Liputan6.com, Jakarta - Ciri orang yang senang mengajak makan bersama dan makna kepribadiannya menurut psikologi menarik dibahas karena meja makan adalah ruang sosial paling hangat. Dari sana, kita bisa membaca cara seseorang membangun kedekatan dengan sekitarnya.
Menurut artikel Psychology Today berjudul The Upside of Eating Together, berbagi makanan dapat meningkatkan kadar oksitosin yang mendorong ikatan sosial dan kerja sama. Artinya, ajakan makan bukan sekadar basa-basi, melainkan sinyal kebutuhan terhubung.
Tentu tidak semua pengajak makan punya kepribadian yang sama. Ada yang hangat, ada yang suka memimpin, ada pula yang sedang mencari rasa aman. Berikut ciri-ciri yang sering muncul beserta makna psikologisnya, agar Anda lebih peka membacanya, Liputan6.com, Sabtu (31/10/2026).
Advertisement
1. Memiliki Kebutuhan Afiliasi yang Tinggi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381506/original/061906300_1792824223-pexels-tima-miroshnichenko-6327599.jpg)
Orang yang gemar mengajak makan biasanya punya kebutuhan afiliasi yang kuat, yaitu dorongan untuk diterima, dekat, dan menjadi bagian dari kelompok. Dalam psikologi sosial, kebutuhan ini termasuk kebutuhan dasar manusia.
Bagi mereka, makan sendirian terasa kurang lengkap, sebab makanan baru terasa nikmat saat ada teman bicara. Mereka cenderung mengingat siapa saja yang jarang bergabung dan berusaha merangkul kembali. Maknanya, mereka menilai kualitas hidup dari kualitas hubungan, bukan dari pencapaian pribadi semata. Selama tidak berlebihan, sifat ini menjadi modal sosial yang sangat berharga di lingkungan kerja maupun pertemanan.
2. Cenderung Ekstrover dan Mudah Bergaul
Ciri berikutnya adalah kecenderungan ekstroversi. Orang ekstrover mendapat energi dari interaksi, sehingga makan bersama menjadi cara alami untuk mengisi ulang tenaga. Mereka biasanya luwes memulai obrolan, ramah kepada orang baru, dan tidak canggung menjadi pihak yang pertama berkata, "Yuk, makan bareng."
Menariknya, Psychology Today juga menyinggung penelitian pada burung Great tits yang menunjukkan bahwa kepribadian memengaruhi siapa yang nyaman mengatur tempat makan, dan individu yang lebih berani suka makan bersama kelompok. Tentu manusia jauh lebih kompleks, tetapi pola ini memberi gambaran bahwa kepribadian ikut memengaruhi kebiasaan makan sosial.
Advertisement
3. Memiliki Empati dan Kepedulian yang Tinggi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5498251/original/036177200_1770701650-pexels-shvets-production-9050092.jpg)
Banyak pengajak makan sebenarnya sedang menunjukkan kepedulian. Mereka peka terhadap teman yang tampak lelah, murung, atau kesepian, lalu mengajaknya makan sebagai cara halus untuk hadir. Secara psikologis, ini mencerminkan empati afektif, yakni kemampuan merasakan kondisi emosional orang lain.
Mereka jarang menanyakan masalah secara frontal, tetapi menyediakan ruang aman lewat suasana santai di meja makan. Maknanya, orang tipe ini sering menjadi tempat bersandar bagi lingkungannya. Namun, mereka perlu menjaga batas agar tidak kelelahan secara emosional karena terlalu sering memikirkan perasaan orang lain.
4. Mengekspresikan Kasih Sayang Lewat Makanan
Bagi sebagian orang, makanan adalah bahasa kasih. Mengajak makan, mentraktir, atau membagi lauk adalah bentuk perhatian yang nyata, terutama bagi mereka yang kurang nyaman mengungkapkan perasaan lewat kata-kata. Dalam konsep bahasa cinta, perilaku ini dekat dengan quality time dan act of service.
Orang tipe ini biasanya hafal makanan favorit sahabatnya dan senang memilihkan menu yang disukai. Maknanya, mereka tulus dan murah hati, serta menilai kedekatan dari tindakan sederhana yang konsisten, bukan dari ucapan yang berlebihan.
5. Mengutamakan Kebersamaan Dibanding Gengsi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4429347/original/027942800_1684211271-pexels-marcus-aurelius-9789496.jpg)
Pengajak makan sejati umumnya tidak terlalu mempermasalahkan status. Mereka bisa duduk di warung pinggir jalan sama nyamannya dengan di restoran mewah, selama suasananya akrab. Sikap ini menunjukkan kerendahan hati dan orientasi pada hubungan, bukan pada citra diri.
Di dunia kerja, mereka sering berperan meruntuhkan sekat antara atasan dan bawahan lewat makan siang bersama. Maknanya, mereka memiliki rasa aman diri yang cukup baik sehingga tidak perlu membuktikan apa pun untuk dihargai, dan hal itu membuat orang lain merasa nyaman di dekat mereka.
6. Suka Membangun Jaringan dan Menjaga Tradisi
Ada pula pengajak makan yang berperan sebagai perekat komunitas. Mereka menginisiasi arisan, makan malam keluarga, reuni, hingga makan siang tim secara rutin. Secara psikologis, ritual makan bersama membantu kelompok memiliki identitas dan rasa kebersamaan yang stabil.
Orang tipe ini biasanya berkepribadian terorganisasi, bertanggung jawab, dan menghargai kesinambungan hubungan jangka panjang. Maknanya, mereka melihat relasi sebagai sesuatu yang perlu dirawat secara aktif, bukan dibiarkan berjalan sendiri. Tanpa mereka, banyak lingkaran pertemanan mungkin perlahan merenggang.
Advertisement
7. Terbuka dan Ingin Mengenal Orang Lebih Dalam
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9365893/original/069005500_1791200337-4.jpg)
Suasana makan yang santai membuat orang lebih mudah bercerita. Karena itu, mereka yang gemar mengajak makan sering kali ingin mengenal orang lain di luar topik formal. Ini berkaitan dengan sifat keterbukaan terhadap pengalaman dan rasa ingin tahu sosial.
Mereka senang mendengarkan cerita, bertukar pandangan, dan mencoba hidangan baru bersama. Maknanya, mereka menikmati proses menjalin kedekatan secara bertahap. Bagi orang yang diajak, undangan ini biasanya terasa tulus karena tujuannya memang memahami, bukan sekadar mencari keuntungan.
8. Bisa Jadi Tanda Takut Sendirian
Perlu kita akui bahwa tidak semua ajakan makan berasal dari kondisi emosional yang sepenuhnya ringan. Pada sebagian orang, kebiasaan ini dapat berkaitan dengan rasa takut ditinggal, kesepian, atau ketergantungan pada validasi sosial. Tanda yang perlu diperhatikan antara lain merasa gelisah saat harus makan sendiri, mudah kecewa ketika ajakan ditolak, atau memaksa orang lain agar selalu hadir.
Maknanya, kebiasaan yang sehat tetap perlu diimbangi kemampuan menikmati waktu sendiri. Jika perasaan ini mengganggu keseharian, berkonsultasi dengan psikolog dapat membantu. Perlu diingat pula bahwa semua ciri di atas bersifat umum dan bukan diagnosis.
Pertanyaan Seputar Ciri Orang yang Senang Mengajak Makan Bersama
Apakah orang yang suka mengajak makan pasti ekstrover?
Tidak selalu. Banyak yang ekstrover, tetapi orang introver pun bisa gemar mengajak makan, biasanya dalam lingkaran kecil dan dengan orang yang sudah akrab. Yang membedakan adalah skala dan cara mereka bersosialisasi.
Mengapa makan bersama bisa membuat hubungan lebih dekat?
Psychology Today menyebutkan bahwa berbagi makanan dapat meningkatkan kadar oksitosin, hormon yang berkaitan dengan ikatan sosial dan kerja sama. Suasana santai di meja makan juga memudahkan percakapan terbuka.
Apakah suka mengajak makan berarti seseorang kesepian?
Belum tentu. Kebanyakan orang melakukannya karena memang menyukai kebersamaan dan peduli pada orang lain. Namun, jika disertai kecemasan berlebihan saat harus sendirian, ada baiknya dievaluasi lebih lanjut.
Bagaimana menyikapi teman yang sering mengajak makan tetapi kita sedang ingin sendiri?
Tolaklah dengan sopan dan jujur, misalnya dengan menyampaikan bahwa Anda butuh waktu sendiri dan menawarkan jadwal lain. Orang yang tulus biasanya memahami, dan komunikasi yang jelas justru memperkuat hubungan.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4160798/original/079359000_1663319947-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360581/original/074488200_1790655511-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-09-29T111631.534.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360712/original/030827900_1790662146-cek_fakta_--_BLT_UMKM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8261063/original/026293200_1781677316-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-06-17T130056.370.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9387151/original/033286600_1793437034-Untitledy.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3559193/original/024993600_1630573027-vlcsnap-2021-09-02-11h09m01s068__2_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385978/original/063727200_1793288759-IMG-20261029-WA0009.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9385027/original/054806600_1793210212-WhatsApp_Image_2026-10-27_at_8.55.27_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9384251/original/014376200_1793163977-WhatsApp_Image_2026-10-26_at_16.11.48.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5193655/original/000476600_1745236051-ChatGPT_Image_Apr_21__2025__06_46_46_PM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4058765/original/090496100_1655735658-Vaksinasi_Flu.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381694/original/075241200_1792850777-IMG-20261023-WA0078.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9381185/original/054329400_1792762607-IMG-20261023-WA0048.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360246/original/072582700_1790602854-1000446717.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335798/original/047657000_1788064938-AI.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9379459/original/051652600_1792631921-WhatsApp_Image_2026-10-21_at_12.39.32.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374953/original/008947000_1792115215-1.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9387071/original/083640400_1793430032-43c71f2e-749d-497c-a0d4-5568e624cb26.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9387031/original/082842300_1793428304-HL.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4711820/original/091390600_1704881029-pexels-mikhail-nilov-9158760.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9386935/original/055718200_1793416823-080e1175-5fe1-417f-80bf-7e78d5f759a0.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9374094/original/006145900_1792035659-01M4WRR8E3QD6P0EG9V5PYFQDP.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1623499/original/054992100_1497416169-013dea58ff67b08496034d74b98b877825d446a8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9386604/original/031516100_1793351679-pexels-brett-sayles-12790536.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9307860/original/059656800_1785117040-cc449fdf-3964-4382-a91b-b1ac701f31e3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9386485/original/008208500_1793348676-pexels-sound-on-3761018.jpg)