Sukses

Dampak Penutupan Sekolah di Jepang Akibat Virus Corona, Dilema dan Kewalahan Ibu

Liputan6.com, Tokyo - Keiko Kobayashi, seorang ibu yang membawa putranya berusia 7 tahun ke kantornya di Tokyo pada hari Senin setelah sekolahnya, seperti kebanyakan sekolah lain di Jepang, tiba-tiba ditutup selama empat minggu dalam upaya pemerintah untuk memperlambat penyebaran Virus Corona. Dia menjadi salah satu yang beruntung karena perusahaannya setuju untuk membiarkan mereka membawa anaknya ke kantor. 

"Saya terkejut dengan berita penutupan sekolah, dan berpikir, apa yang harus saya lakukan?" kata Kobayashi, seorang manajer senior di penyedia layanan kepegawaian multinasional. "Tidak ada penjelasan tentang bagaimana ini akan bekerja."

Di negara di mana pengasuh anak tidak populer digunakan, kebijakan ini kemudian membuat para ibu kebingungan dan terpaksa membatasi jam kerja mereka. Situasi ini bahkan lebih sulit bagi orangtua tunggal dan mereka yang memiliki anak-anak difabel. Demikian seperti dikutip dari AP, Selasa (3/3/2020). 

Perdana Menteri Shinzo Abe mengumumkan rencana itu pada Kamis lalu, memutuskan menutup sekolah-sekolah di seluruh Jepang mulai Senin hingga akhir bulan. Dia mengatakan periode mendatang sangat penting dalam menentukan apakah Jepang dapat mengendalikan wabah Virus Corona yang terjadi saat ini.  

Penutupan sekolah ini terjadi mendekati akhir tahun akademik Jepang, menyisakan sedikit atau tidak ada waktu untuk ujian akhir dan upacara kelulusan bagi 12,7 juta siswa di negara itu.

2 dari 4 halaman

Pilihan Menitipkan Anak

Kobayashi mengatakan dia masih mengeksplorasi berbagai pilihan, termasuk mengirim putranya ke pusat penitipan anak umum selama ia bekerja atau lebih sering mencoba bekerja dari rumah.

"Tetapi jika saya bekerja dari rumah, ada banyak godaan yang tidak diinginkan ketika saya seharusnya bekerja," katanya. “Menciptakan lingkungan di mana dia dapat berkonsentrasi pada studinya akan menjadi tantangan.”

Abe mengecualikan pusat penitipan anak dan pusat kegiatan sampingan dari penutupan sekolah untuk membantu orang tua dengan anak-anak prasekolah atau orang lain yang tidak bisa pulang kerja lebih awa.

"Jujur, saya ragu apakah penutupan sekolah bisa efektif," kata Sachiko Aoki, teman sekantor Kobayashi. Dia mengatakan bahwa dia enggan mengirim anaknya ke fasilitas penitipan anak karena ada kemungkinan terdapat virus di sana. 

Para kritikus juga mencatat bahwa anak-anak tampaknya jauh lebih kecil berpotensi terinfeksi virus, dan mengatakan bahwa pemerintah seharusnya berfokus pada orang tua dan orang yang rentan terhadap penyakit.

3 dari 4 halaman

Tantangan Sulit

Mika Nakajima, seorang karyawan museum dan ibu tunggal dengan seorang putra autis berusia 15 tahun yang peka terhadap kebisingan dan orang-orang di sekitarnya, mengatakan ia telah menghabiskan hari libur berbayarnya untuk merawat orang tuanya yang sudah lanjut usia dan putranya akhir-akhir ini. Bahkan ia mengaku hampir kehilangan pekerjaannya.

Pada usia 47, Nakajima mengatakan dia tidak memiliki harapan untuk menemukan pekerjaan penuh waktu lainnya jika dia dipecat.

"Jadi saya putus asa, saya benar-benar tidak bisa kehilangan pekerjaan ini," katanya.

"Ini adalah masa yang sulit bagi keluarga dengan anak-anak biasa, tetapi jauh lebih sulit bagi mereka yang memiliki anak-anak cacat atau yang membutuhkan perhatian dan perawatan," kata Nakajima. "Beberapa bentuk dukungan lain diperlukan."

Kozue, ibu dari seorang anak perempuan kelas dua, mengatakan dia lebih takut kehilangan pekerjaan daripada virus. Seorang pekerja kontrak di sebuah perusahaan besar, dia bisa mendapatkan cuti tetapi tanpa bayaran. Atasannya setuju untuk mengizinkannya bekerja dari rumah sampai akhir minggu depan, tetapi setelah itu, dia mungkin harus mengirim putrinya untuk tinggal bersama orang tuanya di Nagano di Jepang tengah, katanya.

Pekerja kantor lainnya, Megumi Aoki mengatakan dia telah bekerja dari rumah dua hari seminggu tetapi sekaligus harus mencari seseorang untuk mengasuh dua anaknya yang masih berada di bangku sekolah dasar selama sisa minggu ini, atau mengambil hari libur tanpa upah. Dia mengatakan itu menjadi suatu pilihan karena suaminya memiliki cukup pendapatan untuk menghidupi keluarga, tetapi itu akan menjadi kemunduran bagi kariernya.

"Saya pikir langkah itu dibuat karena asumsi bahwa seseorang, kemungkinan besar ibu, ada di rumah untuk merawat anak-anak, dan kami menjadi sasaran empuk," katanya.

4 dari 4 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini: