Sukses

Makan Siang Ala Indonesia Bersama Kaum Tuna Wisma di Belgia

Liputan6.com, Brussels - Sebagai salah satu negara maju di Eropa Barat dan ibukota Uni Eropa yang beranggotakan 27 negara, kota Brussels tidak luput dari berbagai permasalahan perkotaan.

Seperti Jakarta yang menjadi magnet bagi para pengemis dan tuna wisma dari berbagai daerah, Kota Brussels mengalami hal serupa, bahkan dengan jumlah yang jauh lebih banyak.

Krisis migran, sulitnya akses untuk mendapatkan social security, biaya hidup yang tinggi, sewa rumah yang terus meningkat, serta sebagai destinasi turis yang cukup populer, menjadi beberapa penyebab yang berkontribusi atas tingginya jumlah tuna wisma di Brussels (sekitar 2600 orang pada 2018).

Makan siang mungkin menjadi hal biasanya yang kita lakukan setiap hari, namun tidak demikian halnya bagi para tuna wisma. Setiap hari adalah perjuangan, dari terik matahari, dari dinginnya udara dan angin, dan tentunya dari rasa lapar.

Memenuhi panggilan nurani untuk membantu sesama, setiap tahunnya sejak tahun 2016, sebagian Warga Negara Indonesia, khususnya para wanita yang tinggal di Brussels yang tergabung dalam Dharma Wanita Persatuan KBRI Brussels menyelenggarakan berbagai kegiatan sosial --demikian seperti dikutip dari rilis KBRI Brussels yang dimuat Liputan6.com, Kamis (2/5/2019).

Kegiatan kali ini yang dilakukan adalah makan siang bersama para tuna wisma ala Indonesia bertempat di Salvation Army di Kota Brussels.

2 dari 2 halaman

Kuliner Indonesia untuk Tuna Wisma Belgia

Jollys, salah seorang ibu tuna wisma dengan 4 orang anak sangat menikmati sajian yang telah disiapkan.

Nasi goreng, sate ayam, dengan kerupuk dan sayur-sayuran, dilengkapi pastel sebagai makanan pembuka dan puding sebagai penutup, bagi Jollys ini makan siang kali ini benar-benar selayaknya makan di restoran.

Tanpa malu-malu, Jollys kembali mengantri untuk menambah. Selain Jollys, lebih dari 75 orang tuna wisma datang dan menikmati sajian ala Indonesia ini. Bagi mereka, acara ini lebih dari sekedar makan siang, mereka juga bercengkrama dan bergembira, dan tentunya mengenai makanan dan budaya Indonesia.

"Tahun ini Indonesia dan Belgia memasuki usia hubungan 70 tahun. Kegiatan-kegiatan seperti ini bukan hanya mendekatkan masyarakat dari kedua negara (people-to-people contact) dan memberikan manfaat langsung, tapi juga menjadi salah satu penyangga utama bagi kuatnya hubungan antar kedua negara," ujar Sandra Thamrin, Ketua Dharma Wanita Persatuan KBRI Brussels.

"Ditambah lagi, untuk yang muslim, kegiatan ini dapat menjadi tempat untuk menambah keberkahan, berbagi rejeki serta kebersamaan," tambahnya.

Kegiatan ini diselenggarakan berkat kerja sama yang apik antara Dharma Wanita Persatuan KBRI Brussels, the Salvation Army dan Serve the City, keduanya merupakan organisasi nirlaba yang banyak membantu para tuna wisma di Brussels.

Belgia merupakan salah satu negara Eropa pertama yang mengakui kemerdekaan RI pada 27 Desember 1949. Selanjutnya Indonesia dan Belgia membuka untuk pertama kali perwakilannya di Jakarta dan Brussel untuk menandai dimulainya hubungan diplomatik keduanya.

Loading
Artikel Selanjutnya
Imigrasi Malaysia Gerebek Panti Pijat, Tangkap 31 Wanita Termasuk 5 WNI
Artikel Selanjutnya
Jadwal Semifinal Indonesia Masters 2020: 5 Wakil Indonesia Beraksi