Liputan6.com, Jakarta: Lembaga Bantuan Hukum Kesehatan akan mensomasi pihak Rumah Sakit Metropolitan Medical Center, Kuningan, Jakarta Selatan. Somasi tertulis ini diajukan sehubungan dengan penjelasan pihak rumah sakit yang menyebutkan penyakit yang diderita keempat warga Teluk Buyat, Sulawesi Utara, bukan akibat tercemar merkuri atau Hydragyricum (Hg). Padahal, hasil penelitian Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Indonesia menyebutkan sampel darah keempat korban positif mengandung merkuri. Demikian dikemukakan Kepala Divisi Nonlitigasi LBH Kesehatan Albert Panggabean di Jakarta, Kamis (29/7).
Menurut Albert, penjelasan pihak MMC tentang kondisi penyakit yang diderita Rashid Rahman, salah seorang dari empat warga Teluk Buyat yang dioperasi di rumah sakit tersebut terlalu terburu-buru. Apalagi, penjelasan Rashid tak terkontaminasi merkuri alias air raksa tak berdasarkan hasil penelitian. Sejatinya, penjelasan tersebut berbeda dengan hasil dari FMIPA UI [baca: Darah Empat Warga Teluk Buyat Mengandung Merkuri].
Menanggapi hal tersebut, Direktur RS MMC Muki Reksoprodjo menjelaskan, pihaknya dari awal memeriksa Rashid bukan berkaitan ada atau tidaknya pencemaran di Teluk Buyat mengingat bukan keahliannya. Tapi, menurut Muki, pemeriksaan terhadap Rashid adalah dari aspek patologi anatomi yakni mengoperasi benjolan di pundak pasien dan kemungkinan asal usul penyakit itu [baca: Tim Dokter MMC Masih Memeriksa Warga Buyat]. Jika kemudian pihak Humas MMC menjelaskan bahwa penyakit Rashid tak terkait dengan pencemaran, itu berarti telah terjadi mispersepsi.
Di sisi lain, pemerintah sepakat memberi sanksi berupa tuntutan jika PT Newmont Minahasa Raya terbukti mencemari Teluk Buyat. Kendati begitu, semua pihak diminta menunggu hasil penelitian yang dilakukan tim gabungan bentukan pemerintah. Pasalnya, tim gabungan saat ini masih berada di kawasan Teluk Buyat untuk meneliti berbagai aspek berkaitan dengan dugaan pencemaran di sana.
Menurut Direktur Jenderal Geologi dan Sumber Daya Mineral Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah Simon Sembiring, pemerintah tak mungkin begitu saja mengeluarkan keputusan sebelum hasil penelitian tim gabungan diketahui. Tapi, jika nantinya hasil penyelidikan menyebutkan Teluk Buyat positif tercemar merkuri dan arsenik (As) yang dibuang PT Newmont, pemerintah segera bertindak tegas.
Sementara Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Longgena Ginting mengingatkan, meski kadar merkuri yang terkandung dalam sampel darah empat warga masih rendah, bukan berarti warga di sana terbebas dari ancaman minamata. Sebab, kadar merkuri yang rendah ini akan terus berakumulasi jika sumbernya masih ada atau pabrik masih membuang limbah air raksa secara bebas. Itulah sebabnya, mereka perlu menunggu hasil penelitian yang dilakukan tim gabungan bentukan pemerintah. Sejatinya, sebagian besar warga Buyat berharap penderitaan mereka karena iritasi kulit, pusing-pusing serta ada benjolan di beberapa bagian tubuh bukan lagi disebutkan karena masalah kekurangan gizi.(ORS/Tim Liputan 6 SCTV)
Menurut Albert, penjelasan pihak MMC tentang kondisi penyakit yang diderita Rashid Rahman, salah seorang dari empat warga Teluk Buyat yang dioperasi di rumah sakit tersebut terlalu terburu-buru. Apalagi, penjelasan Rashid tak terkontaminasi merkuri alias air raksa tak berdasarkan hasil penelitian. Sejatinya, penjelasan tersebut berbeda dengan hasil dari FMIPA UI [baca: Darah Empat Warga Teluk Buyat Mengandung Merkuri].
Menanggapi hal tersebut, Direktur RS MMC Muki Reksoprodjo menjelaskan, pihaknya dari awal memeriksa Rashid bukan berkaitan ada atau tidaknya pencemaran di Teluk Buyat mengingat bukan keahliannya. Tapi, menurut Muki, pemeriksaan terhadap Rashid adalah dari aspek patologi anatomi yakni mengoperasi benjolan di pundak pasien dan kemungkinan asal usul penyakit itu [baca: Tim Dokter MMC Masih Memeriksa Warga Buyat]. Jika kemudian pihak Humas MMC menjelaskan bahwa penyakit Rashid tak terkait dengan pencemaran, itu berarti telah terjadi mispersepsi.
Di sisi lain, pemerintah sepakat memberi sanksi berupa tuntutan jika PT Newmont Minahasa Raya terbukti mencemari Teluk Buyat. Kendati begitu, semua pihak diminta menunggu hasil penelitian yang dilakukan tim gabungan bentukan pemerintah. Pasalnya, tim gabungan saat ini masih berada di kawasan Teluk Buyat untuk meneliti berbagai aspek berkaitan dengan dugaan pencemaran di sana.
Menurut Direktur Jenderal Geologi dan Sumber Daya Mineral Departemen Permukiman dan Prasarana Wilayah Simon Sembiring, pemerintah tak mungkin begitu saja mengeluarkan keputusan sebelum hasil penelitian tim gabungan diketahui. Tapi, jika nantinya hasil penyelidikan menyebutkan Teluk Buyat positif tercemar merkuri dan arsenik (As) yang dibuang PT Newmont, pemerintah segera bertindak tegas.
Sementara Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Longgena Ginting mengingatkan, meski kadar merkuri yang terkandung dalam sampel darah empat warga masih rendah, bukan berarti warga di sana terbebas dari ancaman minamata. Sebab, kadar merkuri yang rendah ini akan terus berakumulasi jika sumbernya masih ada atau pabrik masih membuang limbah air raksa secara bebas. Itulah sebabnya, mereka perlu menunggu hasil penelitian yang dilakukan tim gabungan bentukan pemerintah. Sejatinya, sebagian besar warga Buyat berharap penderitaan mereka karena iritasi kulit, pusing-pusing serta ada benjolan di beberapa bagian tubuh bukan lagi disebutkan karena masalah kekurangan gizi.(ORS/Tim Liputan 6 SCTV)
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5226996/original/003118400_1747799527-Putin.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8528276/original/060137100_1782459682-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-26T143742.924.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259258/original/056986600_1781493541-3549582318816429688.jpeg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/419810/original/300704aLBH_Kesehatan.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8456333/original/005196400_1782354547-063_2282682114.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8560764/original/057361200_1782508647-000_B8GJ8DG.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8560483/original/094482200_1782508278-000_B8GH2KY.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264052/original/051981800_1782069590-Spain_s_Lamine.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5476731/original/083749300_1768796381-000_936R8YN.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261470/original/080593900_1781707583-haaland.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260720/original/014464000_1781645481-HK9wcDqXAAAOMgO.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8389795/original/062452300_1782269925-inggris.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8309678/original/024525200_1782176074-AP26174009363435-Prancis.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263769/original/046217200_1782009540-Jeremy_Doku.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8258188/original/054428500_1781325475-AP26164102653511.jpg)