Sukses

Peneliti Gunakan VR Game untuk Deteksi Gejala ADHD dan Autisme pada Anak

Liputan6.com, Jakarta Baru-baru ini, para peneliti merilis hasil penelitian kegunaan permainan realitas virtual (VR Game) untuk mendeteksi gangguan hiperaktivitas defisit perhatian (ADHD) melalui perbedaan gerakan mata.

Dilansir Interesting Engineering, menurut siaran pers yang diterbitkan oleh Aalto University, metode ini berpotensi digunakan sebagai dasar untuk pengobatan ADHD dan, dengan perubahan kecil, untuk menilai kondisi lain seperti autisme.

Menurut survei nasional orang tua di AS, ADHD adalah gangguan perhatian umum yang mempengaruhi enam juta anak AS antara usia 3 dan 17 tahun.

Terlepas dari penelitian selama beberapa dekade dalam indikator empiris, ADHD masih didiagnosis melalui kuesioner, wawancara, dan observasi subyektif. Namun, keandalan hasilnya dipertanyakan, dan tes perilaku standar tidak menunjukkan bagaimana anak menangani situasi sehari-hari.

Sebuah tim peneliti dari Aalto University, the University of Helsinki, dan Ko Akademi University membuat game VR bernama EPELI. Game ini dirancang untuk dapat digunakan untuk mendeteksi gejala ADHD pada anak-anak dengan mensimulasikan peristiwa kehidupan nyata.

Sebagai langkah selanjutnya, tim peneliti memeriksa gerakan mata anak-anak dalam dua game VR dan menggunakan pembelajaran mesin untuk mencari kelainan pada anak dengan ADHD. Anak-anak muda memainkan EPELI, game yang dikembangkan sebelumnya, dan game kedua bernama Shot the Target, di mana pemain diarahkan untuk menemukan benda-benda di lingkungan dan "menembak" mereka dengan menatap mereka.

Studi tersebut melibatkan 73 anak, 37 di antaranya didiagnosis dengan ADHD, sedangkan 36 termasuk dalam kelompok kontrol.

"Kami melacak gerakan mata alami anak-anak saat mereka melakukan tugas yang berbeda dalam permainan realitas virtual, dan ini terbukti menjadi cara yang efektif untuk mendeteksi gejala ADHD. Tatapan anak-anak ADHD berhenti lebih lama pada objek yang berbeda di lingkungan, dan pandangan mereka melonjak lebih cepat dan lebih sering dari satu tempat ke tempat lain. Ini mungkin menunjukkan keterlambatan dalam pengembangan sistem visual dan pemrosesan informasi yang lebih buruk daripada anak-anak lain," kata Liya Merzon, seorang peneliti doktoral di Aalto University.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

Alternatif yang Menyenangkan

Salah satu keuntungan dari metode baru ini menurut Juha Salmitaival, seorang Academy Research Fellow di Aalto, adalah anak-anak menganggapnya lebih menarik daripada tes neuropsikologi standar.

"Mereka yang tertarik dapat menggunakan EPELI sebagai bantuan dalam pekerjaan klinis mereka," kata Erik Seesjärvi, peneliti doktoral di Universitas Helsinki dan ahli saraf klinis di Helsinki University Hospital (HUH).

"Pengalamannya sangat positif. Semua neuropsikolog yang menjawab survei umpan balik setelah uji coba pertama mengatakan bahwa mereka mendapat manfaat dari penggunaan metode realitas virtual sebagai alat pelengkap dalam pekerjaan mereka."

"Game ini menyediakan daftar tugas yang mensimulasikan kehidupan sehari-hari, seperti menyikat gigi dan makan pisang. Pemain harus mengingat tugas meskipun ada gangguan di lingkungan, seperti TV menyala," kata Topi Siro, pengembang dari EPELI.

"Permainan mengukur segalanya: seberapa banyak anak mengklik kontrol dan seberapa efisien mereka melakukan tugas. Efisiensi berkorelasi dengan fungsi sehari-hari, sedangkan anak-anak dengan ADHD sering mengalami tantangan."

 

3 dari 4 halaman

Penerapannya Mungkin Melampaui Penilaian Gejala

Peneliti berharap game VR akan memiliki implikasi terapeutik yang lebih besar. Mereka dapat digunakan untuk membantu rehabilitasi ADHD selain menilai gejala.

"Kami ingin mengembangkan terapi digital berbasis gamifikasi yang dapat membantu anak-anak penderita ADHD bersemangat melakukan hal-hal yang tidak akan mereka lakukan. Sudah ada permainan yang disetujui untuk rehabilitasi ADHD di AS," kata Salmitaival.

Beberapa modifikasi memungkinkan teknik ini digunakan untuk memeriksa masalah bahasa, trauma otak, ADHD dewasa, gejala kelumpuhan otak, dan bahkan penurunan memori terkait penuaan.

'Mitra kami di Jenewa sedang mempelajari penyakit terkait penuaan. Peluang utama di cakrawala termasuk deteksi dini penyakit Parkinson dan Alzheimer, 'kata Salmitaival.

Studi ini dipublikasikan di Scientific Reports.

 

4 dari 4 halaman

Studi Abstrak

Dalam penelitian ini, 37 anak dengan gangguan hiperaktif defisit perhatian dan 36 kontrol yang biasanya berkembang (9-13 tahun) memainkan permainan memori prospektif yang nyata menggunakan layar yang dipasang di kepala dengan pelacak mata 90 Hz bawaan.

Pola gerakan mata memiliki perbedaan kelompok yang menonjol, tetapi tersebar sepanjang waktu pertunjukan penuh daripada dikaitkan dengan peristiwa atau fitur stimulus tertentu.

Pengklasifikasi mesin vektor pendukung yang dilatih pada data gerakan mata menunjukkan kemampuan diskriminasi yang sangat baik dengan 0,92 area di bawah kurva, yang secara signifikan lebih tinggi daripada ukuran kinerja tugas atau gerakan mata yang diperoleh dalam tugas pencarian visual. 

* BACA BERITA TERKINI LAINNYA DI GOOGLE NEWS

  • ADHD atau attention deficit hyperactivity disorder lebih dikenal dengan istilah hiperaktif.
    ADHD