Sukses

Buka Toko Roti di China, Pasutri Jerman Pekerjakan dan Latih Penyandang Bisu-Tuli

Liputan6.com, Jakarta Pasutri warga negara Jerman, Uwe dan Dorothee Brutzer, sudah bertahun-tahun menjalankan toko roti di Changsha, China. Namun yang berbeda dari toko lainnya, mereka mempekerjakan penyandang disabilitas bisu dan tuli.

Uwe Brutzer, yang berusia 51 tahun, sudah membuka toko roti mereka selama sekitar satu dekade. Mereka mempekerjakan dan melatih para penyandang disabilitas bisu dan tuli, agar dapat membuka opsi pekerjaan baru bagi mereka.

"Orang bisu tuli dapat bekerja dan menghidupi keluarga mereka sama seperti orang lain," kata Brutzer seperti dilansir dari Xinhua, Kamis (1/7/2021).

"Alih-alih mengandalkan belas kasihan orang lain, mereka bisa bekerja dan berteman dengan bebas. Saya pikir inilah yang disiratkan oleh 'xiaokang' (masyarakat cukup makmur," kata Brutzer.

Pasangan Brutzer tiba di Changsha pada tahun 2002, untuk bekerja di proyek bantuan anak-anak penyandang tuli yang didanai oleh sebuah organisasi amal masyarakat Jerman,

Menyadari tantangan yang dihadapi kelompok penyandang disabilitas tersebut di pasar tenaga kerja, mereka pun membuka toko roti di tahun 2011.

2 dari 5 halaman

Terdampak Pandemi

Saat ini, mereka memiliki enam karyawan bisu-tuli, dan telah melatih 20 orang penyandang bisu-tuli lainnya yang sekarang bekerja di toko roti lainnya.

Meski berada di gang yang terpencil, toko roti tersebut menjadi sangat populer. Mereka juga didukung pemerintah daerah serta para pelanggannya, untuk lebih banyak dikenal.

Keduanya pasangan yang fasih berbahasa China ini pun mendapatkan panggilan dari warga setempat yaitu Wu Zhengrong untuk Uwe, dan Du Xuehui untuk Dorothee.

Di awal 2020, toko roti mereka pun tak luput dari dampak pandemi COVID-19.

Saat dibuka lagi pada 20 Februari 2020, pekerjaan Uwe menjadi lebih sibuk karena banyak karyawannya yang tidak bisa membaca pelanggan karena mereka menggunakan masker.

3 dari 5 halaman

Kondisi Penyandang Bisu-Tuli yang Lebih Baik

"Semua orang memakai masker, jadi karyawan saya tidak bisa membaca bibir pelanggan," katanya. Alhasil, Uwe pun harus bekerja sebagai resepsionis dan kasir.

Beruntungnya, pemerintah setempat mendukung mereka dan mengirimkan disinfektan serta alkohol di hari pembukaan kembali.

Dorothee mengatakan, Tiongkok saat ini telah memiliki lebih banyak kebijakan yang bermanfaat bagi penyandang disabilitas.

"Sekarang, subsidi pemerintah telah memungkinkan anak-anak tunarungu mendapatkan alat bantu dengar atau implan koklea tepat waktu," katanya.

Uwe juga mengatakan bahwa dulu, banyak orangtua yang khawatir anaknya memakai alat bantu dengan karena takur akan mendapat diskriminasi dan stigma.

"Sekarang, banyak orang tua merasa bebas mengajak anak-anak mereka yang mengalami gangguan pendengaran untuk bermain," katanya. "Memakai alat bantu dengar tidak lagi membuat mereka merasa tidak nyaman atau mengejutkan orang lain."

4 dari 5 halaman

Infografis Akses dan Fasilitas Umum Ramah Penyandang Disabilitas

5 dari 5 halaman

Simak Juga Video Menarik Berikut Ini