Sukses

Kenali 5 Tanda Golden Child Syndrome, Ketika Salah Satu Anak Jadi Favorit Orang Tua

Apakah Anda tanpa sadar mempunyai "anak emas" atau golden child syndrome? Lihat tanda-tandanya.

Liputan6.com, Jakarta - Saat masih anak-anak, memiliki saudara kandung seperti kakak atau adik rasanya tidak mudah. Apalagi saat Anda merasakan bahwa orang tua Anda memfavoritkan salah satunya, pasti tahu betapa menyakitkan rasanya perasaan itu. Alhasil menjadikan Anda seperti anak yang kurang disayang.

Namun, hanya sedikit orang yang menyadari betapa buruknya sikap pilih kasih tersebut terhadap anak yang diprioritaskan dibandingkan anak lainnya. Sebab, tanpa sadar hal tersebut dikenal juga sebagai Golden Child Syndrome atau sindrom anak emas.

Bahkan, tidak jarang hal tersebut dapat memengaruhi anak, antar saudara kandung, dan hubungan antara orang tua dan anak. Meskipun pujian dan kasih sayang yang tinggi biasanya merupakan hal positif yang datang dari pengasuh, ada kemungkinan kebiasaan ini dapat berubah menjadi tidak sehat.

“Dinamika ini dapat menimbulkan beberapa konsekuensi yang tidak diinginkan,” jelas Becca Reed, ahli terapi kesehatan mental dan trauma perinatal sebagaimana kami lansir dari Best Life, Jumat (14/6/2024).

“Anak emas seringkali menginternalisasi keyakinan bahwa cinta dan penerimaan bergantung pada kemampuan mereka untuk memenuhi harapan. Hal ini dapat mengakibatkan kecemasan yang ditandai dengan perfeksionisme, tekanan kuat untuk mencapai prestasi yang berlebihan, dan kebutuhan yang berlebihan akan validasi. Di masa dewasa, pola-pola ini dapat berdampak pada kesehatan mental, hubungan, dan identitas diri mereka," sambungnya.

Sementara itu, Rachel Goldberg, seorang psikoterapis berlisensi yang berbasis di Studio City, California, mencatat bahwa Golden Child Syndrome bukanlah diagnosis yang diakui oleh Diagnostic Statistical Manual (DSM), "standar emas yang digunakan profesi kesehatan mental untuk mendiagnosis masalah kesehatan mental."

Namun, banyak orang tampaknya memahami gagasan favoritisme beracun dan mengatakan bahwa mereka pernah mengalaminya dalam keluarga mereka sendiri.

Untuk itu, ini yang perlu mengetahui tentang Golden Child Syndrome terlebih Anda sudah menjadi orang tua dan tidak mau mengulang trauma yang sama dengan anak-anak Anda. 

* Follow Official WhatsApp Channel Liputan6.com untuk mendapatkan berita-berita terkini dengan mengklik tautan ini.

2 dari 4 halaman

1. Orang Tua Memuji Terang-Terangan Salah Satu Anak

"Golden Child Syndrome biasanya mengacu pada dinamika keluarga di mana satu anak disayangi dan menerima perlakuan istimewa dibandingkan anggota keluarga lainnya," kata Goldberg.

Hal ini biasanya paling mudah dikenali ketika anak emas memiliki saudara kandung yang tidak menerima perlakuan yang sama.

“Mereka menerima banyak perhatian positif dibandingkan saudara mereka,” katanya kepada Best Life.

"Anak emas akan menerima banyak pujian, dan prestasi mereka—bahkan yang kecil sekalipun—akan disemangati dan menjadi perhatian semua orang," sambungnya.

2. Anak Mungkin Memiliki Tanggungjawab dan Konsekuensi yang Salah

Seringkali, anak emas diprioritaskan dan dipandang sebagai anak yang "sempurna."

“Hal ini seringkali disertai dengan banyak harapan dan tanggung jawab, karena anak ini dipandang sebagai kebanggaan keluarga. Anak diajarkan untuk memenuhi standar yang tinggi dan mewakili cita-cita keluarga. Hal ini dapat menghasilkan identitas yang sangat terkait dengan menyenangkan orang tua. dan mencapai visi kesuksesan mereka," jelas Reed.

Namun, ada dua kemungkinan yang bisa terjadi. Kadang-kadang, anak emas diberi tanggung jawab yang lebih kecil dan konsekuensi yang lebih kecil dibandingkan saudara kandungnya, berkat status istimewa mereka.

“Anak emas bebas dari keharusan berbuat lebih sedikit, dan karena peraturan yang mereka langgar, konsekuensinya kurang diakui,” kata Goldberg.

3 dari 4 halaman

3. Saudara Kandung Sering Dibandingkan Secara Negatif

Kadang-kadang, perbandingan antara saudara kandung bersifat terang-terangan, dan orang tua bahkan menggunakannya untuk secara sengaja mempermalukan saudara kandung yang kurang disayangi.

“Anak emas seringkali muncul ketika mendiskusikan kekecewaan dengan saudaranya yang lain. Contohnya adalah, 'Mengapa kamu tidak bisa belajar sebanyak kakakmu?'” kata Goldberg.

Selama bertahun-tahun, hal ini dapat mengikis hubungan saudara kandung, menggantikan kasih sayang dan persahabatan dengan kepahitan dan kecemburuan.

“Seiring bertambahnya usia, mereka mungkin akan lebih banyak berdebat dengan saudaranya karena saudaranya tidak lagi menerima peran mereka sebagai anak yang lebih kecil dan mulai melawan. Hal ini dapat menciptakan dinamika di mana anak emas tidak dapat menghadapi fakta dan terus-menerus berkelahi, merasa mereka selalu berada di pihak yang benar," kata terapis.

4 dari 4 halaman

4. Anak Selalu Mencoba untuk Perfeksionis

Perfeksionisme adalah ciri lain dari Golden Child Syndrome.

“Mereka berusaha mencapai kesempurnaan, takut kesalahan akan mengecewakan orang tua mereka,” kata Reed.

Harga diri mereka sangat bergantung pada pujian dan pengakuan orang tua. Hal ini dapat meluas ke hubungan lain seiring mereka tumbuh dewasa. Hanya dengan berprestasi—dan tidak melakukan kesalahan—mereka merasa akan diterima dan dicintai oleh orang-orang dalam hidup mereka.

5. Berusaha Menyembunyikan Kegagalannya

Karena anak emas merasa perlu untuk menjadi sempurna, mereka mungkin juga berusaha menyembunyikan kegagalan yang mereka rasakan.

“Anak emas, yang ingin mempertahankan statusnya, mungkin merasa harus menyembunyikan hal-hal yang menurutnya akan mengecewakan orang tuanya dan mungkin merasa bersalah karenanya. Misalnya, seorang anak mungkin menyembunyikan nilai ujiannya karena tidak mendapat nilai A. atau mungkin bersikap keras terhadap diri mereka sendiri dan merasa seharusnya mereka belajar lebih giat lagi,” ucap Goldberg.

Pada akhirnya, hal ini dapat menghalangi terciptanya hubungan yang terbuka dan jujur, yang membuat anak merasa bahwa mereka dapat tampil dalam keluarga sebagai diri mereka yang seutuhnya.

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.