Sukses

Momentum Haru Saat Korban Bom Atom Hiroshima Memeluk Obama

Liputan6.com, Hiroshima - Tak ada maaf diucapkan Barack Obama atas keputusan pendahulunya, Harry S. Truman yang menjatuhkan bom atom 'Little Boy' ke Kota Hiroshima, Jepang, 9 Agustus 1945. Lebih dari 140 ribu orang meninggal dunia karenanya.

Namun, kunjungan Obama ke Hiroshima pada Jumat 27 Mei 2016 akan dicatat dalam sejarah. Untuk kali pertamanya, Presiden Amerika Serikat yang masih menjabat, menjejakkan kaki di kota itu.


Dalam pidatonya di Peace Memorial Park, Obama mengkampanyekan dunia tanpa senjata nuklir.

"Pagi yang cerah dan berawan 71 tahun lalu, maut tiba-tiba jatuh dari langit, dan dunia berubah untuk selamanya," kata Obama mengawali refleksinya, seperti dikutip dari CNN, Sabtu (28/5/2016).

"Sebuah kilatan cahaya, kemudian dinding api tanpa ampun menghancurkan kota. Tragedi itu menunjukkan umat manusia punya sarana untuk menghancurkan dirinya sendiri."

Hiroshima menjadi korban pertama bom atom, yang kemudian disusul Nagasaki pada 9 Agustus 1945.

Obama meletakkan karangan bunga di Peace Memorial Park Hiroshima (REUTERS/Kimimasa Mayama)


"Mengapa kita datang ke tempat ini, ke Hiroshima? Kita datang untuk merenungkan kekuatan mengerikan yang dihentak pada masa lalu -- yang sejatinya tak begitu jauh dari saat ini. Kita datang untuk berkabung atas jiwa-jiwa yang melayang...ruh mereka bicara, meminta kita untuk melihat ke dalam diri kita sendiri..."

Sebelum menyampaikan pidatonya, Obama menuliskan pesan dalam buku tamu.  Ia berharap dunia akan, "menemukan keberanian, bersama-sama, untuk menyebarkan perdamaian, dan mewujudkan dunia tanpa senjata nuklir."

Tulisan Obama dalam buku tamu Peace Memorial Park Hiroshima (REUTERS/Kimimasa Mayama)



Revolusi Moral

Obama berbicara setelah meletakkan karangan bunga di tugu peringatan. Perdana Menteri Jepang Shinzo Abe ada di sampingnya.

Suasana hening saat Obama menyampaikan pidatonya, tak ada yang bicara. Hanya terdengar suara helikopter di kejauhan, kicauan burung, dan jepretan kamera.

Kepada dunia, Obama mengingatkan bahwa semua manusia bertanggung jawab yang sama, untuk tak mengulangi hal buruk yang pernah terjadi dalam sejarah. Untuk mencegah penggunaan senjata nuklir di masa depan.

Obama mendesak agar kemajuan di bidang sains dan teknologi diikuti dengan tanggung jawab moral yang semakin besar.

"Revolusi ilmiah yang memungkinkan pemisahan atom  juga memerlukan revolusi moral," kata Obama. "Itu mengapa kita datang ke sini."

Obama mengkampanyekan dunia tanpa senjata nuklir di Hiroshima (REUTERS/Kimimasa Mayama)


Obama menyerukan diakhirinya perang dan permusuhan yang tak masuk di akal. Meski ia sadar, kekerasan adalah bagian tak terpisahkan dari sejarah manusia.

"Perang Dunia berakhir secara brutal di Hiroshima dan Nagasaki -- hasil dari persaingan negara-negara paling kaya dan berkuasa saat itu."

Peradaban manusia, kata Obama, telah menghasilkan kota-kota besar dunia, karya seni yang luar biasa, para pemikir yang mengeluarkan gagasan tentang harmoni dan kebenaran.

"Namun, perang tumbuh dari naluri dasar manusia  yang ingin mendominasi," kata Obama. Konflik dapat menyebabkan perpecahan, dari bentuk yang paling sederhana sekalipun.

"Dunia telah berubah dari sini. Namun, hari ini, anak-anak di kota ini akan menjalani hari-harinya dalam kedamaian. Itu adalah hal berharga yang penting untuk kita lindungi," tambah Obama menutup pidatonya.

Pelukan Emosional

Setelah berpidato,Obama bertemu dengan para penyintas (survivor) bom atom. Sang presiden berbagi pelukan emosional dengan  Shigeaki Mori (79).

Mori baru berusia 8 tahun saat bom atom meluluhlantakkan Hiroshima. Kala itu, ia yang sedang dalam perjalanan menuju sekolah, terlontar dari jembatan dan jatuh ke sungai akibat efek kejut.

Ia beruntung. Sungai tersebut melindunginya dari dinding api yang berkobar dan menghanguskan apapun yang dilewati.

Mori masih ingat bagaimana selama berhari-hari ia harus mengais makanan dan air bersih. Namun, yang dijumpainya justru jasad-jasad manusia yang gosong.

Selain selamat dari tragedi Hiroshima, Shigeaki Mori berperan menguak keberadaan 12 warga Amerika Serikat yang tewas dalam peristiwa bom atom.

Obama bertemu para korban selamat bom atom Hiroshima (REUTERS/Kimimasa Mayama)


Sementara itu, penyintas yang lain, Sunao Tsuboi tak pernah membayangkan bahwa Presiden AS akan datang ke Hiroshima. "Dan aku masih hidup untuk menyaksikannya," kata dia.

Tsuboi tak mempermasalahkan permohonan maaf dari Obama.

"Kami tak butuh ucapan maaf," kata dia. "Saya berharap kehadiran Obama di Hiroshima akan berdampak baik pada kebahagiaan seluruh manusia. Saya ingin bergabung dalam upaya itu dengan kekuatan akal sehat dan melampaui kebencian."