Sukses

AS Ingin Menjalin Hubungan Baik dengan Ukraina

Liputan6.com, Ukraina - Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo, tiba di Kiev pada Kamis 30 Januari 2020 di tengah pertempuran Washington atas pemakzulan Donald Trump dan dugaan pernyataan yang menuai sorotan terhadap seorang wartawan NPR terkait “Apakah Anda pikir orang Amerika peduli dengan Ukraina?”

Dilansir The Guardian, Jumat (31/1/2020), Pompeo dijadwalkan untuk bertemu Presiden Volodymyr Zelenskiy pada Jumat ini. Ia sedang berusaha untuk melakukan hubungan positif antara kedua negara di saat yang penting yakni dalam sidang pemakzulan Donald Trump di Senat.

Dalam kunjungan pertama Pompeo ke Ukraina, menurut seorang juru bicara, lawatan ini penting untuk “menyoroti dukungan AS untuk kedaulatan dan integritas wilayah Ukraina.”

Dukungan itu dipertanyakan karena kedekatan antara Trump dan Vladimir Putin serta tuduhan bahwa ia pernah menunda $ 392 juta dalam bantuan militer ke Ukraina, untuk menekan Zelenskiy agar mengumumkan penyelidikan terhadap kasus keluarga Biden.

Sementara itu, Zelenskiy akan mencari komitmen untuk bantuan diplomatik dan militer dalam konflik negaranya dengan Rusia yang telah menewaskan lebih dari 14.000 orang di Ukraina tenggara.

Ia juga akan meminta undangan ke White House, dan memeriksa laporan Pompeo yang dikatakan palsu, kata analis politik berbasis Kyiv Volodymyr Fesenko. Hal ini dilakukan karena kebutuhan Ukraina akan dukungan AS sangat penting.

2 dari 4 halaman

Membutuhkan Hubungan yang Erat dengan AS

“Ukraina membutuhkan hubungan kemitraan yang erat dengan Amerika Serikat,” kata Fesenko.

Tetapi Zelenskiy kemungkinan akan menolak segala upaya yang membuatnya terbebani pada sidang pemakzulan. Fesenko menambahkan, AS sedang mempersiapkan pemilihan 2020 dan Zelenskiy memahami bahwa Trump “hanya salah satu kandidat.”

Diskusi Pompeo di Kyiv ini kemungkinan akan mencakup hubungan bilateral dan konflik Ukraina dengan Rusia, politik gas, dan sanksi AS terhadap pipa Nord Stream 2, serta kemungkinan peluang investasi dan kemajuan reformasi di Ukraina. Pompeo juga dijadwalkan untuk bertemu dengan menteri luar negeri dan pertahanan Ukraina, serta perwakilan dari komunitas agama, masyarakat sipil, dan bisnis Ukraina.

Perjalanan itu adalah perjalanan pertama dari tur empat negara melalui negara bekas Uni Soviet yang juga akan membawanya ke Belarus, Kazakhstan, dan Uzbekistan. Tapi di Kyiv inilah di mana fokus paling kuat oleh Pompeo dan upayanya untuk memperbaiki kerusakan yang dilakukan selama dua tahun terakhir.

Mantan pejabat mengatakan skandal itu telah melemahkan jajaran ahli senior Ukraina di pemerintah AS dan mengurangi minat AS dalam melakukan pembicaraan damai mengenai perang di Ukraina tenggara. Sampai saat ini, Trump masih belum mencalonkan seorang duta besar untuk Kyiv dan Pompeo telah menghadapi kritik karena gagal mendukung mantan duta besar AS, Maria Yovanovitch, terhadap pendukung politik Trump, termasuk Rudy Giuliani.

3 dari 4 halaman

Menyalahkan “Politik Partisan”

Dalam sebuah laporan yang diterbitkan dalam Kebijakan Luar Negeri, Kurt Volker yakni mantan utusan khusus Trump ke Ukraina, menyalahkan “politik partisan” dan proses pendakwaan untuk meninggalkan Zelenskiy secara terbuka.

Dia meminta Pompeo untuk mengusulkan kunjungan kenegaraan bagi Zelenskiy ke White House, setelah sebelumnya ia digantung oleh pemerintahan Trump, untuk menunjuk seorang duta besar baru dan menunjuk orang lain untuk melakukan negosiasi Ukraina di masa depan, dan untuk membantu mengisi kembali keahlian yang hilang di tahun lalu.

“Politik partisan, dan khususnya proses sidang pemakzulan, menyebabkan sebagian besar pejabat berurusan dengan keahlian di Ukraina baik untuk meninggalkan pemerintah atau untuk menghindari jebakan.” tulisnya.

 

 

Reporter: Deslita Krissanta Sibuea

4 dari 4 halaman

Saksikan video pilihan di bawah ini: