8 Ciri Orang yang Bisa Ikut Bahagia Melihat Kesuksesan Orang Lain Menurut Psikologi

Kenali 8 ciri orang yang bisa ikut bahagia melihat kesuksesan orang lain menurut kajian psikologi sehari-hari.

Diterbitkan 01 November 2026, 15:35 WIB
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Ciri orang yang bisa ikut bahagia melihat kesuksesan orang lain terlihat dari cara mereka menyikapi pencapaian teman, keluarga, maupun rekan kerja. Mereka tidak menjadikan keberhasilan orang lain sebagai alasan untuk meragukan kemampuan sendiri. Sebaliknya, mereka bisa memberikan ucapan selamat, menghargai usaha orang lain, dan tetap menjalani proses untuk mencapai tujuan pribadi.

Dalam psikologi, perasaan ikut bahagia atas keberhasilan orang lain berkaitan dengan respons emosional terhadap pencapaian orang di sekitar. Penelitian berjudul How Individuals React Emotionally to Others' (Mis)fortunes: A Social Comparison Framework yang dilakukan Lea Boecker, David D. Loschelder, dan Sascha Topolinski pada 2022 menguji hubungan perbandingan sosial dengan perasaan iri, simpati, dan kebahagiaan atas keberhasilan orang lain.

Dari sana, kemampuan menghargai pencapaian orang lain bisa terlihat dari kebiasaan sehari-hari, mulai dari cara memberikan apresiasi hingga menyikapi persaingan. Sikap ini juga berkaitan dengan cara seseorang memandang keberhasilan, hubungan sosial, dan perkembangan dirinya. Lantas, apa saja ciri orang yang bisa ikut bahagia ketika melihat orang lain berhasil? Berikut 8 pola yang bisa dikenali, dirangkum Liputan6, Minggu (1/11).

1. Tidak Menganggap Kesuksesan Orang Lain sebagai Ancaman

Orang yang bisa ikut bahagia melihat keberhasilan orang lain tidak langsung merasa posisinya terancam ketika teman atau rekan kerja mencapai sesuatu. Mereka memahami bahwa pencapaian seseorang tidak mengurangi kesempatan yang dimiliki orang lain untuk berkembang.

Ketika seorang teman mendapat promosi jabatan, misalnya, mereka bisa memberikan ucapan selamat tanpa merasa harus membandingkan pencapaian tersebut dengan perjalanan karier sendiri. Mereka juga tidak menganggap keberhasilan orang lain sebagai bukti bahwa dirinya tertinggal.

Cara pandang ini membuat mereka bisa menjaga hubungan tanpa menjadikan setiap pencapaian sebagai perlombaan. Mereka tetap memiliki tujuan pribadi dan memahami bahwa setiap orang mempunyai waktu serta proses yang berbeda dalam mencapai sesuatu.

2. Mampu Menghargai Usaha di Balik Pencapaian

Kesuksesan yang terlihat sering kali hanya memperlihatkan hasil dari proses yang dijalani seseorang. Orang yang bisa ikut bahagia biasanya memahami bahwa pencapaian tersebut melibatkan waktu, tenaga, keputusan, dan berbagai usaha yang tidak selalu diketahui orang lain.

Karena itu, mereka tidak hanya memberikan perhatian pada hasil akhir. Mereka juga menghargai perjuangan yang dilakukan seseorang untuk mencapai tujuannya, termasuk ketika proses tersebut membutuhkan pengorbanan dan menghadapi kegagalan.

Sikap menghargai usaha membuat ucapan selamat terasa lebih bermakna. Mereka bisa menyampaikan apresiasi secara langsung tanpa perlu mencari kekurangan dari pencapaian orang lain atau mengalihkan pembicaraan kepada keberhasilan diri sendiri.

3. Tidak Terus-Menerus Membandingkan Kehidupan

Setiap orang mempunyai latar belakang, kesempatan, dan tanggung jawab yang berbeda. Orang yang bisa bahagia atas pencapaian orang lain memahami bahwa membandingkan seluruh perjalanan hidup dengan satu keberhasilan orang lain tidak memberikan gambaran yang utuh.

Mereka mungkin melihat teman membeli rumah, mendapatkan pekerjaan, atau memulai usaha. Namun, mereka tidak langsung menggunakan pencapaian tersebut sebagai ukuran untuk menilai kehidupan sendiri.

Alih-alih sibuk menghitung perbedaan, mereka lebih memilih memperhatikan hal yang sedang dikerjakan. Mereka bisa menjadikan pengalaman orang lain sebagai bahan pembelajaran tanpa harus menuntut diri mencapai hasil yang sama dalam waktu bersamaan.

4. Bisa Memberikan Apresiasi Tanpa Mengharapkan Balasan

Orang yang ikut bahagia atas keberhasilan orang lain bisa memberikan ucapan selamat tanpa memikirkan apakah suatu saat mereka akan menerima perlakuan yang sama. Apresiasi diberikan karena mereka memang ingin mengakui pencapaian seseorang.

Hal ini terlihat ketika mereka bersedia mendengarkan cerita teman yang mendapat pekerjaan baru, memenangkan perlombaan, atau menyelesaikan pendidikan. Mereka memberikan perhatian tanpa berusaha mengubah pembicaraan agar kembali membahas dirinya.

Mereka juga tidak menjadikan apresiasi sebagai cara untuk mendapatkan pujian atau keuntungan tertentu. Kebiasaan tersebut membantu menjaga hubungan sosial karena orang lain merasa pencapaiannya diakui dan bisa dibagikan tanpa harus menghadapi persaingan.

5. Menjadikan Keberhasilan Orang Lain sebagai Inspirasi

Orang yang bisa ikut bahagia melihat kesuksesan orang lain tidak berhenti pada rasa kagum. Mereka juga berusaha memahami proses yang membawa seseorang mencapai hasil tersebut. Misalnya, mereka tertarik mengetahui cara teman membangun usaha atau mengembangkan kemampuan hingga mendapatkan pekerjaan yang diinginkan.

Mereka bisa mengambil pelajaran dari pengalaman tersebut tanpa merasa harus meniru seluruh perjalanan orang lain. Setiap informasi yang diperoleh digunakan untuk mempertimbangkan langkah yang sesuai dengan kebutuhan dan kemampuan sendiri.

Kebiasaan ini membuat keberhasilan orang lain menjadi sumber pembelajaran. Mereka tidak melihat pencapaian tersebut sebagai sesuatu yang harus dikalahkan, tetapi sebagai bukti bahwa seseorang bisa mencapai tujuan melalui usaha yang dijalankan.

6. Tidak Merendahkan Pencapaian Orang Lain

Salah satu ciri orang yang bisa ikut bahagia adalah tidak berusaha mengecilkan keberhasilan orang lain. Mereka tidak mencari alasan untuk menyebut pencapaian seseorang sebagai hasil keberuntungan semata atau menganggap usaha yang dilakukan tidak berarti.

Ketika mendengar teman berhasil mendapatkan pekerjaan, mereka tidak buru-buru mengomentari latar belakang keluarga, pendidikan, atau bantuan yang diterima. Mereka memahami bahwa setiap orang mempunyai perjalanan yang tidak selalu terlihat dari luar.

Mereka juga tidak menyebarkan cerita yang bertujuan mengurangi penghargaan terhadap seseorang. Jika mempunyai pendapat berbeda, mereka bisa menyampaikannya tanpa menyerang pencapaian atau merusak hubungan dengan orang yang sedang merayakan keberhasilannya.

7. Bisa Mengelola Perasaan Iri

Merasa iri ketika melihat orang lain berhasil merupakan pengalaman yang bisa dialami siapa saja. Namun, orang yang bisa ikut bahagia tidak membiarkan perasaan tersebut menguasai cara mereka memperlakukan orang lain. Mereka berusaha mengenali apa yang sebenarnya membuat dirinya merasa kurang nyaman.

Misalnya, keberhasilan teman mendapatkan pekerjaan mungkin mengingatkan seseorang pada keinginannya sendiri yang belum tercapai. Alih-alih melampiaskan perasaan tersebut dengan komentar negatif, mereka mencoba memahami kebutuhan dan tujuan pribadi.

Mereka juga menyadari bahwa merasa iri tidak harus berakhir dengan tindakan yang merugikan orang lain. Perasaan tersebut bisa dijadikan bahan untuk mengevaluasi rencana, memperbaiki kebiasaan, dan menentukan langkah yang ingin dilakukan selanjutnya.

8. Tidak Menjadikan Persaingan sebagai Dasar Hubungan

Orang yang bisa ikut bahagia melihat keberhasilan orang lain tidak mengukur hubungan berdasarkan siapa yang lebih dahulu mencapai sesuatu. Mereka bisa berteman, bekerja sama, dan saling mendukung tanpa harus selalu berada di posisi yang sama dalam kehidupan.

Ketika rekan kerja mendapatkan penghargaan, mereka tetap bisa menjalin komunikasi dan bekerja sama. Mereka tidak merasa harus menjauh atau mengubah sikap hanya karena orang lain memperoleh pengakuan atas pekerjaannya.

Mereka memahami bahwa persaingan dalam pekerjaan atau pendidikan tidak harus merusak hubungan antarmanusia. Seseorang tetap bisa mengejar tujuan pribadi sekaligus memberikan ruang bagi orang lain untuk meraih pencapaiannya.

Pertanyaan dan Jawaban Seputar Kemampuan Ikut Bahagia atas Kesuksesan Orang Lain

1. Apa istilah psikologi untuk perasaan bahagia melihat orang lain sukses?

Perasaan ini sering disebut happy-for-ness, yaitu perasaan ikut bahagia ketika orang lain mengalami keberhasilan. Istilah tersebut digunakan dalam penelitian psikologi untuk membahas respons seseorang terhadap keberuntungan atau pencapaian orang lain.

2. Mengapa seseorang sulit ikut bahagia melihat kesuksesan orang lain?

Hal ini bisa berkaitan dengan kebiasaan membandingkan diri, perasaan iri, rasa tidak aman, atau anggapan bahwa keberhasilan orang lain mengurangi kesempatan dirinya untuk berkembang.

3. Apakah merasa iri kepada orang yang sukses merupakan hal wajar?

Ya. Rasa iri merupakan salah satu respons emosional yang bisa muncul ketika seseorang melihat orang lain memperoleh sesuatu yang juga diinginkannya. Hal yang perlu diperhatikan adalah cara mengelola perasaan tersebut agar tidak merugikan diri sendiri maupun orang lain.

4. Bagaimana cara belajar ikut bahagia atas keberhasilan orang lain?

Mulailah dengan memberikan ucapan selamat, mendengarkan cerita pencapaian mereka, mengurangi kebiasaan membandingkan kehidupan, dan menjadikan pengalaman orang lain sebagai bahan pembelajaran.

5. Apakah ikut bahagia atas kesuksesan orang lain berarti tidak memiliki ambisi?

Tidak. Seseorang tetap bisa memiliki ambisi dan berusaha mencapai tujuan pribadi sambil menghargai keberhasilan orang lain. Kedua hal tersebut bisa berjalan bersamaan tanpa harus saling mengalahkan.