Sukses

Jadi Budaya, Jutaan Warga India Buang Hajat di Tempat Umum

Liputan6.com, New Delhi - Di sepanjang rel kereta api di ibukota New Delhi, India, tampak sekerumunan massa berjongkok sendirian di balik pohon atau rerumputan dengan cukup berjarak satu sama lain. Mereka adalah 48% warga India yang tidak memiliki akses ke sanitasi yang layak dan harus membuang air di tempat terbuka.

Hal itu merupakan acara ritual setiap pagi bagi banyak orang di negara itu, meskipun adanya risiko bahaya terkena diare atau hepatitis. Bagi perempuan, ada bahaya tambahan. Setiap kali seorang perempuan buang air di ruang terbuka, maka ia dihadapkan juga pada bahaya serangan seksual.

Seperti dilansir BBC, Selasa 17 Juni 2014, baru-baru ini 2 perempuan remaja di Negara Bagian Uttar Pradesh diperkosa sekelompok lelaki dan kemudian ditemukan tewas tergantung di sebuah pohon setelah mereka meninggalkan desa mereka untuk pergi buang air.

Rumah mereka, seperti juga ratusan juta rumah lain di negara itu, memang tidak memiliki sarana toilet, sehingga cara satu-satunya adalah dengan buang air di luar ruang.

Budaya yang Sudah Mengakar

Selain kemiskinan dan tidak adanya jamban, alasan lain penyebab buang air besar dan kecil di tempat umum adalah norma budaya yang mengakar yang menerima praktik semacam itu.

Laporan baru Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) yang berjudul 'Tidak Ada Privasi' mengatakan lebih dari setengah miliar orang di India masih terus buang air besar di tempat terbuka, tanpa adanya martabat atau privasi.

Pemerintah India sudah memulai kampanye-kampanye kesadaran tentang kebersihan dan sanitasi. Kampanye dengan slogan "Tidak ada toilet, tidak ada pengantin" yang diluncurkan di Negara Bagian Haryana tahun 2005 merupakan salah satu contohnya.

Tujuannya adalah menyerukan perempuan untuk menolak menikahi lelaki yang tidak memiliki kamar kecil di rumahnya.

Belajar dari Bangladesh dan Vietnam

2 Badan PBB, UNICEF dan WHO mengatakan di India lebih dari 600 juta orang masih buang air di tempat terbuka dan para ilmuwan mengatakan miliaran dolar yang dianggarkan untuk meningkatkan sanitasi tidak memecahkan masalah.

Sementara di Indonesia, berdasarkan data WHO dan UNICEF pada 2012, 63 juta orang buang air sembarangan.

Namun, para ahli dari PBB mengatakan Bangladesh dan Vietnam berhasil mengatasi masalah buang air sembarangan ini tahun lalu. Pada tahun 1990-an, sebanyak 1 dari 3 orang buang air sembarangan di kedua negara itu.

Secara keseluruhan, jumlah orang yang buang air sembarangan turun dari 1,3 miliar orang pada 1990 menjadi satu miliar orang saat ini. Sekitar 90% dari jumlah itu tinggal di daerah pedesaan.

Menurut penelitian PBB mereka masih buang air besar di parit, di balik semak-semak atau aliran sungai tanpa privasi. Praktik seperti ini masih meningkat datanya di 26 negara di sub-Sahara Afrika.