Presiden Menolak Darurat Militer Diterapkan di Aceh

Dukungan politik, masyarakat, dan internasional belum matang bagi sebuah operasi militer. Seorang polisi tewas dan seorang lagi luka-luka dalam kontak senjata dengan GAM di Aceh Besar.

Diterbitkan 07 April 2003, 20:51 WIB
Share
Copy Link
Batalkan
Liputan6.com, Jakarta: Pembakaran Kantor Komite Keamanan Bersama di Langsa, Nanggroe Aceh Darussalam, Ahad kemarin, tak meluluhkan niat pemerintah menyelesaikan kasus Aceh secara damai. Dalam Sidang Kabinet Terbatas, Senin (7/4), Presiden Megawati Sukarnoputri memutuskan tetap melanjutkan perjanjian damai dengan kelompok separatis Gerakan Aceh Merdeka yang ditandatangani di Swiss, Desember tahun silam. Padahal, pada kesempatan yang sama, Panglima TNI Jenderal Endriartono Sutarto meminta darurat militer dan operasi militer berskala besar diterapkan di Aceh. Tapi, Presiden menolak dengan pertimbangan dukungan politik, masyarakat, dan internasional belum matang bagi sebuah operasi militer di Tanah Rencong.

Kepala Polri Jenderal Polisi Da`i Bachtiar menilai perusakan Kantor KKB sebagai bentuk kekecewan masyarakat Aceh. Pasalnya, utusan GAM di KKB tak menjalankan tugas sesuai dengan harapan masyarakat. " Dari 13 orang yang dimintai keterangan, empat orang mengaku perbuatannya merusak dan membakar karena kecewa terhadap anggota GAM yang duduk di JSC Aceh Timur," ungkap Da`i. Tapi sejauh ini, polisi belum menetapkan tersangka kasus tersebut [baca: Giliran Kantor JSC Langsa Dibakar Massa]. Saat ini, Da`i mengaku akan lebih ketat mengamankan Kantor KKB meski tak diminta. "Kita sekarang harus lebih ketat lagi, walaupun mereka tidak minta," ujar Da`i.

Hari ini juga terjadi kontak senjata antara polisi dan GAM di Lamtamot, Aceh Besar. Brigadir Polisi Dua Edison Tanjung tewas dan Brigadir Polisi Kepala Singgih luka serius dalam insiden ini. Tak hanya itu. Dua pucuk senjata jenis revolver kaliber 38 juga dibawa lari pelaku. Kini, Singgih dirawat di Rumah Sakit Zainul Abidin, Banda Aceh. Sedangkan korban tewas telah dievakuasi dari lokasi kejadian. Kepala Bidang Penerangan Kepolisian Daerah NAD Ajun Komisaris Besar Polisi Sayed Husaini menduga pelakunya adalah anggota GAM yang sudah menunggu di lokasi. Namun sejauh ini, pihak GAM belum dapat dikonfirmasi mengenai insiden ini.(AWD/Tim Liputan 6 SCTV)

Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6