Sukses

2 Nelayan WNI Diculik di Sabah, RI Segera Evaluasi Patroli Gabungan Trilateral

Liputan6.com, Jakarta - Pemerintah Indonesia, melalui Kementerian Luar Negeri, mengatakan akan mengevaluasi kembali kerja sama patroli gabungan yang dilakukan bersama dengan Malaysia dan Filipina di perairan tiga negara yang saling bersinggungan di Borneo-Sulu-Sulawesi.

Rencana itu dilakukan menyusul kasus penculikan terbaru terhadap dua WNI oleh pelaku yang diduga berasal dari Mindanao, Filipina selatan, pada 11 September 2018.

Kasus tersebut merupakan insiden penculikan pertama sejak lebih dari 20 bulan. Ini sekaligus yang pertama sejak ketiga negara mulai menerapkan Kesepakatan Kerja Sama Trilateral (TCA), yang mencakup Patroli Maritim Trilateral (TMP) dan Patroli Udara Trilateral (TAP) pada 2017.

Kerja sama TCA diprakarsai oleh ketiga negara untuk membendung infiltrasi dan aktivitas kelompok kriminal, teroris dan perompak yang beroperasi di kawasan maritim yang saling bersinggungan. Namun, kasus terbaru mendorong Indonesia untuk meninjau kembali kerja sama itu.

Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia (BHI) Kemlu RI, Lalu Muhammad Iqbal menjelaskan, alasan pemerintah untuk mendorong evaluasi kerja sama TCA. "Itu karena ada yang salah dengan pelaksanaan selama satu tahun terakhir ini," ujarnya dalam sebuah konferensi pers di Kemlu RI, Jakarta, Rabu (19/9/2018).

"Kerja sama untuk mencegah insiden penculikan dan penyanderaan di wilayah maritim tiga negara yang saling bersinggungan sudah ada, dan sejak beberapa waktu terakhir terus diperkuat," ujarnya merujuk pada TCA Indonesia-Malaysia-Filipina.

"Tapi, something went wrong (dengan pelaksanaan TCA), kita kecolongan, ketika dua WNI kembali diculik di perairan Sabah ... Padahal, sejak satu tahun terakhir, insiden seperti itu sudah tak ada."

Menyikapi kasus terbaru, pemerintah Indonesia, telah melakukan political push kepada Malaysia dan Filipina --menyusul kasus penculikan terbaru bulan ini-- untuk mengevaluasi TCA.

"Menlu sudah menyampaikan keprihatinannya kepada pemerintah kedua negara ... Untuk ke depannya, kita perlu meninjau kembali agar mekanisme pengamanan maritim yang sudah ada tak bisa dibobol oleh kelompok kriminal yang beroperasi di kawasan itu, guna memastikan agar warga ketiga negara mendapat jaminan keamanan."

"Apalagi, para pelaku kriminal terus menemukan cara-cara baru untuk melancarkan aksinya," kata Iqbal menjelaskan kebutuhan mendesak dari peninjauan TCA tersebut.

Meski kasus penculikan terbaru menjadi sebuah noktah hitam tersendiri bagi TCA yang telah bergulir selama lebih dari satu tahun, pemerintah Indonesia dan Filipina tetap meyakini bahwa kerja sama itu "masih memuaskan" untuk melawan geliat kelompok kriminal dan teroris di kawasan, kata Dubes RI untuk Filipina, Sinyo Harry Sarundajang.

"Presiden Filipina Rodrigo Duterte mengatakan kepada saya bahwa dia merasa puas dengan kerja sama patroli trilateral. Ia juga mengusulkan agar kerja sama itu mengalami peningkatan kapasitas," ujarnya dalam sebuah konferensi pers di Kemlu RI, Jakarta, Rabu 19 September 2018.

"Konsep konkretnya bagaimana? Akan dibicarakan lagi oleh ketiga negara."

Kasus Terbaru

Dua nelayan yang diculik dalam kasus terbaru berinisial SS dan UY, berasal dari Provinsi Sulawesi Barat. Mereka diculik pada 11 September 2018, saat baru saja berlabuh di dermaga Pulau Gaya di Semporna.

Diketahui bahwa sekitar jam 01.00 pagi, salah satu anggota kru kapal mendengar suara mesin perahu pompa yang mendekat dan pasokan listrik kapal mereka tiba-tiba terputus.

Dua dari awak kapal, yang bersembunyi di dalam kompartemen kapal penangkap ikan, mendengar orang-orang yang berbicara dalam logat Sulu (khas kelompok etnik di Filipina selatan) dan melalui lubang, melihat dua orang bersenjata dari kelompok itu.

Sekitar satu jam kemudian, dua nelayan keluar dari persembunyian tetapi menemukan dua teman mereka --yang berstatus WNI-- hilang, beserta sistem komunikasi radio kapal, demikian seperti dilansir dari The Strait Times, Selasa, 11 September 2018.

Pihak Pasukan Keamanan Sabah Timur Malaysia (Esscom), mengatakan pekan ini bahwa pelaku mungkin telah membawa dua WNI tersebut untuk disandera di wilayah Provini Sulu, Mindanao, Filipina selatan --yang diduga kuat sebagai sarang kelompok teror dan kriminal Abu Sayyaf.

 

Simak video pilihan berikut:

2 dari 2 halaman

Latihan Angkatan Darat Trilateral untuk Atasi Teroris

Beberapa hari setelah kasus terbaru penculikan dua WNI mencuat, menteri pertahanan Indonesia, Malaysia, dan Filipina pada Jumat 14 September 2018, melakukan pertemuan guna membahas peningkatan kapasitas Kesepakatan Kerja Sama Trilateral (TCA).

Dalam pertemuan itu, Indonesia mengusulkan latihan bersama untuk personel Angkatan Darat untuk mengatasi aksi teroris di perbataaan ketiga negara, demikian seperti dilansir Antara, Jumat 14 September 2018.

"Indonesia percaya bahwa penting bagi ketiga negara melakukan latihan bersama personel Angkatan Darat. Saya percaya bahwa Filipina dan Malaysia memiliki pandangan yang sama," kata Menteri Pertahanan Filipina Delfin Lorenzana, seperti dikutip dari Antara.

Sementara itu, Menhan RI Ryamizard Ryacudu mengatakan, "Pada pertemuan tersebut, kami membahas kelanjutan kerja sama trilateral lebih lanjut dan bagaimana upaya kami akan memiliki dampak positif pada stabilitas regional."

"Kami menghadapi teroris yang memiliki keterampilan tempur yang berbeda, dengan taktik yang lebih bervariasi," kata Ryamizard menggarisbawahi kebutuhan mendesak dari rencana gabungan personel Angkatan Darat ketiga negara tersebut, seperti dikutip oleh Antara.

Jika terealisasi, rencana itu akan melengkapi tiga komponen --darat, laut dan udara-- dari Kesepakatan Kerja Sama Trilateral (TCA) yang telah bergulir sejak awal 2017.

Loading
Artikel Selanjutnya
Kala Mahasiswa Azerbaijan Menari Tarian Khas Indonesia
Artikel Selanjutnya
Dubes Moazzam: Politikus Indonesia Jangan Main-Main dengan Isu SARA