Sukses

11-7-1405: Laksamana Muslim Cheng Ho Temukan Benua Amerika Lebih Dulu dari Columbus?

Liputan6.com, Beijing - Jauh sebelum Christopher Columbus mencapai 'Dunia Baru' dan Ferdinand Magellan berlayar mengelilingi Bumi, Laksamana Cheng Ho (Zheng He) asal Tiongkok menjejakkan kaki ke tanah yang belum dipijak Bangsa Eropa.

Hari itu, 11 Juli 1405, Laksamana Cheng Ho angkat sauh dari Nanjing, ibu kota Tiongkok pada awal pemerintahan Dinasti Ming. Armadanya terdiri atas 200 kapal dan 28 ribu kelasi, jauh lebih besar dari kepunyaan Columbus, yang pada 1492 hanya membawa tiga bahtera: Nina, Pinta, dan Santa Maria.

Teknik navigasi dan kapal yang dimiliki Cheng Ho juga amat canggih pada masanya.

Dari Nanjing, Cheng Ho berlayar melintasi Asia dan Arabia, hingga mencapai lokasi yang kini menjadi pantai Somalia.

Wilayah yang ia jelajahi konon lebih luas dari itu. Sebab, antara tahun 1405 dan 1433, pemerintahan Dinasti Ming mensponsori tujuh perjalanan eksplorasi, di mana Cheng Ho menjadi komandannya. Tujuannya adalah memperluas pengaruh China di tanah asing dan jaringan perdagangan.

Seperti dikutip dari nationalgeographic.org, perjalanan ketiga Cheng Ho membawanya ke wilayah yang kini dikenal sebagai Vietnam tengah, pulau Sumatra dan Jawa di Indonesia, Sri Lanka, India selatan dan barat, serta Thailand.

Ia bahkan disebut-sebut sebagai penemu benua Amerika dan Australia.

Seperti dikutip dari New York Times, pada 2006, seorang pengacara dan kolektor terkemuka asal Beijing, China mengungkap sebuah peta lama yang konon membuktikan bahwa bangsa Eropa bukanlah orang pertama yang berlayar ke seluruh dunia dan menemukan Amerika.

Peta lawas tersebut digambar pada tahun 1763, namun ada catatan di dalamnya yang menyebut bahwa dokumen tersebut adalah reproduksi dari atlas yang berasal dari tahun 1418.

Liu Gang, nama kolektor bersebut, mengaku membeli peta itu seharga US$ 500 di sebuah toko di Shanghai pada 2001. Namun, baru belakangan ia menyadari arti pentingnya.

"Isu utamanya bukanlah peta itu sendiri," kata dia dalam sebuah konferensi pers. "Namun, informasi di dalamnya berpotensi mengubah sejarah," kata dia.

Sekelompok cendekiawan dan penggemar sejarah, yang dipimpin oleh Gavin Menzies, mantan komandan kapal selam Angkatan Laut Inggris, berpendapat bahwa Cheng Ho melakukan perjalanan lebih jauh daripada anggapan kebanyakan sejarawan China dan Barat.

Menzies bahkan mengklaim, Cheng Ho mengunjungi benua Amerika pada 1421, 71 tahun sebelum Columbus.

Dalam bukunya yang terbit pada 2003, 1421: The Year China Discovered America" (William Morrow/HarperCollins), Menzies mengungkapkan sejumlah bukti yang menyebut, Cheng Ho berlayar ke wilayah yang kini menjadi pantai timur Amerika Serikat pada 1421. Ia bahkan meninggalkan jejak permukiman di sana.

Pencapaian Cheng Ho telah menjadi spekulasi selama bertahun-tahun. Sebab, banyak catatan sejarah yang sengaha dihancurkan ketika para kaisar Tiongkok mengubah pikiran mereka terkait hubungan dengan dunia luar.

Liu Gang mengatakan, jika koleksinya tersebut benar-benar berasal dari tahun 1418, peta itu mengungkap pengetahuan tentang garis bujur dan garis lintang serta bentuk dasar dunia, termasuk fakta bahwa Bumi itu bulat, yang tidak mungkin berasal dari informasi dari bangsa Eropa.

Namun, para sejarawan belum menemukan kata sepakat soal peta yang yang konon didapat dari pelayaran Cheng Ho.

Gong Yingyan, sejarawan sekaligus ahli peta dari Zhejiang University mengatakan, atlas milik Liu Gang terlalu penuh dengan anakronisme, untuk disebut sebagai buatan dari Abad ke-15.

"Saya memiliki harapan besar ketika pertama kali mendengar tentang keberadaan peta semacam itu," kata Gong. "Tapi saya bisa melihat sekarang bahwa itu adalah peta yang sepenuhnya biasa yang tidak membuktikan apa-apa," kata dia soal peta yang diklaim jadi bukti penjelajahan Laksamana Cheng Ho.

 

 

Saksikan juga video berikut ini:

 

2 dari 2 halaman

Laksamana Muslim

Cheng Ho (Zheng He) terlahir pada 1371 dengan nama Ma He. Pria yang lahir di Yunan tersebut adalah keturunan diplomat besar asal Rusia Sayyid Ajjal Shams al-Din Omar -- yang dipilih sebagai Gubernur Yunnad di masa pemerintahan Dinasti Yuan.

Sementara, buyutnya, kakek dan ayahnya, semua bertugas di garnisun Mongolia di dekat Yunnan.

Ayahnya tewas pertempuran ketika Dinasti Ming naik ke tampuk kekuasaan dan orang-orang Mongol diusir dari Yunnan. Cheng Ho yang kala itu masih berusia 11 tahun dijadikan kasim atas perintang seorang jenderal Ming dan dikirim ke istana.

Cheng Ho kemudian membantu Kaisar Yongle atau Zhu Di, menggulingkan Kaisar Jianwen. Atas jasa dan kesetiaannya, penguasa baru mengangkatnya sebagai komandan angkatan laut. Cheng Ho juga punya posisi dan pengaruh kuat di istana.

Seperti dikutip dari gbtimes.com, Zhi Di punya kebijakan asing yang aktif sekaligus agresif. Ia mendambakan perluasan wilayah Tiongkok.

Sebagai bagian dari upaya mencapai tujuannya, ia mengirim armada raksasa ke Asia Tenggara untuk menjelajahi rute perdagangan baru. Dikomandani Cheng Ho, armada tersebut membawa membawa barang dan pasukan, yang mencapai negara-negara Asia Selatan, Afrika Timur dan Arabia. Pelayarannya memicu salah satu periode pertukaran perdagangan dan budaya yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah Tiongkok.

Namun, para sejarawan menduga, ada alasan lain di balik itu. Sang kaisar diyakini mengirim armada dalam rangka mengejar kaisar yang terguling, Jianwen yang kala itu jadi buron.

Ia diduga tak tewas selama Pertempuran Nanjing namun bersembunyi di suatu tempat di barat laut China -- sembari terus melancarkan perlawanan pada kaisar baru.

Selama 1405 hingga 1433, Cheng Ho berlayar ke Laut Barat (Samudera Hindia) tujuh kali dengan armada yang terdiri atas 317 kapal dengan hampir 28 ribu awak.

Kapal terbesarnya berukuran panjang 130 meter -- yang jika dibandingkan, bahtera utama milik Columbus, Santa Maria, hanya mirip sekocinya saja. Kisahnya bahkan konon mengilhami dongeng Petualangan Sinbad, Sang Pelaut dalam Kisah 1001 Malam.

Pada 2005, peringatan 600 tahun pelayaran Cheng Ho diperingati di China, negara asalnya.

"Dinasti Ming ... tidak perlu menaklukkan atau merampok negara lain, melainkan mencoba mempromosikan perdagangan dengan negara-negara miskin untuk membantu mereka berkembang, "kata pejabat China, Laksamana Muda Zheng Ming seperti dikutip dari Sydney Morning Herald.

Namun, Geoff Wade, sejarawan dari National University of Singapore berpendapat apa yang dilakukan Cheng Ho adalah misi militer dengan tujuan strategis, seperti kekuatan kolonial lain.

Selain awal perjalanan Cheng Ho, sejumlah peristiwa bersejarah terjadi pada 11 Juli. Pada 1970, ssebuah roket Angkatan Udara Amerika Serikat jatuh di Daerah Sunyi Mapimí, Meksiko, selanjutnya menimbulkan legenda urban bahwa di daerah tersebut sinyal radio tidak dapat diterima.

Sementara pada 11 Juli 1995 terjadi Pembantaian Srebrenica. Sekitar 8.000 orang Muslim Bosnia dibunuh tentara Serbia-Bosnia pimpinan Jenderal Ratko Mladić.

 

 

Loading
Artikel Selanjutnya
13-10-1943: Ditabuhnya Genderang Perang Italia Terhadap Jerman
Artikel Selanjutnya
12-10-1918: Telan Ratusan Nyawa, Kebakaran Dahsyat Hanguskan Hutan Minnesota