Sukses

Ketika Penyandang Disabilitas Memahami Coding

Liputan6.com, Bandung - Para penyandang disabilitas mengikuti kelas coding atau pemograman komputer. Kelas yang bernama Coding Mum Difabel itu diadakan di Bandung, Jawa Barat.

Dengan lincah, para penyandang disabilitas mengetik di komputer sambil sesekali berkomunikasi menggunakan bahasa isyarat.

Dikutip dari VOAIndonesia, Senin (18/11/2019), salah satu peserta disabilitas tuli atau tunarungu Rahayu Putri Solehah mengatakan, coding adalah hal baru baginya.

"Pertama yang kemarin, apa coding itu. Aku pikir belum pernah, cobain belajar, caranya gimana masukin form sheet. Terus belajar lagi lama-lama oh baru tahu sedikit sedikit," ujar Rahayu.

Perempuan yang berkuliah desain grafis sambil berbisnis online itu mengaku ingin belajar lebih. Dia ingin belajar membuat situs belanja online.

"Susah, tapi enggak apa-apa. Tetap belajar biar lama-lama bisa, Insya Allah," ucap Rahayu.

Berbeda dengan Krisna Nugraha yang juga disabilitas tuli tunarungu. Dia mengaku terinspirasi dengan situs-situs olahraga.

"Kayak aku mencari di Google (pemain sepakbola) Neymar, website itu keren. Saya ingin seperti itu," ucap Krisna yang juga Sekretaris Gerakan untuk Kesejahteraan Tunarungu Indonesia (Gerkatin) DPC Sumedang.

Coding Mum Difabel digelar oleh Badan Ekonomi Kreatif (Bekraf) untuk mempersiapkan kelompok disabilitas masuk era digital.

Dalam kelas selama seminggu, para peserta beragam disabilitas belajar bahasa pemrograman dan mempresentasikan hasil karya mereka.

Para penyandang disabilitas diharapkan dapat menjadi pengembang web atau pemasar internet di masa depan. Program yang digagas pada 2018 ini juga digelar di Jakarta, Semarang, dan Surabaya.

 

2 dari 3 halaman

Era Digital Buka Kesempatan Baru

Di Kota Bandung, Bekraf bekerjasama dengan Art Therapy Center Universitas Widyatama yang menyediakan pendidikan diploma bagi disabilitas.

Firli Herdiana, ketua jurusan Desain Grafis mengatakan, selama ini disabilitas hanya diberi akses pekerjaan yang sedikit. Namun, era digital membuka peluang baru.

"Basic-nya sih anak-anak di art therapy itu desain. Tapi dengan peluang sekarang yang ada e-commerce banyak desain yang online sekarang, ini bisa jadi peluang buat anak-anak difabel. Bahwa mereka bisa mandiri, berkarya, dari rumah malah," ujar Firli.

Firli yang kini sedang menempuh pendidikan S2 Seni Rupa ini berharap, keterampilan digital membuat masa depan mereka lebih luas.

"Ini jadi peluang kerja bagi mereka setelah lulus. Setelah menyelesaikan pendidikan, mereka bisa mendapatkan klien. Bukan tidak mungkin bahwa order membuat website akan semakin banyak ke depan. Termasuk untuk UMKM, personal, portofolio sendiri lewat online," jelas Firli.

Sementara itu, Head of Education Kolla Prayudi Utomo mengatakan, pelatihan ini jadi cara untuk melihat potensi disabilitas muda.

"Nanti setelah mereka selesai, nanti kita arahkan. Oh saya mau jadi digital marketing, lewat sini. Saya mau jadi programmer yang lebih lanjut, lewat sini. Jadi ini semacam pintu gerbang saja," kata Yudi.

Selama menjadi pelatih di beberapa kota, Yudi menyaksikan para muridnya melesat maju.

"Mereka kita ajarin coding oh ternyata ketemu dia lebih suka ke desain atau copywriting. Karena di coding diajarin semua, kita ajarin teori warna, copywriting, tata letak, coding. Bahkan ketika presentasi websitenya jelek, presentasinya bagus. Oh kita menemukan public speaker," ucapnya.

Dia berharap semakin banyak disabilitas muda yang makin cakap di era digital.

"Jadi keliahatan spektrumnya ke mana saja, dan itu nggak disangka-sangka sejak awal," tukas Yudi.

3 dari 3 halaman

Saksikan Video Pilihan di Bawah Ini:

Loading
Artikel Selanjutnya
Mendobrak Stereotip Penyandang Disabilitas (Bagian 2): Saat Mereka Bicara Cinta
Artikel Selanjutnya
Perjuangan Remaja Tunarungu Jadi Penari Jaipong Berprestasi