Sukses

Tidak Terima Dikritik, Donald Trump Mendamprat Eks Kepala FBI

Liputan6.com, Washington, D.C - Presiden Amerika Serikat Donald Trump menghujat mantan kepala Dinas Penyidikan Federal Amerika (FBI), Andrew McCabe, pada Senin 18 Februari 2019.

Hal itu menanggapi pernyataan McCabe dalam sebuah wawancara dengan jaringan televisi CBS pada Minggu 17 Februari 2019.

Dalam kesempatan itu, McCabe merujuk lagi pada diskusi yang pernah terjadi di antara para pejabat administrasi tingkat tinggi, tentang apakah Trump dapat dilengserkan dari jabatannya berdasarkan amandemen ke-25 UUD Amerika Serikat.

Amandemen yang dimaksud memungkinkan wakil presiden dan mayoritas kabinet untuk melucuti kekuasaan sang presiden jika dianggap tidak dapat melaksanakan tugas, dikutip dari The Irish Times pada Selasa (19/2/2019).

McCabe juga sempat menyinggung terkait tindakan presiden yang dianggap menghalangi penyelidikan terkait intervensi Rusia dalam pemilihan 2016 dengan memecat sejumlah kepala FBI.

Menanggapi hal tersebut, Donald Trump menyerang McCabe melalui Twitter pada Senin 18 Februari 2019.

"Wow, banyak kebohongan yang dikatakan oleh mantan pejabat kepala FBI Andrew McCabe," Kata Trump.

"McCabe dipecat karena ia berbohong, dan kini pernyataan yang dibuatnya semakin aneh. Dia dan Rosenstein tampaknya waktu itu sedang merencanakan tindakan yang sangat tidak sah, dan ketahuan," lanjutnya.

Trump seolah melempar tuduhan balik bahwa McCabe saat itu didapati melakukan sebuah tindakan tidak sah, yang dapat disebut sebagai "pengkhianatan" meskipun tidak dijelaskan secara lebih rinci.

 

Simak pula video pilihan berikut:

 

2 dari 2 halaman

Misteri Pemecatan McCabe

Dalam wawancara dengan CBS, Andrew McCabe mengungkap kecurigaan terhadap keputusan Trump untuk memecat sejumlah kepala FBI, termasuk dirinya.

"Saya yakin saya dipecat karena berusaha menuduh presiden Amerika melakukan tindakan melanggar hukum," katanya.

Menurut McCabe yang dipecat setelah 21 tahun bertugas, tindakan Trump "menghalangi penyelidikan" dan memecat kepala FBI justru mendorong mereka berpikir, apakah ada hubungan yang tidak wajar antara presiden dengan "musuh AS yang paling ditakuti", yaitu pemerintah Rusia, dikutip dari VOA Indonesia.

McCabe menyatakan bahwa sang presiden nyentrik telah melakukan kejahatan ketika memecat kepala FBI James Comey pada Mei 2017. Saat itu Comey diturunkan dari jabatannya saat menyelidiki hubungan kampanye politik Trump dengan Rusia.

Menurut pengakuan McCabe, hanya beberapa hari setelah memecat Comey, Rosenstein menunjuk Robert Mueller, yang pernah menjadi kepala FBI, sebagai jaksa khusus untuk menyelidiki campur tangan Rusia dalam pemilihan presiden itu.

Rosenstein yang akan segera berhenti sebagai wakil jaksa agung, menurut McCabe, telah sepakat untuk melanjutkan penyelidikan namun tidak terdapat kejelasan terkait amandemen UUD yang sebelumnya disebutkan.

Penghormatan Korban Penembakan Masjid Selandia Baru
Loading
Artikel Selanjutnya
Deklarasikan Keadaan Darurat, Trump Dituntut 16 Negara Bagian
Artikel Selanjutnya
Desak Militer Venezuela, Donald Trump: Bebaskan Negara Anda...