Liputan6.com, Jakarta - Cara menghadapi orang pendendam perlu dipahami agar hubungan di rumah, sekolah, maupun tempat kerja tidak terus diwarnai konflik. Orang pendendam kerap sulit melupakan kesalahan, mengungkit masalah lama, dan membalas dengan cara yang melukai.
Melansir dari Choosing Therapy, sikap pendendam dipahami sebagai pertahanan diri yang bermusuhan ketika seseorang merasa terancam, tidak aman, atau tersinggung. Sementara itu, Mayo Clinic dalam artikel berjudul Forgiveness: Letting Go of Grudges and Bitterness menjelaskan bahwa memaafkan adalah keputusan sadar untuk melepaskan kebencian dan amarah.
Sikap tenang dan batasan yang jelas sering menjadi kunci agar Anda tidak terseret ke dalam permusuhan. Berikut adalah cara menghadapi orang pendendam dirangkum Liputan6.com dari berbagai sumber, Kamis (1/10/2026).
Advertisement
Mengapa Seseorang Bisa Menjadi Pendendam?
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363201/original/012126800_1790844272-pexels-ketut-subiyanto-4963000.jpg)
Dendam jarang muncul begitu saja. Perasaan terancam, dipermalukan, ditolak, atau harga diri yang terluka dapat membuat seseorang menyimpan amarah dalam waktu lama. Alih-alih mereda, rasa sakit itu terus dipelihara dan sewaktu-waktu muncul dalam bentuk sindiran, sikap dingin, atau upaya membalas. Dalam hubungan sehari-hari, pola ini membuat percakapan biasa terasa tegang karena lawan bicara tidak tahu kapan masalah lama akan diungkit kembali.
Choosing Therapy mencatat bahwa istilah seperti vindictive narcissist bukan diagnosis resmi, melainkan sebutan tidak resmi untuk perilaku menyimpan dendam dan mencari balasan. Karena itu, penting untuk tidak buru-buru memberi cap pada seseorang. Fokus utama sebaiknya pada perilaku yang terlihat dan dampaknya terhadap Anda.
Ciri-ciri Orang Pendendam yang Perlu Dikenali
Mengenali ciri sejak awal membantu Anda memilih sikap yang tepat. Orang pendendam biasanya menunjukkan beberapa pola berikut:
- sulit melupakan kesalahan orang lain, termasuk kesalahan kecil;
- sering mengungkit masalah lama saat terjadi perselisihan;
- mudah tersinggung dan bereaksi berlebihan terhadap kritik;
- berusaha membuat orang yang dianggap menyakitinya merasakan hal serupa;
- tidak suka kalah dan ingin selalu menang dalam perdebatan.
Satu atau dua ciri belum tentu menandakan seseorang pendendam. Namun, jika pola tersebut muncul berulang dan mulai merugikan Anda, langkah-langkah berikut dapat dipertimbangkan.
Contoh Menanggapi Orang Pendendam dalam Situasi Sehari-hari
Mengetahui teori saja sering tidak cukup, karena tekanan di lapangan membuat kita refleks membalas. Karena itu, siapkan beberapa kalimat singkat yang tenang dan tidak menyerang. Contoh berikut dapat disesuaikan dengan gaya bicara Anda sendiri.
| Situasi | Contoh tanggapan yang tenang |
|---|---|
| Kesalahan lama diungkit kembali | "Soal itu sudah kita bahas. Mari fokus pada hal yang perlu diselesaikan sekarang." |
| Disindir di depan banyak orang | "Kalau ada yang ingin disampaikan, mari kita bicarakan langsung setelah ini." |
| Dipancing berdebat lewat pesan | Jawab singkat, misalnya "Terima kasih masukannya", lalu hentikan balasan. |
| Diminta menceritakan hal pribadi | "Saya belum nyaman membahasnya. Kita bicarakan hal lain saja." |
Kalimat-kalimat tersebut tidak dimaksudkan untuk memenangkan perdebatan. Tujuannya menutup celah konflik dengan cara yang sopan, sehingga orang pendendam tidak mendapat bahan baru untuk dipersoalkan.
Advertisement
1. Batasi Interaksi yang Tidak Perlu
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363202/original/020680400_1790844272-pexels-liza-summer-6382676.jpg)
Semakin sering berinteraksi dengan orang yang mudah menyimpan dendam, semakin besar peluang munculnya konflik baru. Setiap percakapan berpotensi menjadi pintu masuk untuk mengungkit kesalahan lama.
Karena itu, batasi komunikasi hanya pada hal yang memang diperlukan, terutama bila orang tersebut adalah rekan kerja atau anggota keluarga yang tidak bisa sepenuhnya dihindari. Usahakan percakapan tetap singkat, jelas, dan berfokus pada persoalan yang sedang dibahas. Dengan begitu, kesempatan untuk memancing emosi menjadi lebih kecil.
2. Tetapkan Batasan yang Jelas dan Tegas
Batasan membantu orang lain mengetahui perilaku apa yang dapat dan tidak dapat Anda terima. Jangan ragu berkata tidak ketika permintaan atau perlakuan mereka sudah melewati batas.
Misalnya, Anda dapat memutuskan untuk tidak membalas pesan di luar jam kerja, menghindari pembicaraan pribadi, atau menolak terlibat dalam gosip dan provokasi. Sampaikan dengan nada tenang dan sopan. Kuncinya terletak pada konsistensi, sebab batasan yang sering dilanggar sendiri akan kehilangan wibawanya. Jika batasan mulai dilanggar, ulangi dengan kalimat yang sama dan tidak perlu menambah penjelasan panjang, karena penjelasan berlebihan justru membuka ruang untuk berdebat.
3. Hindari Membagikan Informasi Pribadi
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5338068/original/095038100_1756964409-brooke-cagle-g1Kr4Ozfoac-unsplash.jpg)
Orang yang pendendam dapat memakai informasi tertentu sebagai senjata ketika terjadi perselisihan. Oleh sebab itu, berhati-hatilah saat menceritakan masalah pribadi, kelemahan, rahasia, atau hal yang membuat Anda merasa rentan.
Sikap ini tetap berlaku meskipun mereka lebih dulu membuka cerita pribadi untuk membangun kepercayaan. Anda tidak wajib membalasnya dengan hal yang sama. Menjaga informasi sensitif bukan berarti Anda tertutup, melainkan melindungi diri dari kemungkinan disalahgunakan.
4. Jangan Mudah Terpancing Provokasi
Orang pendendam kerap memancing reaksi lewat kritik berlebihan, sindiran, pujian yang terasa menyakitkan, atau upaya membuat Anda cemburu. Respons emosional justru yang mereka harapkan.
Alih-alih membalas, tetaplah tenang dan jawab seperlunya. Tarik napas sebelum menanggapi, atau tunda percakapan sampai emosi mereda. Anda tidak perlu merasa harus memenangkan setiap perdebatan, karena memperpanjang konflik hanya membuat situasi semakin sulit dan menguras tenaga.
Advertisement
5. Simpan Bukti jika Mulai Menjadi Sasaran
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5498911/original/016175100_1770727371-pexels-cottonbro-7343000.jpg)
Jika perilaku mereka mulai mengarah pada fitnah, intimidasi, pelecehan, atau upaya merugikan Anda, dokumentasikan setiap kejadian. Simpan pesan, surel, tangkapan layar, atau bukti lain yang relevan, lengkap dengan tanggal dan waktunya.
Dalam situasi tertentu, usahakan komunikasi berlangsung secara tertulis atau di hadapan orang lain. Langkah ini membantu bila perkataan atau tindakan Anda kelak diputarbalikkan, dan dapat menjadi dasar ketika Anda perlu melapor ke pihak yang berwenang.
6. Pahami Pola Perilakunya, Bukan Berusaha Mengubahnya
Perhatikan apa yang biasanya memicu kemarahan mereka. Pada banyak kasus, reaksi keras muncul ketika mereka ditolak, dikritik, dipermalukan, ditantang, atau merasa kalah dari orang lain.
Memahami pola ini bukan berarti memaklumi perilakunya. Tujuannya agar Anda dapat mengantisipasi situasi dan memilih respons yang lebih aman tanpa terjebak dalam permainan emosional. Mengubah watak seseorang bukan tugas Anda, dan upaya itu sering hanya menambah ketegangan.
7. Kenali Batas Toleransi dan Ambil Tindakan bila Dilanggar
Tidak semua perilaku harus ditoleransi demi menjaga hubungan tetap baik. Tentukan batas yang benar-benar tidak dapat Anda terima, seperti ancaman, pelecehan, penguntitan, kekerasan, atau tindakan yang membahayakan keselamatan.
Jika batas itu dilanggar, jangan hanya berharap keadaan membaik dengan sendirinya. Anda dapat meminta bantuan orang yang dipercaya, melapor kepada bagian sumber daya manusia di tempat kerja, melapor kepada pihak berwenang, atau mencari bantuan profesional sesuai situasinya. Keselamatan dan kesehatan Anda selalu lebih penting daripada menjaga suasana. Bila orang pendendam tersebut berada di lingkungan kerja, catat kronologi kejadian dengan rapi agar laporan lebih mudah diproses. Bila berada di lingkungan keluarga, libatkan anggota keluarga lain yang dipercaya sebagai penengah.
Jangan Ikut Menyimpan Dendam
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4943301/original/089957100_1726156937-christina-wocintechchat-com-eF7HN40WbAQ-unsplash.jpg)
Menghadapi orang pendendam sering memunculkan rasa kesal yang ikut mengendap. Di sinilah Anda perlu menjaga diri agar tidak berubah menjadi pendendam juga. Melansir dari Mayo Clinic, memaafkan merupakan keputusan sadar untuk melepaskan kebencian dan amarah, dan hal itu dapat membawa ketenangan serta membantu seseorang melanjutkan hidup.
Mayo Clinic juga menegaskan bahwa memaafkan tidak menjamin rujuk. Seseorang tetap dapat memaafkan meski hubungan tidak dipulihkan, dan tujuan memaafkan bukan untuk memaksa orang lain berubah. Artinya, Anda boleh melepaskan amarah sambil tetap menjaga jarak dan menetapkan batasan.
Mayo Clinic juga mengingatkan bahwa bila seseorang terus memikirkan peristiwa yang menyakitkan, dendam dapat tumbuh dan membawa kemarahan serta kepahitan ke hubungan dan pengalaman baru. Untuk mencegahnya, beri ruang bagi diri sendiri untuk memproses perasaan. Anda dapat menulis jurnal, berolahraga ringan, atau bercerita kepada sahabat yang dipercaya agar beban emosi tidak mengendap terlalu lama.
Kapan Perlu Mencari Bantuan Profesional?
Jika konflik membuat Anda sulit tidur, cemas berkepanjangan, takut bertemu seseorang, atau terganggu dalam bekerja, jangan ragu mencari dukungan. Ceritakan kepada orang yang dipercaya, atau konsultasikan dengan psikolog atau tenaga kesehatan jiwa.
Kementerian Kesehatan menyediakan layanan konsultasi kesehatan jiwa lewat Healing119.id yang dapat diakses melalui panggilan ke nomor 119 ekstensi 8. Layanan tersebut bukan pengganti diagnosis atau perawatan menyeluruh dari psikolog, psikiater, maupun fasilitas kesehatan jiwa. Jika Anda menghadapi ancaman atau kekerasan, segera hubungi pihak berwenang.
Informasi dalam artikel ini bersifat umum dan bukan pengganti konsultasi dengan tenaga profesional.
Advertisement
Pertanyaan dan Jawaban Seputar Cara Menghadapi Orang Pendendam
1. Apa yang dimaksud dengan orang pendendam?
Orang pendendam adalah seseorang yang sulit melupakan kesalahan orang lain, menyimpan amarah dalam waktu lama, dan terkadang berusaha membalas. Sikap ini dapat muncul ketika seseorang merasa terancam, tersinggung, atau harga dirinya terluka.
2. Bagaimana cara menghadapi orang pendendam di tempat kerja?
Batasi interaksi pada hal yang berkaitan dengan pekerjaan, jaga komunikasi tetap singkat dan jelas, serta simpan bukti jika mulai menjadi sasaran fitnah atau intimidasi. Bila perlu, laporkan kepada atasan atau bagian sumber daya manusia.
3. Apakah orang pendendam bisa berubah?
Perubahan bergantung pada kesadaran dan kemauan orang tersebut. Anda tidak bisa memaksa seseorang berubah, sehingga fokuslah pada cara melindungi diri dan mengelola respons Anda sendiri.
4. Haruskah saya membalas agar mereka berhenti?
Sebaiknya tidak. Membalas biasanya memperpanjang konflik dan memberi mereka reaksi emosional yang diharapkan. Tetap tenang, jawab seperlunya, dan tegakkan batasan dengan konsisten.
5. Kapan harus melapor atau mencari bantuan?
Segera cari bantuan bila muncul ancaman, pelecehan, penguntitan, kekerasan, atau tindakan yang membahayakan keselamatan. Anda juga dapat mencari dukungan profesional bila konflik mulai mengganggu kesehatan mental.
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362845/original/009810400_1790832367-cek_fakta_-_bibit_ikan_tawar.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362823/original/015208400_1790831366-Cek_Fakta_Tidak_Benar_Ini_Link_Pendaftaran_-_2026-10-01T120806.334.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3912867/original/070770300_1643009764-20220124-Kapolri-raker-dengan-komisi-III-ANGGA-5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9334325/original/020353700_1787832097-cek_fakta_CPNS.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9363200/original/001753300_1790844272-pexels-enginakyurt-17459005.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5447736/original/015145700_1765962219-Vertical_500x656_-_SIXtainability.png)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362754/original/098924600_1790829492-WhatsApp_Image_2026-10-01_at_09.43.00__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362269/original/040098400_1790766180-795732a8-c861-4c22-8125-6fbfa58c0b6d.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9361300/original/000394000_1790692999-WhatsApp_Image_2026-09-29_at_9.36.27_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360089/original/_Langkah_Membumi_mengajak_mahasiswa_mempraktikkan_pemilahan_sampah_berdasarkan_kategori_organik__anorganik_dan_residu_dalam_Waste_Sorting_Competition_yang_berlangsung_sepanjang_Bulan_September_202.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9360261/original/089333200_1790604449-1790416230.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4938388/original/037330400_1725618752-WhatsApp_Image_2024-09-06_at_6.54.31_AM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2995583/original/093783600_1576227057-coline-hasle-YCnycuWG7XY-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358415/original/056465700_1790339608-IMG_2927.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9358530/original/092817600_1790359243-WhatsApp_Image_2026-09-25_at_9.24.59_PM.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9357654/original/010090000_1790271446-1000443129.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9356800/original/077671500_1790221190-WhatsApp_Image_2026-09-24_at_09.33.18.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9332646/original/012342700_1787713788-e321c65d-e224-4b30-b5f9-c7dc77968345.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4773416/original/040080600_1710484311-IMG_1730.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4247013/original/009669200_1669943393-pexels-zen-chung-5537576_1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362885/original/013102900_1790834282-Gemini_Generated_Image_sid6q2sid6q2sid6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5122341/original/046714700_1738737741-portrait-young-asian-couple-enjoying-date-spending-good-time-together-love-concept.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4564055/original/083994900_1693902510-calling-communication-connect-networking-concept.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4163304/original/068543100_1663574974-nylos-TEpcivXIa8I-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9362103/original/050782400_1790757487-pexels-technobulka-8824105.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3563668/original/031403700_1630992508-gigi-PDHwGhByXOM-unsplash_1_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9355800/original/083243400_1790142083-01M34AY1B6AKT41QB3FH60ZRKE.jpg)