Sukses

Terkuaknya Misteri Jumlah Air di Jupiter Melalui Misi Satelit Antariksa Juno

Liputan6.com, Jakarta - Para ilmuwan sangat ingin mempelajari lebih lanjut tentang kelimpahan air di atmosfer Jupiter, dan satelit antariksa Juno akhirnya memberikan beberapa jawaban terkait hal itu.

Ketika misi Galileo NASA mengunjungi Jupiter pada 1990-an, data pesawat ruang angkasa itu diharapkan dapat memecahkan teka-teki bagi para ilmuwan terkait berapa banyak air yang ada di atmosfer Jupiter.

Hal menariknya adalah Galileo mendeteksi bahwa jumlah air di atmosfer meningkat saat kondisinya menurun. Namun, para ilmuwan kecewa ketika data mencerminkan air sepuluh kali lebih sedikit dari yang diperkirakan.

Dilansir dari CNN, Jumat (21/2/2020), untuk lebih jelasnya lagi, air yang dimaksud tidak selalu berarti air cair, melainkan komponen hidrogen dan oksigennya. Dengan memahami jumlah air di Jupiter, kita dapat mengetahui informasi lebih lanjut tentang masa lalu raksasa gas itu.

Pihak penelitian memperingatkan bahwa temuan ini mungkin tidak mengindikasikan kelimpahan air di seluruh Jupiter.

Misi Juno NASA yang diluncurkan pada 2011 dan mulai melakukan penelitian ilmiah planet ini pada 2016. Menurut sebuah studi baru, para ilmuwan telah menggunakan data dari delapan pendekatan pertama untuk menentukan jumlah air di atmosfer Jupiter di khatulistiwa.

Seperti yang dituliskan dalam penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Nature Astronomy, misi Juno sebagian dimotivasi oleh kebutuhan untuk menentukan kelimpahan air di berbagai lokasi di seluruh planet ini.

Planet terbesar di tata surya kita kemungkinan pertamanya juga terbentuk setelah matahari. Teori pembentukan planet menunjukkan bahwa Jupiter menerima sebagian besar sisa gas dan debu dari bintang.

Para ilmuwan ingin tahu berapa banyak air yang ada dalam proses ini. Terkait hal itu, Jupiter menggambarkan proses yang mencakup air dan kelembaban, seperti pola cuacanya dan bahkan kilatnya.

2 dari 3 halaman

Hasil Penemuan Jumlah Air

Para ilmuwan percaya bahwa ada tiga lapisan awan berbeda di atmosfer tebal Jupiter berdasarkan perhitungan termodinamika. Lapisan tersebut seperti awan es amonia, awan es amonium hidrosulfida, dan awan yang terdiri dari tetesan air juga es.

Data satelit pemantau planet (probe) Galileo 1995 diambil dari "hotspot" di perbatasan antara garis khatulistiwa dan sabuk khatulistiwa utara, dikumpulkan selama misi pendekatan Juno. Hal itu menunjukkan bahwa air membentuk 0,25 persen molekul pada atmosfer Jupiter di khatulistiwa.

Juno dilengkapi dengan Radiometer Microwave, karena menurut NASA daripada turun melalui atmosfer Jupiter. Juno menggunakan alat ini untuk mempelajarinya dari atas melalui enam antena yang mengumpulkan data suhu di berbagai kedalaman.

Ilmuwan Juno di Universitas California, Berkeley Cheng Li mengatakan, "Kami menemukan air di ekuator lebih besar dari apa yang diukur Galileo.” Dikarenakan di Jupiter wilayah khatulistiwanya sangata unik, para ilmuwan perlu membandingkan hasil ini dengan berapa banyak air di wilayah lain.

"Tepat ketika kita berpikir kita sudah menemukan beberapa hal, Jupiter mengingatkan kita betapa banyak yang masih harus kita pelajari," kata Scott Bolton, peneliti utama Juno di Southwest Research Institute di San Antonio.

Ia mengatakan bahwa penemuan mengejutkan Juno karena atmosfernya tidak tercampur dengan baik bahkan di bawah puncak awan, sebagai teka-teki yang masih harus dicari tahu. 

Di masa yang akan datang, tim ilmuwan berharap untuk mempelajari bagaimana kadar air dapat bervariasi di berbagai wilayah dan bagaimana kutub dapat mencerminkan wawasan yang lebih luas.

"Setiap jalur yang dilalui oleh pesawat ruang angkasa adalah peristiwa untuk (melakukan) penemuan," kata Bolton. Dengan Jupiter, selalu ada sesuatu yang baru dan dari misi Juno kita mendapatkan pelajaran penting, yaitu kita harus dekat dengan planet jika ingin menguji sebuah teori.

 

Reporter: Jihan Fairuzzia 

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Loading