Sukses

India Kembali Bersiap Hadapi Musim Panas Mematikan

Liputan6.com, New Delhi - India kembali menghadapi rekor cuaca panas dan musim panas yang berpotensi mematikan.

Pada tahun lalu ratusan orang meninggal saat negara itu dilanda kekeringan dengan suhu tertinggi mencapai 51 derajat Celcius. Sebelumnya, pada 2015, gelombang panas menyebabkan lebih dari 2.300 orang tewas.

Departemen Meteorologi India memperkirakan bahwa musim panas tahun ini akan melihat kenaikan suhu rata-rata 1 derajat di beberapa daerah terpanas India, seperti Rajasthan dan Maharashtra, yang pada bulan ini telah mencapai suhu di atas 45 derajat Celcius.

Namun persiapan menghadapi cuaca ekstrem yang telah dilakukan pemerintah sejak 2015 membuahkan hasil, demikian menurut Direktur Jenderal India Meteorological Department (IMD) KJ Ramesh. Hal itu dibuktikan dengan menurunnya angka kematian secara drastis pada 2016--dibandingkan tahun sebelumnya.

"Pada 2015, kematian sangat tinggi. Namun hanya dengan respons kecil dari negara bagian pada 2016, kematian berkurang hingga setenganya," ujar Ramesh seperti dikutip dari CNN, Rabu (26/4/2017). "Tahun ini kami ingin melihat bahwa seluruh negara bagian bekerja bersama kami," imbuh dia.

Menurut seorang pakar di India Institute of Public Health (IIPH), Dileep Mavalankar, sejumlah negara bagian telah memperkenalkan sistem peringatan dini, kampanye kesadaran masyarakat, dan peningkatan pelatihan bagi para profesional kesehatan.

Namun ia memperingatkan bahwa angka kematian pada 2016 yang jauh lebih rendah dibanding 2015 merupakan hasil 'pelaporan yang tak menyeluruh'.

"Tak ada cara sistematis untuk melaporkan kematian akibat serangan panas," ujar Mavalankar.

Meski menemui sejumlah tantangan, peneliti dan ahli kebijakan kesehatan masayarakat merasa optimis.

Pertemuan yang diadakan National Disaster Management Authority (NDMA) dan IMD untuk mendorong dukungan dari pejabat lokal dihadiri secara luas.

"Di mana kita hari ini benar-benar jauh lebih baik dibandingkan tiga tahun lalu," ujar ekonom kebijakan pembangungan Natural Resources Defense Council India, Nehmat Kaur.

Namun direktur IIPH, Lipika Nanda, mengatakan bahwa kesenjangan masih ada. Saat ini suhu ambang untuk peringatan di negara bagian Odissa lebih tinggi di banding saat kematian terjadi pada masa lalu.

Hal itu menciptakan risiko bahwa orang tidak akan melindungi diri mereka sendiri dalam bahaya fatal.

Menurut Nanda, suhu kritis juga bervariasi menurut geografi. Di Odissa, timnya menemukan lebih banyak korban di daerah pesisir dibanding pedalaman, yang membuat bahwa satu peringatan untuk seluruh negara bagian kurang sesuai.