Sukses

4 Resep Minuman yang Ramah untuk Pengidap Diabetes

Liputan6.com, Jakarta - Bagi pengidap diabetes, apa yang Anda minum dalam rutinitasmu sama pentingnya dengan apa yang Anda makan.

Segelas minuman manis bisa memengaruhi kadar gula darahmu. Ini karena apa pun yang cair dan mengandung karbohidrat akan dicerna lebih cepat daripada sesuatu yang Anda kunyah. Ini akan menghasilkan lonjakan gula darah yang lebih cepat.

Jika Anda mengidap diabetes tipe 2, maka semua minuman manis seperti soda, minuman ringan, minuman energi, teh manis dan bahkan jus buah tidak boleh dikonsumsi. Anda perlu menggantinya dengan pilihan minuman rendah gula, bebas gula, nol atau rendah kalori.

Memilih minuman yang tepat bisa membantumu mengelola gejala dan mempertahankan berat badan yang sehat.

Untuk itu, berikut beberapa pilihan minuman yang menyegarkan dan sehat, ramah diabetes yang bisa Anda coba, seperti melansir dari Times of India, Kamis (23/6/2022),

1. Limun bebas gula

Anda bisa dengan cepat membuat limun bebas gula sendiri di rumah. Dengan hanya menggunakan beberapa bahan sederhana, Anda bisa membuat minuman rendah karbohidrat yang menyegarkan ini.

Untuk menyiapkan minuman sederhana ini, campurkan air dingin dengan jus lemon segar. Anda bisa menambahkan es dan menikmati minuman tanpa gula atau memilih pemanis bebas gula. Alih-alih gula putih, pilihlah gula merah.

2. Teh herbal

Jika Anda pecinta teh, maka Anda bisa mengonsumsi teh tanpa pemanis dalam jumlah sedang. Anda bisa memilih dari teh hijau, hitam, putih, atau oolong. Penelitian telah menunjukkan bahwa teh hijau memiliki efek positif pada kesehatan.

Sebuah studi kohort besar tahun 2021 terhadap lebih dari setengah juta orang telah menemukan bahwa konsumsi teh hijau setiap hari bisa menurunkan risiko diabetes tipe 2.

Untuk sentuhan yang menyegarkan, Anda bisa membuat es teh sendiri dan menambahkan beberapa iris lemon. Pilihlah teh herbal seperti teh chamomile, kembang sepatu, jahe dan peppermint menjadi pilihan yang sangat baik untuk pengidap diabetes.

Teh herbal tanpa pemanis bebas dari karbohidrat, kalori, gula dan kaya akan senyawa antioksidan yang meningkatkan kekebalan tubuh.

 

* Fakta atau Hoaks? Untuk mengetahui kebenaran informasi yang beredar, silakan WhatsApp ke nomor Cek Fakta Liputan6.com 0811 9787 670 hanya dengan ketik kata kunci yang diinginkan.

2 dari 4 halaman

3. Membantu menurunkan berat badan

Mentimun adalah salah satu pilihan penurunan berat badan terbaik dan termudah yang tersedia secara alami. Bahkan, banyak ahli yang menganggapnya sebagai buah yang wajib dimiliki saat seseorang sedang berusaha menurunkan berat badan.

Mentimun tidak hanya mudah dan ringan di perut, tapi juga mengandung serat dan kandungan air yang baik, dan menjadi pilihan makanan rendah kalori yang sangat baik untuk dimiliki.

Buah hijau ini juga mengandung vitamin dan mineral penting lainnya yang dibutuhkan untuk membuah kelebihan lemak-protein (2 gram), karbohidrat (11 gram), vitamin K (62% RDI), magnesium dan potassium juga. Bukan hanya itu, mentimun juga tidak mengandung lemak.

4. Meredakan sakit dan nyeri sendi

Jika Anda sering mengalami nyeri sendi, nyeri otot, pastikan makanan Anda banyak mengandung mentimun dan salad hijau lainnya.

Mentimun, tidak hanya baik untuk kesehatan kulit juga meningkatkan tulang dan otot yang lebih kuat. Selain itu, mentimun juga bekerja sebagai agen penyembuhan yang baik untuk sakit dan nyeri.

Faktanya, banyak individu percaya mentimun menjadi obat alami untuk meredakan rasa sakit kronis dan gejala yang berhubungan dengan radang sendi.

Studi tertentu menunjukkan bahwa mentimun, dengan efek pendinginnya, bisa mencegah dan mengontrol respons inflamasi dalam tubuh dan menghasilkan enzim yang baik untuk mengurangi rasa sakit.

3 dari 4 halaman

Tanda awal diabetes yang sering diabaikan

Ketahui beberapa tanda diabetes yang sering diabaikan, seperti melansir dari Times of India.

1. Meningkatkan nafsu makan

Karena sel-sel tubuh kekurangan glukosa, tingkat energi tubuh menurun. Ini pada gilirannya memicu respons lapar. Jadi meskipun orang tersebut makan dengan benar, ketidakmampuan untuk mengatur gula darah tidak memenuhi tingkat energi seluler tubuh.

Secara sederhana, tubuh tidak mendapatkan energi yang dibutuhkan bahkan setelah makan dan itulah mengapa tubuh memberi sinyal untuk lebih banyak energi, dan oleh karena itu individu merasa lapar.

2. Penglihatan kabur

Ketika jumlah gula darah meningkat melewati ambang batas, itu mempengaruhi berbagai fungsi tubuh salah satunya yang paling menonjol adalah penglihatan kabur.

Gula darah yang berlebihan merusak pembuluh darah di mata, ini disebut retinopati dan jika tidak diobati, ini bisa menyebabkan kebutaan.

3. Pembengkakan atau mati rasa yang tidak normal di tangan dan kaki

Diabetes juga mempengaruhi sirkulasi darah sehingga individu bisa melihat pembengkakan atau juga merasakan mati rasa di tangan dan kaki.

Jika mati rasa berlangsung lebih lama dan tidak hilang, selalu disarankan untuk memeriksakan kadar gula darah.

 

4 dari 4 halaman

4. Pusing dan disorientasi

Karena tubuh tidak bisa menggunakan makanan dan glukosa sepenuhnya, kemungkinan besar individu akan mengalami kesulitan berkonsentrasi dan selalu lesu. Ini sering dikacaukan dengan perubahan suasana hati.

5. Penurunan berat badan

Jika Anda mengalami penurunan berat badan yang tidak disengaja, coba untuk segera konsultasikan dengan dokter. Penurunan berat badan adalah tanda yang sangat umum dari diabetes.

Ketika tubuh tidak mendapatkan glukosa yang cukup untuk energi, ia mencoba mengkompensasi permintaan energinya dengan cara lain yang selanjutnya mempengaruhi berat badan.

Tubuh Anda tidak bisa memanfaatkan makanan, jadi tidak peduli berapa banyak Anda makan, Anda tidak akan menambah berat badan.

6. Luka yang sulit sembuh

Tanda umum lain dari diabetes adalah keterlambatan penyembuhan luka. Di antara banyak faktor yang menunda penyembuhan luka dalam tubuh, diabetes adalah salah satu yang umum.

Sesuai laporan kesehatan, “Setiap individu yang mengalami diabetes juga memiliki masalah dengan aktiviasi sistem kekebalan. Jumlah sel pejuang kekebalan yang dikirim untuk menyembuhkan luka, dan kemampuannya untuk mengambil tindakan, sering berkurang. Jika sistem kekebalan Anda tidak bisa berfungsi benar, penyembuhan luka lebih lambat dan risiko infeksi lebih tinggi.”