Sukses

Hanya 10 Menit untuk Lari, Warga Jepang Dihantui Rudal Korut

Liputan6.com, Tokyo - Ada satu hal yang kini sangat ditakutkan oleh warga Jepang yang tinggal berdekatan dengan pangkalan militer Amerika Serikat di Negeri Sakura.

Ketakutan itu adalah bahwa suatu hari nanti, pemukiman tempat mereka tinggal --yang berdekatan dengan pangkalan militer AS-- terkena dampak serangan misil mematikan Kim Jong-un.

Ketakutan itu semakin terasa di tengah tensi tinggi di Semenanjung Korea.

Para warga khawatir jika mendadak tangan sang pemimpin tertinggi Korea Utara itu terasa 'gatal' dan menarik pelatuk rudal jarak jauh yang menyasar fasilitas militer milik Negeri Paman Sam. Nahasnya, sejumlah rumah warga hanya berjarak beberapa meter dari pangkalan itu. 

"Hal itu mungkin saja terjadi. Dan, tak ada jalan bagi kami untuk melarikan diri. Kami tak punya bunker atau tempat berlindung untuk serangan semacam itu," kata Seijiro Kurosawa yang tinggal dan bekerja sebagai supir taksi di Fussa, terletak di barat Tokyo, lokasi tempat Yokota Air Base --milik AS-- berada.

"(Jika serangan terjadi) kami mungkin hanya bisa lari ke gedung pusat perbelanjaan," kata pria berusia 58 tahun itu seperti yang dikutip Associated Press, Senin (1/5/2017).

Seijiro Kurosawa, warga Fussa, daerah tempat Yokota Air Base berada (Mari Yamaguchi/AP)

Sepanjang minggu ketiga dan keempat April 2017, sejumlah berita dan program televisi di Jepang kerap didominasi oleh isu Korea Utara, kemungkinan serangan rudal yang mampu menghantam Negeri Sakura, dan mekanisme evakuasi jika serangan rudal terjadi.

Hangatnya isu itu merupakan hal yang wajar di Jepang, mengingat kedekatan geografis Negeri Matahari Terbit dengan Korea Utara.

Perkembangan situasi terbaru menunjukkan bahwa Kim Jong-un kembali melakukan tes rudal jarak jauh pada Sabtu, 30 April 2017. Pada hari yang sama, Pyongyang juga mengancam akan menenggelamkan sejumlah kapal perang AS yang berada dekat dengan wilayah perairan Jepang.

Negeri Paman Sam pun dilaporkan sedang melaksanakan latihan kemaritiman gabungan dengan Jepang dan Korea Selatan.

Namun, yang menjadi kekhawatiran besar adalah lokasi fasilitas militer AS yang berada di Jepang.

Jika sewaktu-waktu tensi kian meninggi dan Korea Utara memutuskan untuk melakukan penyerangan terlebih dahulu, salah satu basis militer AS di Jepang dapat jadi sasaran empuk rudal Pyongyang.

Dan, pada Maret 2017 lalu, Korea Utara dilaporkan melakukan simulasi peluncuran rudal jarak jauh yang jatuh beberapa ratus kilometer dari pesisir pantai Jepang.

Terkait hal itu, para warga Nippon takut akan dua hal. Pertama, rudal Korea Utara dilaporkan sanggup mencapai Jepang. Kedua, sejumlah basis militer AS di Negeri Sakura berlokasi tak jauh dari pemukiman warga.

Jumpei Takamiya, warga Fussa, daerah tempat Yokota Air Base berada (Koji Ueda/AP)

Meski dirundung kekhawatiran, hasil pengamatan dan wawancara jurnalis AP di Fussa, Jepang, melaporkan bahwa 58.000 warga yang tinggal di sana tetap melaksanakan kegiatan sehari-hari seperti biasa.

"Jika dipikir-pikir, apakah Yokota akan menjadi target pertama yang akan diserang? Aku rasa tidak. Dan jujur, aku tak begitu khawatir," ujar Jumpei Takemiya, pemilik toko reparasi yang letaknya berseberangan dengan Yokota Air Base.

"Seperti yang Anda lihat, tidak ada peningkatan keamanan atau kegiatan yang tak biasa di sini," tambah pria 34 tahun itu.

Sejumlah warga juga merasa skeptis dengan kemungkinan misil menimpa wilayah permukimannya. 

"(Korea Utara) Hanya menggertak saja. Dan, melalui televisi, senjata mereka digunakan untuk menakut-nakuti orang lain," kata Hiroki Fujii yang memiliki rumah tak jauh dari Yokota.

Bahkan beberapa di antaranya justru lebih takut jika suatu saat pesawat patroli AS yang terbang di langit Fussa, Yokota, tiba-tiba jatuh di atap perumahan warga.

"Mereka (pesawat AS) terbang di atas. Aku lebih khawatir pesawat itu jatuh di rumahku ketimbang misil," kata salah satu warga.

Hanya 10 Menit untuk Lari

Pesawat C-130 milik AS terbang di langit Fussa, tempat Yokota Air Base berada (Koji Ueda/AP)

Sementara itu, bagi Yoshio Takagi (75), pembicaraan tentang misil Korea Utara membangkitkan kembali memori tentang Perang Dunia II. Pada 1945, Tuan Takagi harus meninggalkan Tokyo saat pasukan AS membombardir ibukota Jepang.

"Tensi mengalami peningkatan dan situasi jadi sulit ditebak sejak pemerintahan (Presiden Amerika Serikat) Donald Trump. Jepang juga sangat mengandalkan militer AS dan salah satunya ada di sini. Aku rasa kami harus menerima konsekuensinya," kata Takagi.

Sejak Maret hingga April 2017, sebuah situs elektronik (website) mitigasi bencana dan situasi darurat yang dikelola pemerintah Jepang, mengalami lonjakan pengunjung hingga mencapai jutaan. Pada rentang bulan yang sama, tensi politik dan militer di Semenanjung Korea sedang mengalami eskalasi.

Instruksi yang dimuat website itu berisi sejumlah langkah penyelamatan diri jika terjadi serangan misil.

Situs itu mengimbau kepada para warga untuk berlindung di dalam bangunan kokoh jika terjadi ledakan. Jika tidak ada bangunan seperti itu, warga diminta untuk menunduk dan melindungi kepala masing-masing.

Jika terjadi serangan senjata kimia, warga diinstruksikan untuk menutup hidung dan mulut dengan kain basah, berlindung di dalam rumah masing-masing, dan menutup jendela.

Pelatihan simulasi mitigasi bencana dan situasi darurat sempat dilakukan pada Maret 2017 di Prefektur Akita, utara Jepang.

Sejak itu, pemerintah pusat memerintahkan seluruh pemerintah daerah di 47 prefektur untuk menyiapkan hal serupa.

Namun, menurut laporan, sejauh ini hanya dua wilayah --Yamagata dan Nagasaki-- yang telah mematangkan skema mitigasi tersebut.

"Kami harus berhati-hati untuk merencanakan hal itu. Dan disaat yang bersamaan agar tidak menakuti publik," kata Keiko Nakajima, atase badan penanggulangan situasi darurat di Tokyo.

Salah satu warga khawatir bahwa Jepang --yang telah bertahun-tahun menarik diri dari intervensi militer internasional-- sengaja terlibat dalam situasi di Semenanjung Korea sebagai ajang untuk menguatkan kapasitas militernya. Terutama, sejak Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe mengusulkan undang-undang ekspansi militer pada tahun 2015 yang kini telah disahkan.

Reiko Naya, warga Fussa, daerah tempat Yokota Air Base berada (Mari Yamaguchi/AP)

"Nampaknya kami (pemerintah Jepang) perlahan-lahan melibatkan diri dalam konflik yang memanas. Aku rasa selama ini kami mengira (misil) Korea Utara tak akan bisa mencapai Jepang. Tapi setelah melihat uji coba tersebut, tak menutup kemungkinan salah satunya akan menimpa kami," kata Reiko Naya yang toko kelontongnya hanya berseberangan jalan dari Yokota Air Base.

Sejumlah analis militer menilai bahwa hanya 10 menit waktu yang dibutuhkan sebuah rudal Korea Utara untuk mencapai Jepang.

Di saat yang bersamaan, waktu yang sangat singkat itu pula-lah yang hanya dimiliki oleh warga Nippon untuk menyelamatkan diri.

"Apa yang terjadi, terjadilah," tutup Jumpei Takemiya.