IMDE Gelar Kuliah Umum Bertema “Dari Pengguna Digital Menjadi Pelaku Industri Digital”

IMDE menghadirkan kuliah umum tentang transformasi digital, mendorong peserta memahami peluang karier dan bisnis di industri digital.

Diterbitkan 21 Juni 2026, 16:00 WIB
Share
Copy Link
Batalkan

Liputan6.com, Jakarta - Era digital yang diikuti perkembangan teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence atau (AI) harus dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh semua lapisan masyarakat, terutama kalangan kampus, baik dosen maupun mahasiswa. Apabila selama ini mahasiswa maupun dosen menggunakan AI sebatas keperluan tugas atau pembelajaran, ke depan dapat menjadi bidang digital dengan memanfaatkan AI dan berbagai perangkat digital lainnya yang terus berkembang.

“Kita jangan sebatas jadi pengguna digita saja, tapi harus jadi pelaku digital. Dengan begitu, banyak keuntugan yang bisa diraih,” ujar pelaku digital Muntasir Rahman ketika memberikan kuliah umum dihadapan mahasiswa dan dosen Institut Media Digital Emtek (IMDE), di Kampus IMDE, Kompleks Emtek City, Jakarta Barat, Kamis siang hingga petang (18/06/2026).

Muntasir menceritakan perjalanan kariernya sebelum berkiprah di Singapura. Ia mengawali karier dengan mengembangkan sebuah digital wallet di Indonesia. Setelah itu, ia pindah dan menetap di Singapura untuk bekerja di Thermo Fisher Scientific, perusahaan bioteknologi asal Amerika Serikat. Kini, Muntasir telah kembali ke Tanah Air dan fokus mengembangkan perusahaan yang didirikannya, TPL Software.

Kuliah umum terkait mata kuliah “Literasi Digital’ yang diampu oleh dosen drs. Suradi, M.S,i ini dimaksudkan agar mahasiswa selaian mendapatkan banyak teori di kelas soal literasi digital, mereka juga memahami perkembangan terbaru dari paraktisi teknologi digital. Suradi berharap dengan model tambahan uliah umum, mahasiswa IMDE akan mendapat lebih banyak pengetahuan terapan soal digital.

Sementara Ketua Prodi Produksi Media IMDE, Teguh SetiawanM.S,i dalam sambutan pembuka kuliah umum mengatakan, mahasiswa harus menggali lebih banyak ilmu dan pengetahuan dari pakar dan praktisi ini. Apalagi pada semester 6 nanti ada mata kuliah “AI for Content Creation” dan dalam keseharian kalian juga sering menggunakan AI, maka momen kuliah umum ini sangat penting.

“Saya sebagai dosen dan Ketua Prodi, sekarang baru masuk fase pengguna, belum pelaku, baru masih coba-coba. Suatu saat enggak tahu mungkin nanti akan mengikuti jejak Pak Muntasir sebagai pelaku digital, amin,” kata Teguh.

Muntasir Rahman yang sehari-hari adalah Direktur Utama TPL (Teknologi Piranti Lunak) Sofware dengan gamblang menjelaskan bagaimana perkembangan teknologi digital saat ini sudah tidak bisa dilepaskan dari semua urusan manusia. Karena teknologi itu sangat berguna dan ada juga dampak buruknya, ia mengingatkan agar kita , terutama mahasiswa menerapkan etika dalam penggunaan teknoogi digital ini. Beragam dampak buruk digitalmemang sangat mengkhawatirkan, mulai pornografi, judi online, dan banyak penipuan berbasis digital.

“Dampak buruk ini yang harus kita cegah,” tandasnya.

Kebetulan juga, dan fokus Muntasir ketika itu di bidang penggunaan teknologi informasi yang beretika kira. Jadi ada beberapa, karena di awal-awal karirnya bidang teknologi informasi itu juga digunakan untuk hal-hal yang kurang beretika sebenarnya. Secara legal, “Bukan judi, bukan ini. Tapi tetap aja ada semacam mengeksploitasi konsumen, pengguna atau nasabah,”tambanya.

 

 

 

 

Waspadai “Attention Economy”

Lebih lanjut, Muntasir menjelaskan bahwa tahap berikutnya dalam evolusi digital adalah monetisasi. Menurutnya, perkembangan ini banyak dipelopori oleh Google melalui pemanfaatan data pengguna.

Ia menjelaskan bahwa setiap kali seseorang melakukan pencarian di Google, platform tersebut mengumpulkan dan membangun profil data pengguna. Data inilah yang kemudian menjadi dasar berbagai model monetisasi di era digital.

“Jadi setiap kali kita ketikan apa, akan dikumpulkan. Kemudian sehingga pada waktu dia nanti menampilkan konten digital kayak di Youtubenya, dia akan tampilkan sesuai dengan profil kita. Nah disinilah mulai terjadi semacam kejahatan ,”katanya

Karena di sini menimbulkan sebuah, ada yang sebut kejahatan yang disebut attention economy. Jadi ini teman-temannya perluas pada. Dan ini dampaknya kita rasakan sampai saat ini.

“Attention economy ini sesuatu yang menurut saya itu sesuatu yang evil gitu, misalnya jahat gitu. Artinya karena kenapa attention economy ini sesuatu yang jahat gitu ya? Karena para pembuat, pencipta kontennya atau pencipta lain-lain ini mereka tolak ukurnya adalah uang semata gitu. Apa yang bisa menghasilkan uang paling banyak buat saya gitu,” papar Muntasir.

Muntasir mengatakan bahwa sebagian penyedia platform digital lebih berfokus pada perolehan perhatian pengguna dibandingkan dampaknya terhadap pengguna itu sendiri. Menurutnya, perhatian (attention) merupakan komoditas yang langka karena waktu yang dimiliki setiap orang dalam sehari sangat terbatas.   

“Gak bisa lebih gitu kan. Waktu kita sehari cuma 24 jam, 8 jam dipakai buat tidur, 8 jam mungkin dipakai kuliah. Nah 8 jam sisanya ini para pencipta konten ini mereka akan bersaing gitu,” katanya.

Muntasir menjelaskan bahwa banyak pelaku industri digital berupaya mendapatkan market share yang paling besar atau paling dominan. Menurutnya, baik pembuat gim, kreator konten YouTube, maupun penyedia konten lainnya sering kali lebih berfokus pada bagaimana membuat pengguna terus menggunakan platform mereka. Ia mengatakan bahwa jika pengguna dapat menghabiskan waktu hingga delapan jam di suatu platform, maka hal tersebut dianggap menguntungkan bagi penyedia layanan tersebut.   

“Scroll, scroll, scroll terus gitu. Karena kalau dia scroll karena attention manusia itu gak bisa di-split gitu. Kalaupun dia di-split itu sebenarnya ada mikro-split attention gitu.Walaupun misalnya kita sambil dengerin radio, sebenarnya kita gak bisa dua gitu. Jadi kita harus split ke satu, dengerin baru ganti lagi gitu. Nah jadi attention ini adalah komoditas langkah,” katanya

Muntasir menilai bahwa komoditas paling berharga dalam era digital adalah waktu manusia. Menurutnya, waktu merupakan sumber daya yang terbatas dan tidak dapat digantikan setelah berlalu.

Ia menjelaskan bahwa umur manusia memiliki batas, begitu pula waktu yang dimiliki setiap individu. Karena itu, waktu menjadi aset yang sangat bernilai dalam kehidupan maupun aktivitas digital.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa berbagai platform dan penyedia konten berupaya menarik serta mempertahankan perhatian pengguna selama mungkin. Dalam pandangannya, kondisi tersebut menunjukkan adanya persaingan untuk menguasai waktu pengguna, yang kini telah menjadi komoditas penting dalam ekonomi digital.

Perkembangan Kecerdasan Buatan

Dalam kuliah umum ini, Muntasir juga menjelaskan tahapan perkembangan kecerdasan buatan atau AI. Pertama disebut Artificial Narrow Intelligence (ANI) lalu kedua Artificial General Intelligence (AGI) — AI Umum dan yang mutakhir Artificial Superintelligence (ASI) — AI Super

Ani adalah tahap AI yang paling umum saat ini.AI hanya bisa melakukan satu tugas spesifik dengan sangat baik. Tidak punya pemahaman umum seperti manusia. Contoh: Pengenalan wajah di HP Rekomendasi film di Netflix, dan lain-lain. Intinya: pintar, tapi terbatas pada satu bidang saja.

Perkembangan kedua, Artificial General Intelligence (AGI) — AI Umum Ini adalah tahap yang sedang dikejar oleh para peneliti. AI mampu berpikir dan belajar seperti manusia.Bisa memahami berbagai bidang, bukan hanya satu tugas. Bisa belajar hal baru tanpa diprogram ulang, mengambil keputusan kompleks, dan juga beradaptasi dengan situasi baru Sampai sekarang, AGI belum benar-benar tercapai, tapi banyak riset mengarah ke sini.

Yang paling akhir saat ini ungkap Muntasir disebut Artificial Superintelligence (ASI) — AI Super. AI akan jauh lebih pintar dari manusia dalam semua aspek: sains, kreativitas, strategi bisa berpotensi menyelesaikan masalah besar dunia (penyakit, perubahan iklim).Tapi juga berisiko jika tidak dikendalikan. Bagaimana perkembangan nnatinya AI ini? Muntasir blum dapat menjawab dengan pasti. Jadi kita ikuti saja perkembangannya. (sur)