Liputan6.com, Jakarta: Pemerintah akan memperketat pengawasan lingkungan terhadap limbah perusahaan tambang menyusul mencuatnya kasus dugaan penyakit minamata yang menyerang warga Teluk Buyat, Sulawesi Utara. Hal ini dikatakan Direktur Jenderal Geologi dan Sumber Daya Mineral Simon F. Sembiring kepada wartawan di Jakarta, Kamis (22/7).
Simon menjelaskan, sebenarnya pengawasan sudah diperketat sejak beberapa waktu silam, khususnya terhadap pertambangan emas yang akan ditutup seperti, PT Newmont Minahasa Raya. Meski begitu, Simon mengatakan, pemerintah akan membentuk tim baru yang independen untuk mempelajari kerusakan lingkungan di sekitar Newmont Minahasa Raya sebelum perusahaan ini ditutup pada September mendatang. "Kita bikin penelitian secara tuntas," kata Simon. Penelitian tidak semata-mata menyelidiki kandungan merkuri, arsenik, sedimen tapi secara keseluruhan dan melibatkan semua instansi terkait.
Selama ini, pemerintah menilai limbah atau tailing Newmont Minahasa Raya yang dibuang ke laut, khususnya arsenik, merkuri, dan sianida masih di bawah ambang batas dan tidak membahayakan lingkungan. Catatan pemerintah menyebutkan, Newmont Minahasa Raya membuang limbah atau tailing ke laut melalui pipa sepanjang satu kilometer atau sekitar 850 meter dari garis pantai dengan kedalaman 82 meter. Kondisi tersebut dinilai sudah memenuhi syarat [baca: Pemerintah Belum Bisa Menindak PT Newmont Minahasa].
Ekspos gencar mengenai penyakit yang diduga muncul karena limbah Newmont juga menyentak kesadaran publik di Nusatenggara Barat. Sejumlah mahasiswa dan aktivis lembaga swadaya masyarakat berdemonstrasi di Kantor Guburnur NTB di Mataram, kemarin. Mereka menuntut pemerintah membuka kembali kasus dugaan pencemaran merkuri dari limbah PT Newmont Nusatenggara (NNT) terhadap warga Tongo Sejorong, Sumbawa, dua tahun silam [baca: Kasus Minamata Mempengaruhi PT NNT di NTB].
Sambil membawa berbagai spanduk bernada protes terhadap Newmont, para demonstran mendesak pemerintah meneliti ulang hasil laporan uji kelayakan limbah lingkungan NNT. Mereka curiga warga di wilayah tailing Newmont di Teluk Senunu, Batu Hijau, tercemar limbah merkuri, seperti halnya warga di Teluk Buyat. Sebagian warga juga terserang penyakit gatal-gatal, pengelupasan kulit, mata rabun, rambut rontok hingga kelumpuhan.
Para pengunjuk rasa juga membawa dokumen yang dibuat lembaga swadaya masyarakat lingkungan berisi laporan dokter Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta soal hasil pemeriksaan atas warga setempat yang menunjukkan adanya penyakit sejenis minamata di wilayah ini. Menanggapi hal itu, Pemerintah Provinsi NTB dan Badan Pengawas Dampak Lingkungan Daerah setempat tetap berpegang pada hasil penelitian tim independen dan laporan Kementerian Lingkungan Hidup yang menyebutkan tidak ada kasus pencemaran lingkungan di sekitar tambang Batu Hijau.(TNA/Tim Liputan 6 SCTV)
Simon menjelaskan, sebenarnya pengawasan sudah diperketat sejak beberapa waktu silam, khususnya terhadap pertambangan emas yang akan ditutup seperti, PT Newmont Minahasa Raya. Meski begitu, Simon mengatakan, pemerintah akan membentuk tim baru yang independen untuk mempelajari kerusakan lingkungan di sekitar Newmont Minahasa Raya sebelum perusahaan ini ditutup pada September mendatang. "Kita bikin penelitian secara tuntas," kata Simon. Penelitian tidak semata-mata menyelidiki kandungan merkuri, arsenik, sedimen tapi secara keseluruhan dan melibatkan semua instansi terkait.
Selama ini, pemerintah menilai limbah atau tailing Newmont Minahasa Raya yang dibuang ke laut, khususnya arsenik, merkuri, dan sianida masih di bawah ambang batas dan tidak membahayakan lingkungan. Catatan pemerintah menyebutkan, Newmont Minahasa Raya membuang limbah atau tailing ke laut melalui pipa sepanjang satu kilometer atau sekitar 850 meter dari garis pantai dengan kedalaman 82 meter. Kondisi tersebut dinilai sudah memenuhi syarat [baca: Pemerintah Belum Bisa Menindak PT Newmont Minahasa].
Ekspos gencar mengenai penyakit yang diduga muncul karena limbah Newmont juga menyentak kesadaran publik di Nusatenggara Barat. Sejumlah mahasiswa dan aktivis lembaga swadaya masyarakat berdemonstrasi di Kantor Guburnur NTB di Mataram, kemarin. Mereka menuntut pemerintah membuka kembali kasus dugaan pencemaran merkuri dari limbah PT Newmont Nusatenggara (NNT) terhadap warga Tongo Sejorong, Sumbawa, dua tahun silam [baca: Kasus Minamata Mempengaruhi PT NNT di NTB].
Sambil membawa berbagai spanduk bernada protes terhadap Newmont, para demonstran mendesak pemerintah meneliti ulang hasil laporan uji kelayakan limbah lingkungan NNT. Mereka curiga warga di wilayah tailing Newmont di Teluk Senunu, Batu Hijau, tercemar limbah merkuri, seperti halnya warga di Teluk Buyat. Sebagian warga juga terserang penyakit gatal-gatal, pengelupasan kulit, mata rabun, rambut rontok hingga kelumpuhan.
Para pengunjuk rasa juga membawa dokumen yang dibuat lembaga swadaya masyarakat lingkungan berisi laporan dokter Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo Jakarta soal hasil pemeriksaan atas warga setempat yang menunjukkan adanya penyakit sejenis minamata di wilayah ini. Menanggapi hal itu, Pemerintah Provinsi NTB dan Badan Pengawas Dampak Lingkungan Daerah setempat tetap berpegang pada hasil penelitian tim independen dan laporan Kementerian Lingkungan Hidup yang menyebutkan tidak ada kasus pencemaran lingkungan di sekitar tambang Batu Hijau.(TNA/Tim Liputan 6 SCTV)
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5226996/original/003118400_1747799527-Putin.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8528276/original/060137100_1782459682-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-26T143742.924.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259258/original/056986600_1781493541-3549582318816429688.jpeg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/419367/original/230704aMinamataPem.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8256534/original/027399300_1781161052-Vertical_500x656_-_Pentas_Bola_Dunia_2026__3_.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264303/original/054619900_1782106281-AP26172737361128.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260726/original/045162900_1781650279-Mohammad_Mohebi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260101/original/022902800_1781568480-063_2281783911.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8456333/original/005196400_1782354547-063_2282682114.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8560764/original/057361200_1782508647-000_B8GJ8DG.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8560483/original/094482200_1782508278-000_B8GH2KY.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8264052/original/051981800_1782069590-Spain_s_Lamine.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5476731/original/083749300_1768796381-000_936R8YN.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261470/original/080593900_1781707583-haaland.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8260720/original/014464000_1781645481-HK9wcDqXAAAOMgO.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8389795/original/062452300_1782269925-inggris.jpg)