Harga Bitcoin Anjlok Lagi Imbas Konflik Iran

Harga Bitcoin turun di bawah USD 67.000 imbas konflik Iran. Lonjakan harga minyak jadi risiko baru bagi pasar kripto.

Diterbitkan 02 Maret 2026, 12:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Harga Bitcoin kembali tertekan di tengah ketidakpastian geopolitik di Timur Tengah. Aset kripto terbesar di dunia itu turun di bawah USD 67.000 pada Minggu malam waktu setempat, setelah sebelumnya sempat pulih dari aksi jual tajam menyusul serangan udara Amerika Serikat dan Israel ke Iran serta serangan balasan di kawasan tersebut.

Dikutip dari Yahoo Finance, Senin (2/3/2026), dalam 24 jam terakhir, Bitcoin (BTC-USD) terkoreksi sekitar 1%. Pelemahan ini terjadi bersamaan dengan penurunan kontrak berjangka saham AS, yang mencerminkan kekhawatiran investor global terhadap eskalasi konflik.

Sebelumnya, pada Sabtu dini hari, harga Bitcoin sempat anjlok ke kisaran USD 63.255 akibat meningkatnya ketegangan. Namun di hari yang sama, Bitcoin melonjak kembali menembus USD 68.000 setelah beredar laporan bahwa Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, disebut tewas.

Tak hanya Bitcoin, Ether (ETH-USD) juga terdampak. Kripto terbesar kedua tersebut diperdagangkan di kisaran USD 1.950 pada Minggu, setelah sempat merosot sekitar 10% pascaserangan.

Head of Digital Assets Fundstrat, Sean Farrell, mengatakan ketahanan kripto di tengah eskalasi geopolitik menjadi sinyal positif bagi pasar.

“Ketahanan kripto di tengah eskalasi geopolitik menjadi sinyal positif dan membuka peluang kenaikan secara taktis seiring mulai berkurangnya posisi defensif investor,” ujar Farrell kepada Yahoo Finance, Minggu.

 

Disclaimer: Setiap keputusan investasi ada di tangan pembaca. Pelajari dan analisis sebelum membeli dan menjual Kripto. Liputan6.com tidak bertanggung jawab atas keuntungan dan kerugian yang timbul dari keputusan investasi.

 

Harga Minyak Melonjak, Jadi Risiko Utama Bitcoin

Meski demikian, Farrell mengingatkan bahwa aksi jual akibat sentimen geopolitik biasanya menjadi peluang beli, selama tidak berdampak luas dan berkepanjangan terhadap ekonomi global, terutama melalui pasar energi.

Pada Minggu malam, harga minyak mentah melonjak tajam. Kontrak Brent crude (BZ=F) sempat melesat hingga 13%, sementara West Texas Intermediate (WTI) naik hampir 10%.

“Minyak mentah tetap menjadi variabel risiko utama. Setiap eskalasi lanjutan yang secara signifikan mengganggu jalur pelayaran atau aliran energi kemungkinan besar akan menghapus pandangan positif jangka pendek ini,” katanya.

Sepanjang tahun berjalan (year-to-date), Bitcoin masih terkoreksi sekitar 23% setelah mencatatkan lima bulan berturut-turut pelemahan hingga Februari lalu.

Bitcoin juga masih berjuang bangkit setelah terperosok dari rekor tertinggi sepanjang masa di level USD 126.000 pada Oktober.

Sejumlah analis Wall Street bahkan telah memangkas proyeksi akhir tahun. Skenario paling optimistis sekalipun memperkirakan Bitcoin berpotensi turun menuju USD 50.000 sebelum kembali reli pada paruh kedua tahun ini.