Sukses

Ledakan Maut Targetkan Agenda Kumpul Politik di Afghanistan, 3 Orang Tewas

Liputan6.com, Kabul - Sebuah agenda kumpul-kumpul politik di ibu kota Kabul, yang dihadiri seorang kepala eksekutif dan mantan presiden Afghanistan, berujung maut, setelah beberapa ledakan menewaskan setidaknya tiga orang.

"Kami menerima laporan ledakan terjadi di bagian barat Kabul, dan penyelidikan telah diluncurkan," kata Nasrat Rahimi, juru bicara Kementerian Dalam Negeri Afghanistan, sebagaimana dikutip dari Al Jazeera pada Jumat (8/3/2019).

Sumber lain di kementerian yang sama mengatakan bahwa sumber ledakan berasal dari seseorang yang menembakkan mortir dari sebuah rumah di Distrik 18, Kabul.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada klaim tanggung jawab dari pihak manapun.

Namun, seorang pejabat yang menghadiri agenda kumpul politik itu, yang tidak bersedia namanya disebutkan, mengatakan kepada kantor berita Associated Press bahwa tujuh orang tewas dan 10 lainnya luka-luka.

Pejabat senior Afgansitan itu mengatakan bahwa para penyerang dapat menargetkan pertemuan besar Muslim Syiah, yang berlangsung di kompleks Musala-e-Mazari, Kabul.

Ratusan orang menghadiri pertemuan tersebut untuk menandai peringatan 24 tahun kematian Abdul Ali Mazari, pemimpin partai Hezb-e-Wahdat.

Mazari tewas oleh Taliban, setelah sebelumnya sempat ditahan oleh kelompok ekstremis itu pada 1995.

 

Simak video pilihan berikut: 

 

2 dari 2 halaman

Target Bernilai Tinggi

Beberapa hari sebelum serangan terjadi, banyak media memberitakan bahwa agenda kumpul politik itu dihadiri oleh tokoh terkemuka.

Kendaraan militer bahkan telah disiapkan di lokasi pertemuan, sehingga menurut pengamat, serangan itu kemungkinan dilakukan karena terdapat banyak target bernilai tinggi.

Kepala Eksekutif negara itu, Abdullah Abdullah, dan mantan presiden sama-sama hadir dan tidak terluka, lapor kantor berita AFP.

Menteri Luar Negeri Salahuddin Rabbani --yang juga berada di lokasi kejadian-- mentwit "teroris meluncurkan serangan roket pada upacara peringatan", dan mengatakan dia berhasil selamat.

Insiden itu terjadi ketika Amerika Serikat dan Taliban terus mengadakan pembicaraan damai di Qatar, yang bertujuan untuk mengakhiri konflik selama hampir 18 tahun.

Serangan besar terakhir di Kabul terjadi pada Januari lalu, ketika Taliban mengklaim bertanggung jawab atas sebuah bom mobil yang menabrak kompleks pemukiman asing Green Village yang dijaga ketat.

Turunnya salju di banyak wilayah di Afghanistan menyebabkan berkurangnya kekerasan pada musim dingin ini, tetapi menurut pengamat, cuaca yang lebih hangat di selatan negara itu, kemungkinan akan meningkatkan pertumpahan darah.

Loading
Artikel Selanjutnya
Banjir Bandang Menerjang 5 Distrik di Afghanistan, 20 Orang Tewas
Artikel Selanjutnya
Ledakan di Mal Taman Anggrek, Polisi Tetapkan 2 Tersangka