Orang dengan Bipolar Disorder Rentan Terkena Gangguan Kesehatan Mental Lainnya

Penderita bipolar berpotensi terkena gangguan kesehatan mental lain seperti gangguan kecemasan, kepribadian, dan ADHD.

Diterbitkan 31 Maret 2026, 08:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Gangguan bipolar tidak hanya memengaruhi perubahan suasana hati, tetapi juga berpotensi berkaitan dengan gangguan kesehatan mental lain yang muncul secara bersamaan. Pada beberapa kasus, penderita bipolar masih mengalami gejala psikologis yang masih ada meskipun sedang menjalani pengobatan. 

Sekitar 65 persen orang dengan gangguan bipolar memiliki setidaknya satu kondisi kejiwaan lain yang menyertai. Kondisi tersebut bisa membuat gejala bipolar menjadi lebih berat dan mengganggu aktivitas sehari-hari.

Psikiater di University of Utah Health, Amerika Serikat, Howard Weeks, menegaskan bahwa kondisi psikologis penyerta bisa memperburuk keadaan pasien.

“Memiliki kondisi psikologis penyerta yang tidak diobati bisa memperburuk gejala bipolar Anda, sehingga menyulitkan Anda menjalani hari dengan tenang,” ujarnya dikutip dari Everyday Health pada Senin, 30 Maret 2026.

Penelitian tahun 2021 juga menunjukkan bahwa faktor genetik dan trauma masa kecil berpotensi berperan pada munculnya kondis orang dengan gangguan bipolar. 

1. Gangguan Kecemasan

Gangguan kecemasan merupakan kelompok kondisi mental yang ditandai rasa takut, khawatir, atau cemas berlebihan hingga mengganggu aktivitas normal. Sekitar 40 persen penderita bipolar juga mengalami gangguan kecemasan pada suatu fase hidupnya.

Gejalanya meliputi rasa khawatir yang terus-menerus dan intens, sulit berkonsentrasi, jantung berdebar, mual, gemetar, hingga sakit perut. Saat depresi muncul, kecemasan biasanya ikut memburuk.

“Ketika seseorang dengan gangguan bipolar mengalami depresi, hal ini bisa menimbulkan kecemasan berlebih,” jelasnya.

 

2. Gangguan Kepribadian

Gangguan kepribadian ambang atau Borderline Personality Disorder (BPD) ditandai dengan sulit mengatur emosi, perilaku impulsif, serta hubungan interpersonal yang tidak stabil. Sekitar 10 persen penderita bipolar tipe 1, dan 20 persen bipolar tipe 2 juga memiliki BPD.

Gejalanya menyertai emosi yang sulit dikendalikan, takut ditinggalkan, hubungan yang tidak stabil, identitas diri negatif, perubahan suasana hati drastis, perasaan tidak berharga, dan kemarahan hebat.

Howard menyoroti bahwa kondisi ini sangat sering salah didiagnosis sebagai bipolar. Hal itu terjadi karena gejalanya sangat mirip, terutama perubahan suasana hati dan perilaku impulsif. Kedua gangguan bahkan muncul bersamaan, yang dikenal dengan istilah borderpolar.

Penelitian lain menemukan sebanyak 40 persen penderita BPD awalnya salah didiagnosis sebagai gangguan bipolar, sehingga evaluasi klinis lebih lanjut sangat diperlukan.

3. ADHD

ADHD atau Attention Deficit Hyperactivity Disorder adalah gangguan perkembangan saraf yang ditandai kesulitan fokus, hiperaktivitas, dan perilaku impulsif. Penelitian 2021 menunjukkan sekitar 17 persen orang dewasa dengan bipolar juga didiagnosis ADHD.

Gejalanya mulai dari sulit berkonsentrasi, mudah terdistraksi, sering lupa, kesulitan menyelesaikan tugas, tampak melamun saat berbicara, banyak bergerak, terlalu banyak bicara, tidak sabar, gelisah, hingga sering mengambil keputusan impulsif tanpa memikirkan konsekuensinya.

Hal yang membuat diagnosis menjadi sulit adalah karena gejala yang saling berkaitan. Tingkat energi tinggi, pola pikir tidak terorganisasi, dan kemampuan perencanaan yang buruk pada ADHD bisa terlihat sangat mirip dengan kecemasan.

Ketika ADHD dan bipolar terjadi bersamaan, kedua kondisi tersebut bisa saling memperburuk, seseorang tersebut bisa kesulitan menjalani hari dengan damai.

4. Gangguan Penggunaan Zat

Gangguan penggunaan zat atau substance use disorder (SUD) adalah kondisi ketika seseorang menggunakan obat-obatan atau alkohol secara tidak terkendali meski menimbulkan konsekuensi buruk. Diperkirakan setidaknya 40 persen penderita bipolar berisiko mengalami kondisi ini.

Gejalanya yaitu dorongan kuat untuk memakai zat, keinginan berhenti tetapi gagal, tanggung jawab sekolah atau pekerjaan tak dilaksanakan, penggunaan berlanjut meskipun sudah berdampak buruk, hingga gejala candu zat.

Salah satu penyebab kondisi ini sering muncul bersamaan adalah kebiasaan penderita menggunakan zat untuk mengobati diri sendiri dari gejala bipolar. 

“Kemungkinan lain adalah ketika pasien mengalami depresi atau bipolar, mereka mungkin mulai menggunakan zat-zat terlarang padahal biasanya mereka tidak akan melakukannya,” ungkapnya.

Seiring waktu hal ini memicu gangguan penggunaan zat.  Penelitian menunjukkan adanya kemungkinan memiliki kemiripan kode genetik antara gangguan bipolar, konsumsi alkohol berlebihan, gangguan penggunaan alkohol, dan skizofrenia.