Sukses

Tuntut Perubahan Sistem Pemilu, Rakyat Hongaria Turun ke Jalan

Liputan6.com, Budapest - Puluhan ribu pengunjuk rasa anti-pemerintah, berbaris melakukan aksi protes besar-besaran di ibu kota Hongaria Budapest pada Sabtu, 15 April 2018 waktu setempat.

Mereka menuntut dilakukannya pemilu ulang, sekaligus mendesak perubahan sistem yang berlaku saat ini.

Dikutip dari ABC News, Minggu (15/4/2018), Perdana Menteri Viktor Orban terpilih kembali untuk masa jabatan keempat kalinya pada pekan lalu.

Partai Fidesz, partai yang menyokong Orban, memenangkan mayoritas kursi di majelis nasional. Bersama dengan sekutunya, Partai Demokratik Kristen, keduanya meraih jatah 134 kursi legislatif dari total 199 yang tersedia.

Para pendukung oposisi marah karena aturan pemilu Hongaria memberikan partai Orban mayoritas kursi di Parlemen, meski secara tunggal, hanya memenangkan sekitar 50 persen suara.

Para pengunjuk rasa berjalan kaki dari Gedung Opera menuju parlemen, seraya meneriakkan "Pemilihan baru! Kami adalah mayoritas!".

Besarnya kerumunan pemrotes meluap dari alun-alun kota Kossuth, di luar gedung parlemen bergaya neo-Gothic yang mencolok. Jumlah tersebut menyaingi aksi 'barisan damai' (peace march) pro-pemerintah, yang digelar pada 15 Maret 2018.

"Kami menginginkan pemilihan yang baru dan adil," kata aktivis oposisi Gergely Gulyas di hadapan kerumunan demonstran.

"Ini adalah tanggung jawab pemerintah, dan kita akan terus mengingatkan mereka, secara damai dan masif," lanjutnya berorasi.

Di sisi lain, Orban mengklaim bahwa partai-partai oposisi ingin mengubah Hongaria menjadi 'negara imigran' dengan dukungan Uni Eropa, PBB, dan miliarder Hongaria-Amerika, George Soros. Namun, tudingan tersebut ditolak tegas oleh pihak oposisi.

Pada penghujung aksi protes, para pengunjuk rasa menyanyikan lagu kebangsaan Hongaria. Kemudian mereka melanjutkannya dengan lagu kebangsaan Uni Eropa, yang didasarkan pada aranseman Ludwig van Beethoven, 'Ode to Joy'.

 

Simak video pilihan berikut: 

 

2 dari 2 halaman

Tiga Tuntutan Utama Para Pengunjuk Rasa

Sementara itu, kampanye Orban yang berfokus pada pembatasan arus imigrasi, menjanjikan 'perubahan signifikan' dalam pemerintahannya berikutnya, yang mendorong amandemen konstitusi terkait.

Oposisi yang terfragmentasi dan rumitnya sistem pemilihan yang tidak proporsional, oleh beberapa pengamat, disebut telah menguntungkan partai terbesar.

Ditambah lagi dengan keputusan Orban dalam memfasilitasi kewarganegaraan bagi warga Hongaria yang tinggal di negara-negara tetangga, seperti Rumania dan Serbia, berkontribusi terhadap kemenangan besarnya pada 8 April.

Sebanyak lebih dari 96 persen pemilih di negara-negara yang berbatasan dengan Hongaria tersebut, mendukung Partai Fidesz yang dipimpin oleh Orban.

"Ketika saya bertanya kepada kakek-nenek saya mengapa mereka mengizinkan (diktator komunis) Matyas Rakosi untuk tetap berkuasa begitu lama, mereka menjawab bahwa mereka takut," kata penulis dan jurnalis Gergely Homonnay, di hadapan para demonstran.

"Ya, aku tidak takut. Kami tidak lagi takut saat ini," lanjutnya dengan suara bergetar.

Homonnay mengatakan pengunjuk rasa memiliki tiga permintaan, pertama adalah mengubah sistem pemilihan 'yang selalu menguntungkan Fidesz'.

Kedua, menggulingkan Kepala Jaksa Penuntut Umum Peter Polt -- sekutu Orban, karena selama masa baktinya, tidak ada satu pun kasus korupsi yang diselidiki hingga selesai.

Adapun permintaan ketiga adalah mengeluarkan Fidesz dari media pemerintah, yang telah menjadi promotor propaganda dalam beberapa tahun terakhir.

Loading
Artikel Selanjutnya
Rossi: Saking Cepatnya, Winger MU seperti Naik Motor