Liputan6.com, Jakarta - Perbandingan diri sering kali terjadi tanpa disadari dalam kehidupan sehari-hari. Kita kerap melihat pencapaian orang lain, lalu mulai menilai kemampuan diri sendiri berdasarkan hal tersebut. Kebiasaan ini menjadi salah satu bentuk tekanan sosial dalam kehidupan modern, terutama saat seseorang merasa harus selalu terlihat lebih baik di mata orang lain.
Hal serupa juga bisa terjadi dalam lingkungan keluarga, termasuk saat orang tua mulai membandingkan perkembangan anak. Perbedaan kecil, seperti kemampuan menggambar atau prestasi di sekolah, terkadang memunculkan rasa bangga, kecewa, bahkan iri. Situasi ini menunjukkan bahwa tekanan sosial dalam kehidupan modern bisa muncul dari hal sederhana di sekitar kita.
Dilansir Liiputan6.com dari laman Psychology Today, kehadiran media sosial ternyata membuat kebiasaan membandingkan diri semakin sulit dihindari. Melihat kehidupan orang lain tampak sempurna, kerap membuat seseorang merasa tertinggal atau kurang berhasil. Tanpa disadari, tekanan sosial dalam kehidupan modern memengaruhi rasa percaya diri dan cara seseorang memandang kehidupannya sendiri.
Advertisement
1. Tekanan Kompetisi yang Terasa Tanpa Henti
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3459188/original/022683600_1621386808-cowomen-cKQkMFzXHAI-unsplash_Fotor.jpg)
Pernah merasa tertinggal hanya karena melihat unggahan teman yang baru naik jabatan atau liburan ke luar negeri? Perasaan ini ternyata memiliki penjelasan ilmiah. Para peneliti mengajukan konsep yang mereka sebut Social Evolutionary Mismatch and Competition Hypothesis (SEMCH), di mana menyoroti ketidakcocokan antara cara otak manusia berevolusi dan kondisi hidup saat ini.
Intinya, manusia berevolusi untuk hidup dalam kelompok kecil berisi orang-orang yang dikenal dan merespons ancaman yang nyata serta mudah dikenali. Para peneliti berpendapat bahwa manusia tidak dirancang untuk interaksi sosial dan kompetisi sebanyak sekarang. Jose Yong, psikolog peneliti dari James Cook University Singapura, dikutip dari ScienceAlert menyatakan, "Kompetisi bukanlah hal baru, tetapi kehidupan modern bisa membuatnya terasa terus-menerus."
Menurutnya, sudut pandang evolusi bisa membantu menjelaskan mengapa orang bereaksi begitu kuat terhadap perbandingan dan rasa takut tertinggal, bahkan ketika sinyal itu datang dari orang asing atau layar. Studi ini juga mengidentifikasi tekanan lain yang membentuk kehidupan modern, termasuk perubahan iklim, kenaikan biaya hidup, ketidakpastian ekonomi, pandemi dan pesatnya perkembangan kecerdasan buatan.
2. Tekanan Perbandingan Sosial di Media Sosial
Media sosial adalah ruang favorit untuk berbagi momen, mencari inspirasi outfit, hingga mengikuti kabar artis idola. Namun, di balik feeds yang estetik, ada kebiasaan membandingkan diri yang sering muncul tanpa disadari. Remaja dan dewasa muda kerap menampilkan versi ideal diri mereka di media sosial lewat filter canggih serta editing foto dan video.
Akibatnya, dewasa muda yang melihat konten yang dikurasi dengan cermat ini sering menganggap orang lain di media sosial punya hidup yang lebih baik, sehingga rentan terhadap dampak negatif perbandingan. Sebagaimana dilaporkan dalam sebuah studi yang dipublikasikan NCBI, tinjauan sistematis dan meta-analisis terhadap 70 studi menunjukkan bahwa perbandingan sosial di media sosial berkaitan positif dengan tingkat depresi dan kecemasan yang lebih tinggi.
Melihat pencapaian orang lain bisa menjadi motivasi, asalkan tidak berubah menjadi alat untuk merendahkan diri sendiri. Kuncinya ada pada kesadaran bahwa penggunaan media sosial yang berlebihan perlu diimbangi dengan jeda yang cukup.
Advertisement
3. Tekanan Standar Kecantikan yang Tidak Realistis
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2896128/original/096025500_1567065757-roberto-delgado-webb-M6vQ5dNyG74-unsplash.jpg)
Di dunia fashion dan beauty, tren terus datang silih berganti dengan cepat. Masalahnya, masyarakat dan media sering mendorong standar kecantikan yang sulit dicapai, sehingga banyak perempuan jadi kurang percaya diri dengan penampilannya sendiri. Padahal, setiap tubuh dan wajah punya keunikan yang layak dirayakan.
Kabar baiknya, gerakan body positivity dan tren riasan "no makeup look" yang menonjolkan kulit alami semakin banyak diikuti. Banyak figur publik kini berani tampil apa adanya dan momen seperti itu jadi inspirasi bagi banyak penggemar. Pelan-pelan, definisi cantik pun bergeser menjadi lebih beragam dan inklusif.
4. Tekanan untuk Selalu Sukses dan Sempurna
Budaya "harus berprestasi" kini terasa sejak usia sekolah hingga dunia kerja. Dari target karier sampai pencapaian pribadi, banyak orang merasa harus selalu terlihat unggul. Berdasarkan laporan American Psychological Association (APA), para ilmuwan psikologi dan pakar lainnya semakin menyoroti budaya prestasi sebagai salah satu faktor yang berkontribusi pada masalah kesehatan mental anak muda.
Salah satu bentuk yang paling dikhawatirkan adalah socially prescribed perfectionism, yakni jenis tekanan sosial yang meningkat paling cepat. Bagi perfeksionis yang hidup di tengah budaya prestasi, perbandingan sosial yang sering dilakukan dapat memperparah perasaan bahwa diri mereka gagal memenuhi standar.
Tekanan untuk berprestasi juga menjadi persoalan sistemik atau menyebar, di mana berkaitan dengan masyarakat yang lebih mementingkan produktivitas daripada manusianya. Meski begitu, para ahli tetap menegaskan bahwa dorongan untuk sukses penting untuk memberi rasa tujuan, makna, kebahagiaan dan kesejahteraan, asalkan tidak berubah menjadi tuntutan untuk sempurna.
5. Tekanan Gaya Hidup dan FOMO Finansial
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9367437/original/081660600_1791348691-konstantin-shmatov-x70p5Zau7sY-unsplash.jpg)
Konten liburan, nongkrong di kafe hits, hingga haul belanja memang menyenangkan untuk ditonton. Namun, tanpa disadari tontonan ini bisa memicu keinginan untuk ikut-ikutan, bahkan di luar kemampuan finansial. Fenomena ini dikenal sebagai FOMO finansial.
Merujuk riset Empower dari Half of Americans experience “financial FOMO” hampir sepertiga atau 31 persen responden mengaku sering membandingkan kondisi keuangannya dengan orang lain saat menggulir media sosial. Hampir 70 persen Gen Z juga merasakan FOMO finansial saat berselancar di media sosial.
Sisi positifnya, media sosial tidak selalu jadi sumber tekanan, karena sebagian besar warga Amerika (57 persen) justru merasa lebih optimistis terhadap masa depan keuangannya berkat media sosial. Tak heran tren seperti "loud budgeting" dan konten edukasi finansial makin digemari anak muda.
6. Tekanan Budaya Kerja dan Produktivitas Berlebihan
Istilah hustle culture semakin akrab dalam kehidupan modern. Banyak orang merasa tidak tenang saat beristirahat karena takut dianggap malas atau kurang produktif. Tanpa disadari, lingkungan sosial membentuk anggapan bahwa waktu harus selalu digunakan untuk bekerja, menghasilkan uang, atau mengembangkan karier.
Pola pikir tersebut membuat seseorang terus memaksakan diri, meskipun tubuh dan pikirannya membutuhkan istirahat. Jika berlangsung dalam waktu lama, kebiasaan ini berisiko memicu stres, kelelahan mental, hingga burnout.
Di tengah tuntutan produktivitas, tren slow living dan soft life mulai menarik perhatian. Keduanya mengajak orang untuk menjalani hidup secara lebih seimbang, tanpa harus terus mengejar kesibukan. Istirahat bukan berarti malas, melainkan bagian penting dalam menjaga kesehatan fisik dan mental.
Advertisement
7. Tekanan Sindrom Superwoman dan Peran Ganda Perempuan
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4548436/original/004287000_1692767656-priscilla-du-preez-AOdELn6senM-unsplash.jpg)
Perempuan masa kini selalu menghadapi tuntutan untuk berhasil dalam berbagai aspek kehidupan. Mereka diharapkan memiliki karier cemerlang, keluarga harmonis, penampilan menarik dan kehidupan sosial aktif. Meski terlihat positif, tuntutan untuk selalu sempurna justru dapat menimbulkan tekanan dan kelelahan.
Selain menjalankan berbagai tanggung jawab, perempuan juga sering memikul beban emosional dalam keluarga maupun lingkungan kerja. Mereka diharapkan mampu menjaga perasaan orang lain, menyelesaikan masalah, serta memastikan semua berjalan baik. Jika terus dibiarkan, kondisi ini bisa memengaruhi kesehatan mental dan kesejahteraan diri.
Kini, semakin banyak perempuan mulai menyadari pentingnya membagi tanggung jawab dan menetapkan batasan. Kesadaran ini menjadi langkah penting untuk menciptakan kehidupan lebih seimbang. Menjadi perempuan hebat bukan berarti harus mampu melakukan semuanya sendiri atau selalu tampil sempurna.
8. Tekanan untuk Segera Mapan di Usia Dewasa Muda
Memasuki usia 20 hingga awal 30-an, seseorang sering dihadapkan pada berbagai pertanyaan tentang masa depan. Mulai dari kapan menikah, kapan membeli rumah, hingga pekerjaan apa yang sedang dijalani. Pertanyaan sederhana tersebut terkadang terasa seperti tuntutan, terutama saat seseorang belum mencapai hal-hal sesuai harapan lingkungan sekitarnya.
Tekanan ini semakin terasa di tengah kondisi dunia kerja dan ekonomi tidak menentu. Banyak anak muda harus menghadapi persaingan kerja, pendapatan terbatas, hingga tuntutan untuk segera mandiri secara finansial. Situasi tersebut dapat memicu kecemasan, rasa tertinggal, kesepian, bahkan burnout.
Padahal, setiap orang memiliki perjalanan hidup berbeda. Tidak semua orang harus menikah, membeli rumah, atau mencapai kesuksesan karier pada usia tertentu. Menentukan tujuan sesuai kemampuan dan kondisi pribadi jauh lebih penting, daripada terus membandingkan pencapaian diri sendiri dengan orang lain. Hidup bukan perlombaan, sehingga tidak ada salahnya menikmati setiap proses tanpa terburu-buru.
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Tekanan Sosial dalam Kehidupan Modern
Apa yang dimaksud dengan tekanan sosial dalam kehidupan modern?
Tekanan sosial dalam kehidupan modern adalah dorongan dari lingkungan, termasuk media sosial, keluarga, dan tempat kerja, yang membuat seseorang merasa harus memenuhi standar tertentu dalam penampilan, karier, gaya hidup, maupun pencapaian pribadi.
Apakah tekanan sosial selalu berdampak buruk?
Tidak selalu. Tekanan sosial yang sehat bisa menjadi motivasi untuk berkembang. Tekanan baru berdampak buruk ketika diinternalisasi secara kaku hingga memicu rasa tidak cukup, cemas, atau kelelahan.
Bagaimana cara sederhana mengurangi tekanan sosial sehari-hari?
Mulailah dengan membatasi waktu di media sosial, berhenti membandingkan diri dengan orang lain, menetapkan tujuan yang realistis, membangun lingkungan pertemanan yang suportif, dan mencari bantuan profesional bila tekanan terasa berat.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9389747/original/012986700_1793772599-Screenshot_2026-11-04_130915.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9317894/original/043579200_1786076765-Screenshot_2026-08-07_110222.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6126278/original/025631900_1779010300-Tugas__13_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9317863/original/052285500_1786075641-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-08-07T110613.668.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9389675/original/066420300_1793766998-Screenshot_2026-11-04_113505.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4653599/original/043466900_1700279714-WhatsApp_Image_2023-11-18_at_10.51.59.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355055/original/082772300_1790070742-roman-budnikov-LrmVfNfhFOw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9387840/original/049454400_1793576292-S__73179165.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5437037/original/069686000_1765195130-WhatsApp_Image_2025-12-08_at_16.01.33.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3559193/original/024993600_1630573027-vlcsnap-2021-09-02-11h09m01s068__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385978/original/063727200_1793288759-IMG-20261029-WA0009.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385027/original/054806600_1793210212-WhatsApp_Image_2026-10-27_at_8.55.27_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384251/original/014376200_1793163977-WhatsApp_Image_2026-10-26_at_16.11.48.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5193655/original/000476600_1745236051-ChatGPT_Image_Apr_21__2025__06_46_46_PM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9382249/original/070234100_1792985471-WhatsApp_Image_2026-10-25_at_09.42.1222.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4058765/original/090496100_1655735658-Vaksinasi_Flu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381694/original/075241200_1792850777-IMG-20261023-WA0078.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385440/original/011030900_1793258445-01M6340F4X18XMBXBK08G3XHJW.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9391145/original/079832900_1793874540-12325__1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3978771/original/031585400_1648575551-Dana_Darurat.jpg)