Liputan6.com, Den Haag: Kabar seputar rencana TNI membeli tank Leopard dari Belanda ramai dibicarakan media sejak awal tahun lalu. Baru-baru ini, dua media Belanda, Mediawatch dan harian De Volkskrant kembali menyorot keputusan kabinet demisioner yang setuju menjual tank bekas jenis Leopard ke Indonesia.
Demikian menurut beberapa sumber dari kalangan pemerintah Belanda pada harian De Volkskrant, yang juga menjadi rujukan Mediawatch, Selasa (8/5) waktu setempat. Menurut Mediawatch, kabinet Belanda pada awalnya tidak mendukung transaksi ini. Tetapi atas desakan Menteri Pertahanan Hans Hillen, akhirnya disetujui juga.
Meruujuk rencana penghematan anggaran, Hillen menyadari negaranya sangat membutuhkan dana hasil penjualan tank tersebut yang senilai 200 juta euro. Menurut laporan De Volkskrant, rencana penghematan di departemen pertahanan bisa memangkas anggaran negara sekitar satu miliar euro.
Selanjutnya De Volkskrant menambahkan bahwa Menteri Luar Negeri Uri Rosenthal juga mendukung transaksi ini. Dengan alasan tidak ingin menyinggung perasaan rekan pemerintahan di Jakarta, transaksi jual beli ini, dari sudut pandang kalangan pemerintahan Belanda, bisa dikatakan nyaris tuntas.
Beberapa waktu lalu, melalui dukungan Arjan al Fassed, dari partai Groenlinks (Kiri Hijau), mayoritas suara di parlemen Belanda juga menentang penjualan ini. Mereka menilai, transaksi ini bertentangan dengan kebijakan hak asasi manusia Belanda. "Militer Indonesia pernah melanggar hak asasi manusia. Dengan penjualan senjata ini, kabinet demisioner membantu pelanggaran tersebut," kata al Fassed.
Selain itu, masih ada kemungkinan bahwa parlemen Belanda akan melarang transaksi jual beli ini. Di Indonesia sendiri, demikian lanjut De Volkskrant, berbagai kalangan di DPR telah menyatakan tidak menyetujui pembelian senjata berat ini. Mereka menilai tank Leopard tidak cocok dengan kondisi geografi Indonesia.
Meskipun kabinet Belanda telah memutuskan bersedia menjual senjata berat ini pada Indonesia, masih belum pasti apakah transaksi ini memang akan dicapai. Jika rencana ini batal, Jerman dan Rusia sudah siap untuk memasok tank buatan mereka ke Indonesia. (ARI)
Demikian menurut beberapa sumber dari kalangan pemerintah Belanda pada harian De Volkskrant, yang juga menjadi rujukan Mediawatch, Selasa (8/5) waktu setempat. Menurut Mediawatch, kabinet Belanda pada awalnya tidak mendukung transaksi ini. Tetapi atas desakan Menteri Pertahanan Hans Hillen, akhirnya disetujui juga.
Meruujuk rencana penghematan anggaran, Hillen menyadari negaranya sangat membutuhkan dana hasil penjualan tank tersebut yang senilai 200 juta euro. Menurut laporan De Volkskrant, rencana penghematan di departemen pertahanan bisa memangkas anggaran negara sekitar satu miliar euro.
Selanjutnya De Volkskrant menambahkan bahwa Menteri Luar Negeri Uri Rosenthal juga mendukung transaksi ini. Dengan alasan tidak ingin menyinggung perasaan rekan pemerintahan di Jakarta, transaksi jual beli ini, dari sudut pandang kalangan pemerintahan Belanda, bisa dikatakan nyaris tuntas.
Beberapa waktu lalu, melalui dukungan Arjan al Fassed, dari partai Groenlinks (Kiri Hijau), mayoritas suara di parlemen Belanda juga menentang penjualan ini. Mereka menilai, transaksi ini bertentangan dengan kebijakan hak asasi manusia Belanda. "Militer Indonesia pernah melanggar hak asasi manusia. Dengan penjualan senjata ini, kabinet demisioner membantu pelanggaran tersebut," kata al Fassed.
Selain itu, masih ada kemungkinan bahwa parlemen Belanda akan melarang transaksi jual beli ini. Di Indonesia sendiri, demikian lanjut De Volkskrant, berbagai kalangan di DPR telah menyatakan tidak menyetujui pembelian senjata berat ini. Mereka menilai tank Leopard tidak cocok dengan kondisi geografi Indonesia.
Meskipun kabinet Belanda telah memutuskan bersedia menjual senjata berat ini pada Indonesia, masih belum pasti apakah transaksi ini memang akan dicapai. Jika rencana ini batal, Jerman dan Rusia sudah siap untuk memasok tank buatan mereka ke Indonesia. (ARI)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5463536/original/058765400_1767636182-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9331557/original/037451000_1787549916-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-24T123722.755.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9337309/original/008779100_1788240212-cek_fakta_-_pinjol_ojk.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7961905/original/013698500_1780798434-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-07T090929.694.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/127611/original/120118ctank-leopard.jpg)