Sukses

Angkie Yudistia: Jangan Panik Berlebihan, COVID-19 Bukan Wabah yang Pertama

Liputan6.com, Jakarta COVID-19 menjadi ancaman bagi setiap orang. Disabilitas, non-disabilitas, tua maupun muda. Namun, panik berlebihan bukan solusi menangani COVID-19.

Hal tersebut dinyatakan Angkie Yudistia, salah satu Staf Khusus Presiden.

"Kehati-hatian itu penting namun jangan menjadikan ruang gerak kita terbatas dan penuh ketakutan dalam menjadi kehidupan normal baru," kata Angkie dalam pernyataan tertulis Senin (8/6/2020).

Menurutnya, dunia terus beradaptasi pada perkembangan. Pandemi kali ini bukan yang pertama, ada beberapa pandemi yang harus dilewati warga dunia sebelumnya.

Ia mencontohkan, HIV AIDS pertama kali teridentifikasi dan menjadi pandemi pada tahun 1976 di Kongo, karena telah menewaskan 36 juta jiwa hingga tahun 1981.

"Apakah hari ini kita bebas dari ancaman HIV Aids? Tidak. Bahkan, belum ada obat yang benar-benar ampuh untuk menyembuhkan orang dari penyakit ini meskipun usia virus ini sudah puluhan tahun. Tapi kewaspadaan atas potensi virus menjadi protokol untuk menghindari potensi tertular."

Jauh sebelum itu, influenza yang kini dikenal flu merupakan pandemi di tahun 1918-1920 dengan tingkat kematian mencapai 20 hingga 50 juta jiwa. Di Indonesia angka kematiannya 1.5 juta jiwa saat pemerintahan Hindia Belanda, tambahnya.

"Sekali lagi, pandemi adalah virus yang tidak bisa kita prediksi. Maka, saat ini terjadi penanggulangan atas krisis dalam bentuk manajemen yang rapih dan tertib akan membantu mengurangi potensi penyebaran. Ini juga dibutuhkan ketaatan untuk berdisiplin terhadap diri sendiri. Hal yang sama berlaku bagi teman-teman disabilitas."

2 dari 3 halaman

Saling Menjaga

Angkie juga mengatakan bahwa kewaspadaan diri sejak dini harus lebih ditingkatkan.

"COVID-19 bisa menyerang siapa saja. Maka, hal terkecil yang bisa dilakukan oleh kita adalah menjaga imunitas tubuh serta higienitas diri. Pencegahan dari tertularnya wabah ini juga bisa menggunakan masker karena penyebaran COVID-19 melalui droplet."

Ia menambahkan, Di kelompok disabilitas tuli/rungu juga sudah banyak yang menggunakan masker transparan sehingga memudahkan komunikasi karena tetap bisa melihat gerak bibir. Kemudian, juga sudah ada pelindung muka atau face shield yang mudah didapat di beberapa tempat baik di toko fisik maupun marketplace.

"Ini juga memudahkan teman-teman disabilitas untuk tetap bisa berkomunikasi dengan baik."

Perhatian dari keluarga terdekat untuk mendampingi juga adalah hal penting yang terus disosialisasikan. Disabilitas ini banyak ragamnya dengan kebutuhan khusus yang berbeda-beda, katanya.

"Maka keluarga adalah garis terdepan untuk memberi panduan agar bisa saling mengingatkan dan menjaga," pungkasnya.

3 dari 3 halaman

Simak Video Berikut Ini: