Sukses

Giat Demo Damai India, Nenek Muslim Ini Masuk Daftar 100 Orang Paling Berpengaruh

Liputan6.com, New Delhi - Seorang wanita India berusia 82 tahun masuk dalam daftar 100 "Most Influential People of 2020" atau 100 Orang Paling Berpengaruh Tahun 2020 versi majalah Time. Bilkis adalah bagian dari kelompok wanita yang secara damai memprotes undang-undang kewarganegaraan yang kontroversial.

Dilansir BBC, Jumat (25/9/2020), tak hanya Bilkis, Perdana Menteri India, Narendra Modi dan aktor Bollywood Ayushmann Khurana juga masuk dalam daftar tersebut. Daftar tahunan tersebut menampilkan para pionir, pemimpin, dan ikon dari seluruh dunia yang membawa pengaruh.

Profil Time tentang Bilkis, yang sering disebut 'Dadi (bahasa Hindi untuk nenek), ditulis oleh jurnalis dan penulis India, Rana Ayyub yang menggambarkan "suara kaum terpinggirkan".

"Bilkis memberikan harapan dan kekuatan kepada para aktivis dan pemimpin mahasiswa yang dijebloskan ke balik jeruji besi karena membela kebenaran dalam demokrasi yang meluncur ke otoritarianisme dan mengilhami peniru protes damai di seluruh negeri," tulis Ayyub. 

2 dari 4 halaman

#ShaheenBagh dan #Bilkis Tren di Twitter

Segera setelah pengumuman tersebut, tagar #ShaheenBagh, area tempat protes diadakan, dan #Bilkis naik ke puncak tren Twitter karena banyak yang merayakan pencapaiannya.

Pengacara Karuna Nundy juga menulis di Twitter "Reklamasi Konstitusi di Shaheen Bagh. Bilkis adalah salah satu tindakan paling inspiratif tahun ini."

Sutradara Bollywood, Onir juga menggunggah tagar tersebut pada akun pribadi Twitternya, "suara berani dan inspiratif dari Shaheen Bagh,". 

Shaheen Bagh, daerah dengan mayoritas Muslim merupakan tempat berlangsungnya protes damai terhadap Undang-Undang Amandemen Kewarganegaraan (CAA) yang kontroversial yang menjadi sorotan banyak orang India.

3 dari 4 halaman

Protes Dikecam dan Dianggap Penghianat

Banyak petisi telah dilayangkan ke pengadilan oleh partai politik, kelompok muslim dan masyarakat sipil yang berpendapat bahwa undang-undang kewarganegaraan yang baru itu ilegal karena memberikan kewarganegaraan atas dasar agama, yang bertentangan dengan nilai-nilai sekuler India yang diabadikan dalam konstitusi. Wanita muslim dalam jumlah besar ikut memprotes dengan damai, dengan wanita dari agama lainnya yang ikut duduk di samping mereka dalam solidaritas.

Mereka saling membaca pembukaan konstitusi India, berpidato menegaskan kembali kewarganegaraan mereka dan menyanyikan lagu-lagu patriotik. Banyak yang memuji keuletan para pengunjuk rasa, menyebut mereka sangat inspiratif dan sangat berterima kasih atas itu.

Namun protes itu dikecam keras dan menjadi sasaran kampanye pemilihan negara bagian oleh Partai Bharatiya Janata (BJP) yang berkuasa di negara itu. BJP menuduh para pengunjuk rasa sebagai "pengkhianat" terhadap India karena menentang undang-undang tersebut.

 

Reporter: Vitaloca Cindrauli Sitompul

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: