Sukses

Kota Bawah Tanah di Beijing Ini Digali dengan Tangan Manusia

Liputan6.com, Beijing - Kota Beijing di China merupakan rumah bagi 21,5 juta warganya, namun beberapa ribu di antaranya harus rela tinggal di terowongan bawah tanah.

Jauh dari keriuhan jalan-jalan di Beijing, faktanya kota ini masih menyimpan kesunyian di baliknya.

Memang tidak ada pernyataan resmi tentang ukuran keseluruhan kompleks tempat tinggal itu atau keberadaan semua terowongan, namun diyakini luasnya lebih dari 20.000 hektar.

Konon, terowongan tersebut menghubungkan semua bangunan utama pemerintah kota dan memiliki 900 daun pintu.

Kota terkubur itu dikenal sebagai Dìxià Chéng, yang berarti penjara bawah tanah.

Dìxià Chéng diciptakan sebagai tempat perlindungan dari serangan nuklir pada era Perang Dingin.

Kabarnya, tempat tersebut digali menggunakan tangan manusia, hanya sedikit dari mereka yang dibekali sekop. Semuanya diangkut menggunakan keranjang bambu.

Berikut sejarah terowongan misterius itu, dilansir The Vintage News, Senin (22/1/2018).

 

 

 

1 dari 3 halaman

Dibangun Saat Perang Dingin

Awal kisah, pekerjaan dimulai pada tahun 1969 dan terus diperluas penggaliannya sampai tahun 1979.

Ketegangan antara China dan Rusia selama Perang Dingin terjadi pada tahun 1969, sedangkan konflik kala itu pecah di perbatasan Sino-Soviet.

Hubungan antara kedua negara semakin meruncing sampai tahun 1991. China sangat waspada terhadap kemungkinan perang dalam skala penuh.

Presiden China waktu itu, Mao Zedong, menginstruksikan warganya untuk melakukan "Shenwadong, chengjiliang, buchengba" yang artinya "menggali terowongan dalam-dalam, menyimpan makanan, dan bersiap menghadapi perang".

Mungkin karena tekanan pada saat itu, sekitar 300.000 warga sipil benar-benar menggali dan melakukan permintaan Mao.

Warga Beijing menciptakan jaringan bawah tanah yang sangat kompleks, dengan instruksi dari insinyur tentara.

Sejumlah terowongan menghubungkan sekitar 10.000 bunker senjata atom, restoran, bioskop, gudang, pabrik, ladang jamur, fasilitas olahraga, dan semua yang dibutuhkan pemerintah untuk benteng pertahanan selama perang nuklir.

Bahkan sistem ventilasi pun bisa diisolasi dari udara luar.

Menurut beberapa catatan, pemerintah China membual bahwa Dìxià Chéng mampu menampung seluruh penduduk di pusat kota Beijing yang berjumlah 6 juta orang pada tahun 1969.

Tentu saja, Dìxià Chéng tidak dibangun sesuai tujuan awalnya.

Pada tahun 1980an, beberapa bagian diberikan secara cuma-cuma untuk negara tetangga, yang mengubah bunker ini menjadi kantor dan pertokoan.

Namun, sebagian besar dunia bawah tanah Beijing masih dimiliki oleh China dan masih ada beberapa pintu masuk yang menghubungkan ruang bawah tanah toko dan blok apartemen.

2 dari 3 halaman

Dìxià Chéng Masa Kini...

Seiring dengan bertambahnya orang yang bermigrasi -- dari desa ke Beijing untuk mencari pekerjaan -- para pemilik sistem terowongan mengubah bunker mereka menjadi unit hunian kecil.

Dikenal sebagai Rat Tribe (Jalur Tikus), beberapa penduduk telah menghuni Dìxià Chéng selama beberapa dekade, meski kondisinya sempit, kumuh dan lembab.

Pada tahun 2010, karena kekhawatiran tentang keselamatan penduduk bawah tanah, otoritas Beijing menyatakan tempat tersebut sudah tidak dapat digunakan lagi sebagai perumahan.

Meski demikian, masih banyak penduduk yang enggan beranjak dari huniannya lantaran tidak memiliki tempat lain untuk ditinggali.

Akhirnya, mereka pun diizinkan berada di Dìxià Chéng, tapi pihak berwenang tak bisa menjamin masa depan mereka.

Pada tahun 2016, seiring dengan tingginya ekspos media mengenai kehidupan di Dìxià Chéng, kelompok pertama penghuni terowongan itu diusir tanpa peringatan terlebih dahulu.

Ada satu orang yang telah mengubah kehidupan orang-orang bawah tanah Dìxià Chéng.

Pria bernama Zhou Zishu muncul, membawa ide segar.

Ia menggandeng perancang, seniman, warga setempat dan perusahaan swasta untuk merealisasikan inisiatifnya, yakni mengubah terowongan menjadi pusat kegiatan masyarakat yang dinamis.

"Wajah baru" Dìxià Chéng  dilengkapi dengan perpustakaan, ruang baca, area bersosialisasi, kafe, ruang bermain anak-anak, salon rambut, toko dan pusat kebugaran.

Dìxià Chéng kini telah berubah nama menjadi Digua Shequ yang merupakan bahasa Mandarin untuk Sweet Potato Community, sebuah filosofis unik tentang Rat Tribe.

Zishu memilih nama itu karena mengingatkannya pada makanan pertama yang dia makan saat tiba di Beijing: ubi.

Ia diberi ubi jalar panas yang dibawa temannya saat menyambut kedatangannya di bandara. Ini merupakan simbol: perubahan besar dimulai dari hal kecil.

Dengan menjalankan lokakarya dan menyediakan sebuah platform bagi pebisnis lokal, Digua Shequ berhasil menyatukan penduduk bawah tanah dan penduduk yang hidup normal -- berada di atas tanah tentunya.

Perizinan resmi juga telah diberikan untuk 10 proyek serupa yang segera dimulai pembangunannya.

Ini mengindikasikan bahwa terowongan bawah tanah Beijing masih bisa ditempati selama bertahun-tahun dengan kondisi layak huni.

Artikel Selanjutnya
Kapal Perang AS Patroli di Laut China Selatan, Tiongkok Berang
Artikel Selanjutnya
Hong Kong Dilanda Gelombang Panas Terburuk dalam Setengah Abad Terakhir