Sukses

Pengadilan Mesir Tetapkan 145 Orang dalam Daftar Pelaku Terorisme

Liputan6.com, Kairo - Pengadilan Mesir menetapkan 145 orang masuk dalam daftar teroris negara. Putusan itu dibuat setelah pihak pengadilan menolak banding dari para terdakwa.

Dikutip dari laman ArabNews, Rabu (27/3/2019), para terdakwa dituduh telah melatih para militan dan merencanakan aksi kekerasan di Mesir. Sehingga, mereka masuk dalam daftar teroris di negara tersebut.

Menurut salah satu sumber terpercaya, salah satu orang terdakwa adalah tokoh senior Ikhwanul Muslimin.

Sejumlah orang yang masuk dalam daftar adalah Moataz Matar dan Mohamed Nasser, yang keduanya bekerja untuk saluran TV al-Ikhwan al-Muslimin.

Matar baru-baru ini berada dalam bidikan negara setelah dia memprakarsai seruan di dunia maya yang mengajak aksi protes menentang Presiden Mesir, Abdel Fattah al-Sisi.

Terdakwa lainnya di antaranya adalah Hamza Zoba, serta penceramah Wagdy Ghoneim.

Sejak tahun 2013, banyak dari anggota dan tokoh Ikhwanul Muslimin yang melarikan diri dari Mesir setelah penggulingan militer Presiden Islamis Mohammed Morsi.

Organisasi itu pun kemudian diberi label organisai teroris, beberapa bulan setelah tergulingnya Morsi.

 

Saksikan video pilihan di bawah ini:

2 dari 2 halaman

Penggerebekan Teroris Besar-besaran

Pada Desember 2018, aparat kepolisian Mesir melakukan penggerebekan besar-besaran di lokasi yang diduga menjadi tempat persembunyian para terduga teroris.

Dilaporkan 40 militan tewas dalam penggerebekan yang digelar di Giza dan Sinai Utara pada Sabtu pagi, 29 Desember 2018, demikian menurut Kementerian Dalam Negeri Mesir seperti dikutip dari BBC News.

Pihak berwenang mengatakan, para militan merencanakan serangkaian serangan teror di sejumlah lokasi wisata, gereja, dan personel militer.

Penggerebekan dilakukan menyusul serangan bom terhadap sebuah bus tur yang membawa rombongan turis di Giza pada Jumat 28 Desember 2018.

Sejauh ini belum ada kelompok yang mengaku bertanggung jawab atas ledakan bom yang menewaskan tiga turis asal Vietnam dan seorang pemandu wisata asal Mesir. Namun, sejumlah militan garis keras sebelumnya telah memasukkan wisatawan dalam daftar targetnya.

Polisi menembak mati 30 militan dalam dua penggerebekan Giza, sementara 10 terduga teroris lainnya tewas di El-Arish, ibukota provinsi Sinai Utara, demikian menurut kementerian dalam negeri.

"Sekelompok teroris berencana untuk melakukan serangkaian serangan agresif yang menargetkan institusi negara, terutama yang ekonomi, serta pariwisata ... dan tempat-tempat ibadah Kristen," kata pernyataan kementerian itu.

Polisi juga telah menyita bahan-bahan perakit bom, amunisi, dan sejumlah besar senjata selama penggerebekan.

Keamanan di Mesir telah diperketat, bertepatan dengan puncak musim kunjungan turis dan persiapan perayaan Natal Ortodoks penganut Kristen Koptik pada 7 Januari 2019.