Sukses

850 Ribu Warga Bakal Terdampak Lockdown COVID-19 di Madrid Spanyol

Liputan6.com, Madrid - Beberapa bagian dari ibu kota Spanyol, Madrid, akan dikenakan lockdown untuk mengekang kenaikan kasus COVID-19, karena kasus di seluruh Eropa terus meningkat.

Mulai Senin 20 September 2020, lebih dari 850.000 orang di wilayah Madrid akan menghadapi batasan perjalanan dan jumlah kelompok, demikian seperti dikutip dari BBC, Sabtu (18/9/2020).

Spanyol memiliki jumlah kasus COVID-19 tertinggi di Eropa, dan Madrid kembali menjadi wilayah yang paling parah terkena virus.

Banyak negara di belahan bumi utara bersiap menghadapi gelombang kedua pandemi saat musim dingin mendekat.

Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO telah memperingatkan bahaya saat orang bergerak di dalam ruangan. "Ada banyak pekerjaan yang harus dilakukan untuk menghindari peristiwa amplifikasi, menurunkan penularan epidemi ini, melindungi pembukaan sekolah dan melindungi yang paling rentan di masyarakat kita," kata Dr Mike Ryan, kepala program kedaruratan kesehatan WHO.

Situasi di Eropa

Prancis mencatat jumlah tertinggi kasus harian baru yang dikonfirmasi sejak pandemi dimulai, pada 13.215 - lompatan hampir 3.000 lebih kasus dalam 24 jam. Mereka termasuk Menteri Keuangan Bruno Le Maire, yang mengatakan dia dites positif tetapi tidak menunjukkan gejala. Beberapa kota, termasuk Marseille dan Nice, memberlakukan pembatasan yang lebih ketat.

Inggris mencatat 4.322 kasus baru dan 27 kematian pada Jumat 17 September 2020 --jumlah kasus tertinggi sejak 8 Mei, dan Perdana Menteri Boris Johnson memperingatkan gelombang kedua sekarang "tak terelakkan". Sebagian besar bagian utara Inggris sekarang menjadi sasaran tindakan lockdown COVID-19 yang besar.

2 dari 3 halaman

Situasi di Madrid dan Spanyol

Spanyol sekarang memiliki 625.651 kasus, menurut Universitas Johns Hopkins, dan tingkat infeksi di wilayah Madrid lebih dari dua kali lipat rata-rata nasional, kata pemerintah Spanyol.

Mulai Senin 20 September, 37 distrik kesehatan yang paling parah terkena dampak di wilayah itu akan dikenakan pembatasan kuncian.

Penduduk hanya akan dapat meninggalkan zona mereka untuk pergi bekerja, sekolah atau mencari perawatan medis. Pertemuan sosial di dalam zona mereka akan dibatasi hingga enam, taman umum akan ditutup dan bisnis komersial harus ditutup pada pukul 22:00.

"Ada 37 area dasar di mana insidennya sangat tinggi, lebih dari 1.000 untuk setiap 100.000 orang dalam 14 hari terakhir," kata kepala pemerintah daerah Madrid Isabel Diaz Ayuso.

"Daerah-daerah ini memiliki kepadatan penduduk dan konektivitas yang sangat tinggi. Kami membutuhkan di atas semua tindakan untuk memastikan bahwa karantina dipatuhi."

Daerah yang terkena dampak berada di beberapa distrik yang lebih miskin di Madrid dan, Reuters melaporkan, penduduk di sana merasa ditinggalkan, terstigma dan takut bahwa pembatasan baru akan menghilangkan pendapatan mereka.

Seorang pensiunan di Vallecas, distrik selatan dengan pendapatan rata-rata lebih rendah, populasi imigran lebih tinggi dan salah satu tingkat infeksi tertinggi di Madrid, mengatakan kepada Reuters bahwa sistem kesehatan lumpuh di sana.

"Mereka menyuruh kita di luar sini menunggu, penuh sesak, antrean di mana-mana," kata Mari Paz Gonzalez. "Kami ditinggalkan ... Mereka meninggalkan kami di tangan Tuhan."

Seperlima dari tempat tidur di rumah sakit setempat dilaporkan digunakan oleh pasien Covid-19.Spanyol termasuk di antara negara-negara Eropa yang terkena dampak terparah pada gelombang pertama infeksi, dan telah kehilangan lebih dari 30.000 nyawa.

3 dari 3 halaman

Simak video pilihan berikut: