Sukses

Donald Trump Sebut ISIS Bakal Tetap Ada Jika Joe Biden Berkuasa di AS

Liputan6.com, Jakarta Pilpres AS akan dilaksanakan kurang dari dua bulan lagi. Calon petahana Presiden Donald Trump semakin intens pamer prestasi sekaligus menyerang capres Joe Biden dari partai oposisi.

Presiden Trump lantas mengungkit kesalahan Joe Biden yang mendukung Perang Irak. Biden juga dituding menentang misi untuk memburu Osama bin Laden dan Qasem Soleimani.

Selain itu, Donald Trump mengkritik Joe Biden yang pernah senang ketika melihat pertumbuhan China sebagai hal positif bagi dunia. Rezim Trump terkenal karena perang dagang melawan China.

"Dia menentang misi untuk menyingkirkan Osama bin Lande, ia menolak memunuh Soleimani, ia menyaksikan kebangkitan ISIS, dan ia bersorak pada kebangkitan China yang ia anggap 'perkembangan positif' bagi Amerika dan Dunia," ujar Trump via Twitter seperti dikutip Jumat (18/9/2020).

"Jika yang mengambil keputusan Joe, maka bin Laden dan Soleimani akan tetap hidup, ISIS akan tetap berkecamuk, dan China akan menjadi kekuatan dominan di dunia, bukan Amerika," lanjut Trump.

Pada 2011 Joe Biden ketika menjadi wapres memang sempat meminta Barack Obama agar jangan memburu Osama bin Laden. Alasannya, Biden meminta Obama memperdalam informasi dahulu sebelum menyerang Osama bin Laden di Pakistan.

Pilpres AS tahun ini akan terlaksana pada Selasa 3 November 2020. Debat capres pertama antara Donald Trump dan Joe Biden akan berlangsung pada 30 September 2020 di Cleveland, Ohio. 

 

2 dari 4 halaman

Hasil Survei Donald Trump Ungguli Joe Biden soal Penanganan Ekonomi AS

Hasil jajak pendapat terbaru Presiden AS Donald Trump dilaporkan unggul di atas kandidat Partai Demokrat, Joe Biden.

Hal itu terkait dengan pendapat para pemilih tentang siapa yang paling cocok untuk menangani ekonomi AS yang bermasalah. 

Sementara itu, Biden memimpin enam atau tujuh poin di atas Trump dalam jajak pendapat publik nasional.

Dilansir VOA Indonesia, jajak pendapat CNN pada pertengahan Agustus 2020, menunjukkan bahwa 53 persen pemilih percaya pada Trump, sementara Biden hanya memperoleh 45 persen dalam survei pemilih.

Tetapi dalam dua pekan selanjutnya, jajak pendapat yang sama mendapati Trump yang unggul tipis 49 persen hingga 48 persen.

Hal serupa ditunjukkan dalam jajak pendapat lain. 

Jajak pendapat CBS News dan Quinnipiac pada awal September 2020 menunjukkan bahwa Trump dan Biden mendekati secara virtual dalam keyakinan pemilih tentang kandidat yang akan lebih baik menangani ekonomi.

Menurut para analis, tidak ada alasan yang jelas terkait perubahan itu. Namun, beberapa kemungkinan dikaitkan dengan sikap Biden yang jauh lebih agresif menantang presiden dalam menangani dampak ekonomi di AS akibat pandemi Virus Corona COVID-19.

3 dari 4 halaman

Tingkat Pengangguran

Sementara itu, Trump sesumbar dengan 8,4 persen tingkat pengangguran pada Agustus lalu yang dinilai "jauh lebih baik dari perkiraan" lalu turun dari 14,7 persen pada bulan April dan 10,2 persen pada Juli 2020. Namun, kesulitan ekonomi yang bersejarah tetap terjadi di AS, dengan sekitar 14 juta warga kehilangan pekerjaan mereka. 

Calon Presiden dari Partai Republik AS tersebut, dalam pidato kampanye dan pesan bertuliskan huruf kapital, berturut-turut menghubungkan Biden dengan kebijakan politik paling radikal dari sayap kiri, dengan mengklaim bahwa kepemimpinan Biden akan membuat AS berada dalam "sosialisme" dan akan merusak perekonomian.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: