atau penyakit Virus Corona lainnya, yang pasti akan muncul di masa depan," kata  Dr Jackson. 

Tetapi dia menekankan faktor lain, seperti akses terhadap layanan kesehatan dan mengikuti petunjuk kesehatan akan lebih bermanfaaat dibandingkan faktor genetik ketika kita sakit.

"Hal seperti apa yang dilakukan seseorang, riwayat kesehatan, masalah sosial ekonomi akan lebih berpengaruh dalam risiko seseorang jatuh sakit," kata Dr Jackson.

Dr Souilmi mengatakan tidak bisa diketahui seberapa besar faktor genetik berpengaruh pada ketularan penyakit.

Namun ia mengatakan faktor seperti menjaga jarak, penggunaan masker dan pelacakan kasus memang lebih penting.

Meski wabah Virus Corona di zaman purba berlangsung selama 20 ribu tahun, Dr Souilmi  mengatakan hal tersebut tidaklah mengerikan seperti kedengarannya.

"Kita tidak memiliki pengetahuan soal medis ketika itu, tidak ada kebijakan kesehatan publik, vaksin dan respons terkoordinasi untuk menangani epidemi," katanya."Bukti kita bisa mengendalikan virus terjadi saat flu Spanyol serta epidemi Ebola."