Sukses

Mengintip Latihan Militer Tentara Wanita Kurdi Penumpas ISIS

Liputan6.com, Damaskus - Perbedaan jenis kelamin tidak menjadi penghalang bagi sekelompok wanita Kurdi yang ikut angkat senjata untuk mempertahankan kaum Kurdi dari berbagai serangan. Hal ini membuat sirna anggapan yang selama ini cenderung memperlemah kaum wanita.

Di suatu kawasan yang kering dan terasing di sepanjang perbatasan Suriah bagian timur laut, ribuan wanita muda Kurdi bergabung ke barisan pasukan untuk melindungi kaum mereka dari serangan pasukan pemerintah Bashar Assad, militan ISIS, dan militan Front Al Nusra yang disebut terkait dengan Al Qaeda.

Sebagaimana dilansir Liputan6.com dari laporan wartawan foto Erin Trieb yang disajikan NBC News, Jumat(12/9/2014), ada sekitar 7.000 tentara sukarelawan yang bergabung dengan Kesatuan Perlindungan Wanita (YPJ), yang muncul sebagai bagian dari perluasan perlawanan Kurdi.

Kelompok ini ditengarai sangat dekat dengan PKK (Kurdistan Worker's Party), suatu organisasi yang memperjuangkan hak-hak kaum Kurdi di negara tetangga di Turki dan telah ditetapkan sebagai kelompok teroris oleh Departemen Luar Negeri AS.

Sambil bahu-membahu dengan kekuatan Pershmerga Kurdi, YPJ telah memerangi kelompok-kelompok militan Islam yang telah mencaplok wilayah yang luas di Irak dan Suriah dan melakukan deklarasi "khalifah lintas batas".

 

Anggota YPJ: Kapten Ronahi Anduk (34) (kiri),  Gian Dirik (tengah), dan Dirsim Judi (18)(kanan), mempersiapkan senjata Dushka di kota Til Kocer di Suriah.

 

Pemudi baru YPJ ikut serta dalam latihan fajar dekat Kota Derek di Rojava, suatu wilayah Kurdi di dalam Suriah. Jadwal latihan sangat ketat dan mensyaratkan disiplin: prajurit hanya tidur selama 6 jam tiap malam dan bangun pada jam 4 pagi; hari mereka berisi jadwal padat latihan dan pelajaran kelas. Sebelum bergabung dengan YPJ, kebanyakan gadis-gadis ini ikutan kegiatan jasmani atau olahraga.

Tentara YPJ, Narlene (20) mengenakan selendang menutupi mukanya di suatu pangkalan tentara Irak yang ditinggalkan di luar kota Raabia di Suriah.

Bersambung: Tak menikah demi berperang>>>

2 dari 2 halaman

Tak menikah demi berperang

 

Kebanyakan tentara YPJ tidak menikah dan memilih untuk mengabdikan diri dalam perjuangan, hidup disiplin, berlatih, beramal, dan terutama "Havar", yang berarti "persahabatan" dalam bahasa Kurdi. Havar juga menjadi motto mereka. Mereka yang bertempur berusia dari 18 hingga 24 tahun, tapi yang direkrut ada juga yang masih berusia 12 tahun sebagai juru masak, melakukan bersih-bersih dan berlatih bersama mereka yang lebih tua.

 

Tentara YPJ, Shavin Bachouk, tidur lebih awal di pagi hari di pangkalan tentara Irak yang telah kosong di luar kota Raabia di Suriah.

 

Di antara kalangan Kurdi, dikatakan bahwa para pejuang wanita mereka menggentarkan kaum militan ISIS, yang percaya bahwa jika mereka terbunuh oleh seorang wanita, maka mereka tidak akan ke surga.

 

Para pasukan YPJ sedang menikmati sarapan yang terdiri dari cabai, tomat, keju, roti datar, dan teh di pangkalan mereka di Til Kocer di Suriah. Makanan mereka memang sederhana saja karena kebanyakan pasokan untuk mereka, termasuk makanan, merupakan sumbangan masyarakat setempat.

 

Anggota baru yang masih muda ikut serta dalam latihan "keterampilan fajar" di dekat kota Derek di Suriah.

 

Nuhad Kocer (29) duduk di markas militer YPJ di Til Kocer di Suriah. Di sampingnya ada "Sang boneka Azadi", yang dinamai demikian sesuai dengan nama tentara YPJ, Azadi Ristem, yang gambarnya ada di bingkai foto di kiri. Azadi Ristem terbunuh oleh seorang penembak jitu Front Al Nusra.

 

Dalam suatu pemakaman di kota Derek di Suriah, para tentara YPJ menggotong peti mati Evrim, seorang tentara wanita yang gugur sewaktu memerangi militan  ISIS.

 

Ada sekitar 24 tentara YPJ dan YPG (kesatuan pria) yang dimakamkan pada Agustus 2014 lalu di pemakaman ini. Para anggota keluarga memandang dengan hormat ketika anak-anak mereka gugur dalam pertempuran dan menyebut para tentara itu "Sehid" yang berarti "Syuhada" dalam bahasa Kurdi. Ada suatu pepatah dalam masyarakat itu, "Sehid na merin" yang artinya, "Syuhada tidak pernah mati."

 

Seorang anggota baru yang masih muda tiba dengan baju warna merah muda di hari pertamanya di pangkalan latihan di dekat kota Derek di Suriah.

 

Para anggota muda membetulkan rambut pada jam 4.30 pagi sebelum ikut dalam latihan di dekat kota Derek di Suriah.

 

Tentara YPJ, Asadi Kamishloo (22), sedang dicabut alisnya oleh seorang rekannya di pangkalan di kota Til Kocer di Suriah. Para tentara wanita mengalami ikatan yang unik dan dekat selama tinggal berdekatan bersama, dan latihan dan berperang bersama.

 

Anggota baru YPJ menangis dan memeluk sesama tentara yang akan dikirim ke garis depan pertempuran.

 

Seorang tentara bernama Amara mengenakan lambang dengan bendera resmi YPJ di seragamnya. Warna-warna merah, kuning, dan hijau terlihat di selendang, bendera, dan poster di seantero wilayah itu.

 

Pengungsi Yazidi, Sohare Salam (13), menyantap sepotong roti untuk pertama kalinya sejak beberapa hari berlalu, di belakang sebuah truk, setelah ia tiba dengan selamat di Til Kocer, Suriah.

 

Sohare dan keluarganya terjebak di Pegunungan Sinjar setelah kaum militan ISIS menyerang desa mereka, membunuh ribuan orang dan memperbudak ratusan wanita dan anak-anak. Tentara YPG dan YPJ memainkan peranan penting dalam membantu pembebasan kaum Yazidi yang terjebak di puncak gunung.

 

Jin (di sebelah kiri), seorang tentara YPJ, berbagi saat-saat dekat dengan ibunya, Amina, di rumah mereka di Girke Lege di Suriah. Walaupun ia tinggal di dekat markas, Jin tidak bertemu dengan ibunya selama lebih dari satu bulan karena jadwal militer yang padat di YPJ.

 

Para tentara YPJ bersorak sorai dan menampangkan tanda perdamaian ketika melihat sejumlah truk membawa kaum pengungsi dari Gunung Sinjar tiba dengan selamat di Til Kocer, Suriah.

 

Para anggota muda YPJ beristirahat dengan menari dan menyanyi lagu-lagu tradisional YPJ di kala subuh dekat kota Derek di Suriah.

(Riz)

Loading