Sukses

23-8-1973: Stockholm Syndrome, Kisah Korban Kepincut Perampok

Liputan6.com, Stockholm - Mungkin ini kisah cinta yang sulit dicerna akal sehat. Bayangkan saja, korban penganiayaan justru mencintai orang yang menganiayanya. Atau ada seseorang yang tetap bertahan dan makin cinta kepada pasangannya meski ia kerap diperlakukan buruk oleh si pasangan.

Dalam dunia psikologi, apa yang dialami korban ini dinamakan Stockholm Syndrome, istilah yang dicetuskan ahli kriminal dan psikiater Nils Bejerot dan dipopulerkan psikiater Frank Ochberg. Demikian yang dimuat BBC Magazine, seperti dikutip pada Minggu (23/8/2015).

Istilah ini bermula dari insiden perampokan di Bank Sveriges Kreditbanken, Kota Stockholm, Swedia pada 23 Agustus 1973 silam. "Pesta sudah dimulai!" begitu kata Jan-Erik Olsson perampok yang baru saja memulai aksinya di bank tersebut.

Pria yang baru saja bebas dari penjara itu menyandera 4 pegawai bank, yang terdiri dari 1 laki-laki dan 3 perempuan. Masing-masing korban bernama Birgitta Lundblad, Elisabeth Oldgren, Kristin Ehnmark and Sven Safstrom.

Beberapa karyawan disandera di lemari besi bank oleh Jan-Erik Olsson. (AFP/BBC)

Selama 6 hari, ke-4 korban disekap, diikat bom, dan dianiaya oleh Olsson di bank. Namun anehnya, para korban tersebut malah balik simpati kepada si perampok dan meminta agar mereka bisa dibebaskan bersama perampok. Kristin, perempuan yang menjadi salah satu korban bahkan jatuh cinta pada Olsson si penyandera.

Selama hampir sepekan, Olsson menyandera para korban, polisi terus bersiaga. Sejumlah sniper berjaga di titik strategis untuk mengantisipasi hal-hal yang tidak diinginkan. Sementara pelaku dikabarkan terus menyiksa korban.

Proses negosiasi berlangsung pelik. Olsson melontarkan beberapa permintaan supaya sandera bisa dibebaskan. Salah satunya bisa bebas dan keluarga bersama sandera bersamaan. Namun aparat sempat menolak.

Namun pada akhirnya polisi Swedia memutuskan menuruti permintaan tersebut. Olsson bersama keempat sandera keluar bank bersama-sama dengan gestur tubuh yang tak terduga, di mana keempat korban memeluk Olsson si penyandera demi melindungi si pelaku dari polisi. Para sandera bahkan menuduh polisi merupakan ancaman dan bisa membunuh mereka dan berbalik membela mati-matian sang perampok yang dianggap akan melindunginya.

Polisi mengenakan masker gas mengawal perampok Jan-Erik Olsson keluar dari Sveriges Kreditbanken, Kota Stockholm, Swedia. (AFP/BBC)

Di sini terlihat jelas bahwa korban telah menjalin ikatan emosional dengan penyanderanya. Rasa sayang timbul dari hati korban untuk sang perampok. Beberapa hari setelah dibebaskan, Kristin si korban dan Olsson sang perampok dikabarkan melanjutkan jalinan cintanya dan bertunangan.

"Ini adalah kondisi di mana semua prinsip yang sebelumnya Anda pegang berubah 180 derajat dan menjadi rasa yang berbeda dari biasanya," ungkap Kristin dalam wawancara dengan salah satu Radio Swedia pada 2009, sambil mengenang insiden penculikan tersebut.

Kasus Stockholm Syndrome lainnya juga pernah terjadi di Austria. Seorang bocah perempuan Austria berusia 10 tahun, Natascha Kampusch menunjukkan tanda-tanda mengalami Stockholm Syndrome, seperti menangis sedih lantaran pria yang menculiknya bunuh diri. Kasus serupa disajikan dalam film Die Hard, meski disebut sebagai "Helsinki Syndrome".

Istilah Stockholm Syndrom saat ini meluas pada kasus hubungan cinta suatu pasangan, di mana salah satu di antaranya merasa semakin sayang meski pasangannya terus-terus menyiksa dirinya.

Sejarah lain mencatat pada 23 Agustus 1945, Bung Karno memberikan pidato perdana melalui radio kepada rakyat Indonesia pasca-Tanah Air merdeka. Di tanggal yang sama tahun 1996, untuk yang kali pertama, Osama bin Laden mengobarkan perang terhadap Amerika Serikat. (Ans/Nda)