Derita Pensiunan di Hong Kong, Rugi Rp 14 Miliar Gara-Gara Penipuan Berkedok Pakar Kripto

Pensiunan berusia 66 tahun di Hong Kong kehilangan Rp 14,2 miliar usai jadi korban tiga penipuan investasi kripto.

Diterbitkan 22 Maret 2026, 17:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Seorang pensiunan berusia 66 tahun di Hong Kong kehilangan sekitar USD 840.000 atau setara Rp 14,2 miliar (asumsi kurs Rp 16.956 per dolar AS) setelah menjadi korban tiga penipuan investasi kripto

Melansir Coinmarketcap, Minggu (22/3/2026), kasus ini terjadi karena korban berulang kali mempercayai orang yang mengaku sebagai “pakar mata uang virtual” yang menghubunginya melalui WhatsApp, menurut unit CyberDefender kepolisian Hong Kong.

Berdasarkan unggahan polisi pada 20 Maret, kasus bermula pada September 2025 saat korban pertama kali dihubungi oleh seseorang yang mengaku sebagai ahli investasi kripto. Pelaku menjanjikan keuntungan stabil jika korban mengikuti arahannya. 

Korban kemudian mentransfer sekitar USD 180.000 serta mengirim aset kripto ke dompet yang dikendalikan pelaku. Namun setelah itu, pelaku menghilang dan korban melaporkan kejadian tersebut ke polisi.

Kasus ini memperlihatkan bagaimana pelaku penipuan dapat kembali menargetkan korban yang sama melalui skema berulang. Modusnya dimulai dari janji “keuntungan pasti”, lalu berlanjut ke tawaran bantuan untuk memulihkan dana yang sudah hilang.

“Hidup tidak memiliki kesempatan kedua; tetapi penipuan dapat memiliki kesempatan ketiga,” tulis tim CyberDefender, memperingatkan bahwa para profesional sejati tidak mengandalkan pendekatan acak dan bahwa frasa seperti pengembalian terjamin dan informasi orang dalam adalah tanda bahaya klasik.

 

Alami Kerugian

Setelah mengalami kerugian pertama, korban mencoba mencari bantuan lain secara online. Ia kemudian menemukan pihak kedua yang juga mengaku sebagai pakar kripto dan menjanjikan pemulihan dana, namun meminta biaya jaminan sebesar USD 75.000. Setelah uang dikirim, pelaku kedua juga menghilang.

Penipuan berlanjut pada Januari ketika korban dihubungi oleh pihak ketiga melalui WhatsApp. Pelaku ini menawarkan bantuan untuk mengembalikan seluruh kerugian sebelumnya dengan syarat korban membeli kripto senilai USD 585.000 dan mengirimkannya ke alamat tertentu.

Setelah permintaan dipenuhi, pelaku kembali menghilang. Total kerugian korban dalam waktu sekitar enam bulan pun mencapai USD 840.000.

 

Kejahatan Kripto Meningkat

Peristiwa ini terjadi di tengah meningkatnya kejahatan di sektor kripto. Sepanjang 2025, platform Web3 dilaporkan mengalami kerugian hingga sekitar USD 3,95 miliar. Faktor utama penyebabnya antara lain serangan peretas yang diduga terkait negara serta lemahnya sistem keamanan.

Otoritas di berbagai negara juga mencatat meningkatnya penipuan, mulai dari phishing hingga investasi palsu. Beberapa kasus yang disorot antara lain peringatan FBI terkait token palsu di jaringan Tron, penyelidikan kasus GainBitcoin di India, serta upaya otoritas Amerika Serikat untuk menyita aset kripto senilai USD 3,4 juta yang diduga terkait penipuan lintas negara.