Bukan Sekadar Hiburan, Musik Jadi Terapi Emosi bagi Anak Disabilitas

Seni musik pegang peran penting bagi perkembangan komunikasi anak-anak disabilitas.

Diterbitkan 28 April 2026, 16:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Seni musik adalah media terapi dan pengembangan emosi bagi anak termasuk penyandang disabilitas. Seni terutama seni musik memiliki peran penting seperti disampaikan psikolog dari Rumah Stimulasi Dr. Yulianti, M.M.Pd.

“Musik mampu menjadi jembatan komunikasi yang efektif, bahkan bagi individu yang kesulitan mengekspresikan diri secara verbal,” kata Yulianti mengutip keterangan tertulis, Selasa (28/4/2026).

Guna memberi dukungan bagi anak-anak disabilitas, Yulianti hendak hadir dalam konser inklusif bertajuk Bunyi Festival Inclusive Concert 2026. Ini adalah pertunjukan kreatif yang bertujuan menunjukkan kepedulian terhadap kesetaraan di industri kreatif.

Konser yang digelar pada 1 Mei 2026 merupakan gerakan kreatif yang fokus pada pengembangan ekosistem inklusif di bidang hiburan dan edukasi.

Menurut pihak penyelenggara, Dadi Firmansyah dari sekolah musik Noise Creator Indonesia, Bandung, ini merupakan gerakan sosial yang mendorong perubahan cara pandang masyarakat terhadap nilai inklusif.

“Semua berhak bersuara, semua berhak didengar,” katanya.

Melalui konser ini, Dadi ingin membuktikan bahwa industri kreatif dapat menjadi wadah pemberdayaan yang berdampak sosial luas. Mengusung tema Aku Dengan Caraku, festival yang digelar di Ubertos Bandung ini menjadi ruang ekspresi bagi individu dari berbagai latar belakang, termasuk anak-anak dengan kebutuhan khusus.

Alat Musik dari Bahan Daur Ulang

Dadi menambahkan, aspek keberlanjutan juga menjadi nilai penting dalam festival ini. Seluruh instrumen musik yang digunakan dalam pertunjukan merupakan hasil karya dari Noise Creative Lab, sebuah inisiatif yang mengolah material daur ulang menjadi alat musik.

“Langkah ini menunjukkan bahwa inovasi dalam industri kreatif dapat berjalan seiring dengan kepedulian terhadap lingkungan.”

Alat musik hasil daur ulang ditampilkan dengan berbagai musisi dan komunitas kreatif, di antaranya komunitas perkusi USBP dari Bandung hingga AMAN perkusi dari Jakarta.

“Melalui perpaduan antara seni, pendidikan, dan kepedulian sosial, Bunyi Festival Inclusive Concert 2026 diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi pelaku industri kreatif lainnya untuk lebih terbuka, adaptif, dan inklusif dalam menciptakan ruang berkarya,” tutup Dadi.