Sukses

Donald Trump Setop Anggaran WHO Rp 7,8 Triliun

Liputan6.com, Jakarta Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menyetop anggaran kontribusi terhadap World Health Organization (WHO). Alasannya adalah WHO dianggap melakukan kesalahan dalam mengantisipasi Virus Corona (COVID-19). 

Selain itu, Presiden Trump berkata WHO menutup-nutupi terkait virus ini.

"Hari ini saya menginstruksikan pemerintahan saya untuk menahan pendanaan WHO selagi meninjau peran WHO dalam buruknya mismanajemen dan menutupi penyebaran Virus Corona COVID-19. Semua orang tahu apa yang terjadi di sana," ujar Donald Trump pada konferensi pers di Gedung Putih seperti dikutip Selasa (15/4/2020).

Presiden Trump sempat menyebut WHO lebih China-sentris, sehingga merugikan dunia, dan notabene AS yang merupakan kontributor terbesar. Ia berkata anggaran ke WHO dari pajak AS tiap tahun bisa sebesar US$ 400 juta hingga US$ 500 juta (Rp 6,2 triliun - Rp 7,8 triliun).

Sementara, sumbangan China tak sampai US$ 40 juta (Rp 625 miliar).

Jika melihat data dari situs resmi WHO, kontribusi keuangan China ke WHO memang tinggi, yakni US$ 37,8 juta untuk periode 2018-2019. Nominal itu lebih besar dari gabungan kontribusi Inggris, Australia, dan India kepada WHO pada periode

Kontribusi China masih kalah dari Amerika Serikat yang mencapai US$ 118,4 juta. Namun, kontribusi tersebut adalah assessed contribution yang bersifat wajib dan belum termasuk sumbangan sukarela ke WHO.

China memang kerap memakai pernyataan WHO ketika melobi negara lain supaya tidak melarang perjalanan dari China akibat Virus Corona. Presiden Trump mengaku sempat mengeluh mendapat tekanan dari China agar tak melarang penerbangan, namun ia memilih tetap melakukannya.

(US$ 1 = Rp 15.369)

2 dari 3 halaman

Taiwan Menyambut Positif

Taiwan mengirimkan sinyal positif terhadap kritikan pada WHO. Di iklan New York Times, Taiwan menerbitkan iklan sindiran bahwa negaranya siap membantu ketimbang WHO. 

"WHO can help? Taiwan." (Siapa yang bisa membantu? Taiwan), tulis iklan singkat itu.

Pada awal Februari lalu, pemimpin perwakilan Taiwan di Indonesia, John Chen, berkata China memberikan banyak kontribusi finansial kepada WHO. Hal itu dinilai mempengaruhi pernyataan-pernyataan WHO.

WHO sempat memuji China atas transparansi data dan menyebut travel ban tidak perlu. Kini, pernyataan WHO kena kritik otoritas kesehatan dan badan intelijen AS karena China diduga tidak transparan dalam menyajikan data. 

Dr. Deborah Birx yang menjadi Koordinator Respons Virus Corona di AS berkata data China yang diduga tidak lengkap membuat para pakar kesehatan tidak terlalu memandang serius virus tersebut. Namun, kini Virus Corona sudah menjadi pandemi dunia.

 

 

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan Berikut Ini: